Published On: Fri, Jan 6th, 2017

60 Persen Tanaman Kopi Di Tiga Desa Kecamatan Betara Mati

Share This
Tags
= 494
Warga Desa Muntialo, Desa Serdang Jaya dan Desa Mandala Jaya, Kecamatan Betara Mengadu ke Dewan, Kamis (05/1/17)

Warga Desa Muntialo, Desa Serdang Jaya dan Desa Mandala Jaya, Kecamatan Betara Mengadu ke Dewan, Kamis (05/1/17)

LINTASTUNGKAL.COM, KUALA TUNGKAL – Dampak banjir yang terjadi pada akhir tahun 2016 lalu, sekitar 60 persen tanaman kopi warga di Kecamatan Betara banyak yang mati.  Karenanya warga mengadukan nasib ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Hal ini diungkapkan langsung oleh warga, kades dan camat di hadapan DPRD Tanjab Barat.

“Dampak banjir tahun 2016 lalu, sebanyak 60 persen tanaman kopi warga mati karena terendam banjir,” ungkap Camat Betara Wanwan Irawan, Kamis (5/1).

Camat menegaskan bahwa kematian tanaman kopi itu memang disebabkan oleh banjir. Sebab, berdasarkan PPL kecamatan kepadanya, bahwa ketika akar tanaman kopi terendam merenggangkan diri dari tanah. Lalu, ketika air surut dan terkena panas matahari, maka panasnya itu dapat membakar akar. Akibat kejadian itu, maka dapat dipastikan tanaman kopi akan mati.

“Panas matahari setelah kemarau kemarin itu terasa sangat membakar. Mungkin karena proses kemarau dan belum merekatnya kembali akar dengan tanah. Makanya banyak tanaman kopi yang mati,” ujar Camat.

BACA JUGA : Kebuh Terendam, Warga Tiga Desa Kecamatan Betara Ngadu Kedewan

Tanaman kopi yang banyak mati berada di tiga desa, yakni Muntialo, Sedang Jaya dan Mandala Jaya. Akan tetapi, Camat sendiri belum mendapatkan data pasti mengenai luasan tanaman kopi yang mati.

Saat ini tanaman kopi itu dibiarkan begitu saja oleh para petani. Dimana, proses yang teramati oleh pihak warga bahwa daun kopi menguning, lalu menggugurkan daun. Dan petani mengaku sangat merugikan. Terlebih, saat ini kopi dari Kecamatan Betara sudah mendapatkan sertifikasi internasional untuk Liberika Tungkal komposit.

“Sungguh disayangkan bila dampak banjir sampai begitu luas. Matinya tanaman kopi ini jelas merugikan warga. Sebab, dari situlah perekonomian warga bergantung selain pinang dan tanaman lain,”ucap Camat.

Maka dari itu, Camat juga berharap pada pihak dan instansi terkait untuk membantu mencarikan solusi terhadap persoalan banjir yang melanda. Dirinya tidak ingin kejadian serupa terulang lagi setiap tahun.

Dalam hearing dengan Komisi II DPRD Tanjab Barat, petani yang terkendala dampak langsung pun menyampaikan keluhannya.

Taufik Hidayat, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Mandala Jaya mengatakan bahwa sisa tanaman kopi yang ada di desanya kini hanya 20 persen saja. Perekonomian masyarakat terpukul akibat matinya tanaman kopi tersebut.

“Kini luas kebun kopi hanya 20 persen saja. perekonomian warga sangat terpukul,” ungkap Taufik Hidayat.

Dirinya merunut bahwa pada tahun 1995 juga terjadi banjir yang cukup besar dan menenggelamkan kebun warga. Akan tetapi tanaman warga tidak banyak yang mati. Apalagi sampai berdampak pada perekonomian warga. Namun, kini banjir tersebut memberikan dampak terhadap banyaknya tanaman warga yang mati.

“Sebenarnya kami curiga bahwa air yang menggenangi lahan pertanian ini mengandung racun. Sebab, bukan hanya tanaman kecil, bahkan tanaman sawit yang umur 6 tahun juga mati. Apalagi tanaman kopi,”ujarnya.

Pernyataan Taufik juga senada dengan Zamhari, warga Serdang. Bahwa pada tahun 80 setiap tahun rutin terjadi banjir. Tetapi tanaman warga tidak ada yang mati. Maka dari itu, dirinya curiga bahwa luapan banjir itu terdampak limbah perusahaan yang dibuang ke sungai dan dibawa banjir ke perkebunan warga.

“Jika tidak mengandung zat kimia berbahaya, mungkin tanaman kami tidak akan mudah mati,”ungkapnya.

Zahmari, juga mengatakan bahwa air yang ada terlihat keruh, dan berbau tidak sedap. Maka dari itu, dirinya meminta agar pemerintah daerah membuat himbuah agar warga tidak menggunakan air Sungai Betara. Kemungkinan air itu sudah tercemari limbah berbahaya sebelum ada kepastian hasil labor dari BLHD.

Dedi Hadi, ketua Komisi II DPRD Tanjab Barat pada hearing itu meminta agar pihak-pihak terkait bersama-sama melihat ke lapangan. Meskipun kini kondisi banjir sudah mengering. Tetapi dampak yang ditimbulkan masih bisa dicek.

“Saya berharap semua pihak mau bersama-sama memeriksa ke lapangan. Kita harus membantu warga. Karena lumpuhnya perekonomian warga ini berdampak juga pada daerah,”ujar Dedi.

Dedi mengatakan bahwa pihaknya akan mengajak turun semua pihak yang terkait. Pembahasan dan pengecekan di lapangan itu juga akan disertai detil angka-angka yang dibutuhkan. Seperti luas lahan yang terdampak. Jumlah tanaman yang terdampak dan berapa warga yang terdampak. Penyebab banjir dan jalur banjir yang harus ditelusuri.

“Turun ke lapangan ini bukan mencari masalah. Tetapi untuk melihat dan menelusuri pangkal persoalan. Sehingga kita bisa memformulasikan solusi yang tepat pada pokok persoalannya,” jelasnya. (son)

Editor : Tim Redaksi

About the Author

Profile photo of admin

-

Comments on Facebook

IKLAN LEBARAN BUPATI
Skip to toolbar