indexexchange.com, 192806, RESELLER, 50b1c356f2c5c8fc smaato.com, 1100042823, RESELLER, 07bcf65f187117b4 opera.com, pub5766157273984, DIRECT, 55a0c5fd61378de3 pubmatic.com, 158565, RESELLER, 5d62403b186f2ace yahoo.com, 58935, RESELLER, e1a5b5b6e3255540 appnexus.com, 13227, RESELLER
    LIVETV
Menyonsong Pemilu 2024, Bawaslu Tanjab Barat Kunjungi Kantor DPC PDI Perjuangan Terima Penghargaan Capaian Vaksinasi dari Kapolres, Agus Purba Ucapkan Terima Kasih ke Masyarakat Kumpeh Ulu Penyuluhan Pola Hidup Sehat dan Penyakit Kronis di Korem 042/Gapu Lengkapi Syarat Ini, Tenaga Honorer di Tanjab Barat Serbu Dukcapil 4 Tips untuk Digitalisasi Bagi UMKM di 2022

Home / Berita

Selasa, 15 Desember 2020 - 13:38 WIB

Gerhana Matahari Total Akan Muncul di Indonesia, Berikut Kata BMKG dan Lapan

FOTO : Ilustrasi Gerhana Matahari/Ist

FOTO : Ilustrasi Gerhana Matahari/Ist

KUALA TUNGKAL – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan Gerhana Matahari Total tidak terjadi setiap tahun.

Kepala Bidang Geofisika Potensial dan Tanda Waktu, Hendra Suwarta Suprihatin menuturkan GMT tergantung pada posisi Bulan, Bumi, dan Matahari.

“Di seluruh dunia, tidak bisa dikatakan terjadi setiap tahun karena tergantung posisi Bulan, Bumi, dan Matahari,” ujar Hendra seperti dilangsir dari laman CNNIndonesia.com, Senin (14/12/20).

Hendra menyampaikan GMT terdekat akan terjadi pada 2021.

Kemudian juga akan terjadi pada 2023, 2024, dan 2026. Namun, dia mengatakan GMT tidak terjadi di lokasi yang sama. Di lokasi yang sama, dia berkata akan berulang sekitar 350 tahun.

Di Indonesia, Hendra menuturkan GMT akan bisa disaksikan lagi pada 20 April 2023. Namun, dia mengatakan lokasinya berbeda dengan GMT di Indonesia pada Maret 2016.

BACA JUGA :  Terima Penghargaan Capaian Vaksinasi dari Kapolres, Agus Purba Ucapkan Terima Kasih ke Masyarakat Kumpeh Ulu

Berdasarkan data, dia mencatat GMT pada 2023 terjadi saat berlangsungnya Gerhana Matahari Hibrida (GMH).

Lokasi GMT dan GMH pada tahun 2023 adalah di Nusa Tenggara Timur dan Papua.

“GMH adalah terlihatnya Gerhana Matahari Cincin di suatu daerah, yang di saat yang sama puncak gerhananya adalah Gerhana Matahari Total (GMT) di daerah atau lokasi lain di Bumi,” ujarnya.

Hendra menambahkan alasan warga Indonesia tidak bisa menyaksikan GMT hari ini. Dia menyebut hal itu terjadi karena lintasan GMT kali ini tidak melintasi Indonesia.

“Selain itu, Indonesia sudah malam atau matahari sudah terbenam saat terjadi GMT kali ini,” sebutnya.

BACA JUGA :  Menyonsong Pemilu 2024, Bawaslu Tanjab Barat Kunjungi Kantor DPC PDI Perjuangan

Sementara melansir dari LAPAN, GMH akan terjadi pada 20 April 2023. Lokasi menyaksikan GMH adakah NTT dan Papua. Sedangkan GMT bisa disaksikan kembali di Indonesia pada 20 April 2042. Lokasi untuk menyaksikan GMT di Indonesia saat itu adalah di Sumatera dan Kalimantan.

Lapan menjelaskan bahwa GMT terjadi ketika Bulan menutupi seluruh piringan Matahari sehingga membuat korona Matahari bisa dilihat saat puncak GMT.

Sedangkan GMH adalah gerhana yang oleh sebagian pengamat dapat dilihat sebagai antara GMT dan sebagian yang lain sebagai GMC.

“Gerhana campuran seperti ini cukup langka,” tulis Lapan.(Edt*)

Share :

Baca Juga

Berita

Meski Pandemi, Warga Kota Kuala Tungkal Tetap Ramai Berburu Takjil

Berita

Jam Pimpinan, Kapolres Bungo Cek Surat Izin Senpi dan Kelengkapan Invetaris

Berita

Kasus Kekerasan Terhadap Anak Berujung Maut, PPHA Sudah Lakukan Upaya Perlindungan

Berita

Ini Pengurus BPC Gapensi Tanjab Barat Periode 2020-2025

Berita

234 Calon Tamtama PK TNI AD Ikuti Sidang Parade Di Panda Korem 042/Gapu Jambi

Berita

Anggota DPRD Tanjabbar Apresiasi Langkah PT. LPPPI Dalam Mencegah Penyebaran Covid-19

Berita

Swab 46 Medis Negatif, IGD RS KH Daud Arif Kembali Dibuka Hari Ini

Berita

Proyek Pembangunan Rigid Beton Patunas-Roro Terganggu Tiang PLN