LIVE TV
Tidak Terawat, Akses Jembatan Hutan Mangrove Pangkal Babu pada Ambrol Segera Hadir HP Samsung M62 Usung Batre 7000 mAh Warga Bahar Selatan Serahkan Senpi Rakitan ke Polisi Imbas Penundaan Haji, Sejumlah JCH Tanjab Barat Tarik Setoran BPIH Terjaring Razia Prokes, Puluhan Warga Didenda

Home / Berita

Selasa, 15 Desember 2020 - 13:38 WIB

Gerhana Matahari Total Akan Muncul di Indonesia, Berikut Kata BMKG dan Lapan

FOTO : Ilustrasi Gerhana Matahari/Ist

FOTO : Ilustrasi Gerhana Matahari/Ist

KUALA TUNGKAL – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan Gerhana Matahari Total tidak terjadi setiap tahun.

Kepala Bidang Geofisika Potensial dan Tanda Waktu, Hendra Suwarta Suprihatin menuturkan GMT tergantung pada posisi Bulan, Bumi, dan Matahari.

“Di seluruh dunia, tidak bisa dikatakan terjadi setiap tahun karena tergantung posisi Bulan, Bumi, dan Matahari,” ujar Hendra seperti dilangsir dari laman CNNIndonesia.com, Senin (14/12/20).

Hendra menyampaikan GMT terdekat akan terjadi pada 2021.

Kemudian juga akan terjadi pada 2023, 2024, dan 2026. Namun, dia mengatakan GMT tidak terjadi di lokasi yang sama. Di lokasi yang sama, dia berkata akan berulang sekitar 350 tahun.

Di Indonesia, Hendra menuturkan GMT akan bisa disaksikan lagi pada 20 April 2023. Namun, dia mengatakan lokasinya berbeda dengan GMT di Indonesia pada Maret 2016.

BACA JUGA :  Kapolsek Betara Hadiri Penutupan Pelatihan Sekolah Lapang Petani Gambut di Desa Mandala Jaya

Berdasarkan data, dia mencatat GMT pada 2023 terjadi saat berlangsungnya Gerhana Matahari Hibrida (GMH).

Lokasi GMT dan GMH pada tahun 2023 adalah di Nusa Tenggara Timur dan Papua.

“GMH adalah terlihatnya Gerhana Matahari Cincin di suatu daerah, yang di saat yang sama puncak gerhananya adalah Gerhana Matahari Total (GMT) di daerah atau lokasi lain di Bumi,” ujarnya.

Hendra menambahkan alasan warga Indonesia tidak bisa menyaksikan GMT hari ini. Dia menyebut hal itu terjadi karena lintasan GMT kali ini tidak melintasi Indonesia.

“Selain itu, Indonesia sudah malam atau matahari sudah terbenam saat terjadi GMT kali ini,” sebutnya.

BACA JUGA :  43 Desa di Tanjabbar Akan Laksanakan Pilkades Tahun Depan

Sementara melansir dari LAPAN, GMH akan terjadi pada 20 April 2023. Lokasi menyaksikan GMH adakah NTT dan Papua. Sedangkan GMT bisa disaksikan kembali di Indonesia pada 20 April 2042. Lokasi untuk menyaksikan GMT di Indonesia saat itu adalah di Sumatera dan Kalimantan.

Lapan menjelaskan bahwa GMT terjadi ketika Bulan menutupi seluruh piringan Matahari sehingga membuat korona Matahari bisa dilihat saat puncak GMT.

Sedangkan GMH adalah gerhana yang oleh sebagian pengamat dapat dilihat sebagai antara GMT dan sebagian yang lain sebagai GMC.

“Gerhana campuran seperti ini cukup langka,” tulis Lapan.(Edt*)

Share :

Baca Juga

Berita

Nanti Malam, Widi Nugroho Hello Band Bakal Meriahkan Launching Pilkada Tanjabbar 2020

Berita

288 Peserta Bakal Rebutkan 65 Kursi PPK di Tanjabbar

Berita

HUT TNI ke 75, Dandim 0419/Tanjab dan Kapolres Kunjungi Tempat Isolasi Pasein Covid-19

Berita

Bupati Minta Kades Sukseskan Gerakan Cegah Karhutla Pembuatan 114 Ton Kompos Limbah Lahan

Berita

HUT Tanjabbarat Ke 54 dan HUT RI Ke 74, Pemkab Tanjabbarat Luncurkan Bulan Layanan SDSK Gratis

Berita

30 Pasangan Berumur Di Kecamatan Seberang Kota Ikuti Isbat Nikah

Berita

Hut Bhayangkara Ke-74, Polsek Tungkal Ulu Sunatan Massal Puluhan Anak

Berita

Gubernur Jambi Serahkan Bantuan JPS Covid-19 Tahap II di Sungai Bahar