by

Jadi Pembicara Diskusi KNPI, Rocky Gerung Ingin KNPI Tanjab Barat Lahirkan Pemimpin Muda Terargumen

-Editorial-272 views
= 428

LINTASTUNGKAL.COM, KUALA TUNGKAL – Pengamat Politik Nasional sekaligus Akademisi, Rocky Gerung mengajak pemuda Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi senantiasa memproduksi pemikiran kritis dengan argumen.

Pemuda juga harus banyak belajar Critical Theory atau komponen kritik kritis. Hal itu kata dia untuk membentuk kepedulian pemuda terhadap bangsa Indonesia baik saat ini maupun akan datang.

Demikian itu ucapkan Rocky Gerung dihadapan ratusan pemuda, OKP, mahasiswa dan pelajar saat menjadi Pembicara Penegakan Hukum dan Keadilan pada acara “Training Kepemimpinan dan HAM” di Balai Pertemuan Kantor Bupati Tanjab Barat, Rabu (10/10/18).

Selain Rocky Gerung hadir juga sebagai pembicara pada acara ini, Direktur Utama Lokataru Bapak Haris Azhar dan Ketua PP Muhammadiyah Bapak Ahmad Fanani.

Bangsa Indonesia ini kata Dosen UI itu tumbuh dari lumbung generasi yang bertengkar secara argumen dan sejumlah pemikiran yang bermutu, bukan dari sejumlah stantemen.

Dicontohkannya Perundingan Agresi Belanda dimenangkan oleh Muhammad Natsir itu karena basisnya argumen yang kuat. Dan itu diakui oleh bangsa-bangsa di dunia.

Menurut Rocky Gering inti acara “Training Kepemimpinan dan HAM” ini adalah forum pikiran momentum untuk melahirkan generasi leadership bukan dialer yang hanya bertukar kepentingan di Kabupaten Tanjab Barat.

Inti dari leadership adalah mengambil keputusan, inti dari mengambil keputusan adalah membuat pertimbangan, inti dari pertimbangan adalah mengajukan kaum terargumen.

“Maka dari itu boleh saya bilang KNPI ini adalah Komite Nasional Pemikir Independen, kenapa karena anda tidak terikat dengan tutorisasi pikiran negara, anda flur dengan pikiran anda sendiri. Itu namanya Lider bukan Diler alias pelonga pelongok,” ucap dosen ilmu budaya UI itu.

Melalui kegiatan tersebut menurut Rocky, secara intuitif KNPI di Tanjab Barat telah melakukan “Final Count Down” yaitu perhitungan terakhir dengan kekuatan pikiran seperti lagu orkestra yang dibawakan pada acara ini.

Dalam perubahan kondisi bangsa saat ini, kata dia dibutuhkan pemuda kritik yang membangun. Dan kritik adalah nafas generasi milenial.

Lanjutnya kalau pemuda saat ini hanya berdiam diri dan bersikap apatis, maka bangsa ini bisa terancam.

“Kritik adalah kontrol dan bukan kebencian lo,” kata putra kelahiran Manado 1959 itu.

Editor : Tim Redaksi