Gemerlap Final yang Redup oleh Emosi
Sejak peluit pertama ditiup, tensi tinggi sudah membakar rumput lapangan. Ribuan pasang mata yang hadir untuk merayakan HUT Provinsi Jambi ke-69 disuguhi permainan kelas tinggi, namun sayang, sportivitas justru “mati suri” lebih awal.
Kericuhan pecah di tengah laga. Bukan sorak-sorai kemenangan yang membahana, melainkan teriakan kemarahan dan aksi kekerasan fisik antar pemain yang tak terkendali. Stadion yang seharusnya menjadi kuil kejujuran, mendadak berubah menjadi arena baku hantam yang memalukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sangat disayangkan, ajang bergengsi ini harus dinodai oleh aksi yang jauh dari nilai-nilai fair play,” ujar salah satu penonton yang kecewa.
Laga final yang mempertemukan dua tim kuat ini sempat terhenti akibat kericuhan di lapangan. Sebelumnya, babak pertama dilaporkan sempat berakhir imbang dengan skor 1-1.
Gubernur Jambi Terpaksa Turun ke Lapangan
Saat ketegangan memuncak dan aksi fisik mulai tak terkendali di lapangan, Gubernur Jambi, Al Haris, yang semula berada di tribun kehormatan, tertangkap kamera berlari turun ke tengah lapangan. Tanpa ragu, beliau menerobos kerumunan pemain dan ofisial yang sedang tersulut amarah. Dengan raut wajah tegas namun tenang, Al Haris berdiri di antara dua kubu yang bertikai, memasang badan untuk meredam api emosi yang nyaris membakar Stadion Swarna Bhumi.
Di tengah lapangan, Al Haris memberikan arahan tegas agar kedua tim menjaga marwah sepak bola Jambi. Beliau menekankan bahwa kalah atau menang adalah hal biasa, namun menjaga persaudaraan adalah yang utama.
“Ini adalah perayaan ulang tahun Provinsi kita. Jangan nodai hari bahagia ini dengan darah dan amarah! Kita semua saudara,” tegas Al Haris di hadapan para pemain yang tertunduk. Kehadiran langsung sang Gubernur menjadi “obat penenang” instan yang membuat pertandingan yang sempat mati suri ini akhirnya bisa dilanjutkan kembali.
Drama Adu Penalti dan Sejarah FC Koja
Meski dibayangi awan kelabu kekerasan, pertandingan harus tetap menentukan sang raja. Setelah bertarung habis-habisan dalam waktu normal yang penuh gesekan, laga berlanjut ke babak adu penalti yang mendebarkan.
Dalam tekanan mental yang luar biasa, Kota Jambi (FC Koja) akhirnya menunjukkan ketangguhan mereka. Dengan presisi dan ketenangan di titik putih, FC Koja berhasil menaklukkan Merangin dalam drama adu penalti. Kota Jambi berhasil menyarangkan 5 gol, sementara Merangin hanya mampu mencetak 4 gol.
Kiper pengganti Kota Jambi, Raden Andika (Oyek), menjadi kunci kemenangan setelah masuk di menit-menit akhir babak kedua dan berhasil menepis tendangan penalti pemain Merangin.
Kemenangan ini mencatatkan sejarah baru bagi sepak bola Kota Jambi yang berhasil membawa pulang trofi paling bergengsi di tingkat provinsi tersebut.
Juara Tanpa Senyum Sempurna
Piala Gubernur Cup 2026 kini resmi bersemayam di Kota Jambi. Namun, kemenangan ini terasa “getir”. Di balik medali emas yang dikalungkan, ada luka yang tertinggal bagi dunia sepak bola daerah. Kericuhan hari ini menjadi sinyal keras bagi Asprov PSSI Jambi bahwa evaluasi total bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Hari ini Jambi mendapatkan juaranya, namun hari ini pula Jambi kehilangan sedikit martabat olahraganya karena amarah yang tak terbentung.
Kejadian seperti ini menunjukkan perlunya evaluasi ketat dari Asprov PSSI Jambi dan pihak penyelenggara untuk memperkuat regulasi keamanan serta edukasi sportivitas bagi para atlet dan suporter agar marwah turnamen HUT Provinsi Jambi tetap terjaga.
“Hari ini Jambi mendapatkan juaranya, namun hari ini pula Jambi kehilangan sedikit martabat olahraganya karena amarah yang tak terbentung”.
#GubernurCupJambi2026 #SepakBolaJambi #KotaJambiJuara #AlHaris #Sportivitas #JambiUpdate
Penulis : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal






