Dalam perjalanan sejarahnya HMI Dipo pun sempa yg juga menegang dalam dualisme organisasi (kepengurusan). Dualisme Internal HMI Dipo sempat menjadi sorotan publik (detikNews, 9 Agustus 2021). Ketua Umum Pengurus Besar HMI, Raihan Ariatama dan Pejabat Ketum Abdul Muis Amiruddin. Keduanya sama-sama pengurus semasa Ketua Umum HMI dijabat oleh Respiratori Saddam Al Jihad bersama Sekjen Arys Kharisma periode 2018-2020. Hingga Kongres HMI ke XXXI di Surabaya. Lalu sampai pada Kongres HMI XXXIII, 7 Februari 2023 di Asrama Haji, Bekasi, resmi terpilihnya Mahfud Hanafi untuk kepengurusan tahun 2023-2025.
Sebagai organisasi kader yang tangguh pun, HMI sungguh telah membuktikan mampu melahirkan sejumlah tokoh penting di negeri ini sejak dilahirkan pada 76 tahun silam hingga 5 Februari 2024. Jika tak salah ingat, basis perkampungan kader HMI Korkom (Koordinator Komisariat) HMI Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta berada di Desa Kadipiro, Bantul.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai organisasi kader yang tangguh, HMI memang sempat penulist ikuti mulai dari Komisariat HMI Fakultas Teknik Sipil UII — dan berguru langsung kepada Prof. Drs. Lafran Pane — sebagai Pengajar Filsafat Pancasila — juga ngangsu kauruh bersama Pengurus Cabang HMI Yogyakarta dengan markas besarnya di Dagen.
Saat mendirikan HMI pada 5 Februari 1947, sekaligus sebagai Ketua Umum HMI yang pertama, Lafran Pane baru berusia 25 tahun, karena dia lahir pada 5 Februari 1922 di Kampung Pangurabaan, Sipirok, Tapanuli Selatan. Dan cerita menarik tentang Lafran Pane yang telah difilmkan dan akan mulai tayang pada Februari 2024, selalu bersepeda dari Perumahan Dosen IKIP di Kawasan Demangan Baru, menuju Kampus Pusat UII, di Jl. Cik Ditiro No. 1 Yogyakarta. Ketika itu, umumnya di Kampus UII Pusat, Jl. Tengku Cik Di Tiro No. 1, bukan saja sudah dominan memakai sepeda motor untuk datang ke Kampus, bahkan tidak sedikit ketika itu yang telah menggunakan kendaraan beroda empat. Bahkan, Anies Rasyid Baswedan pun sudah menunggangi Vespa terbarunya berwarna merah menyala sekitar tahun 1980-an.
Kecuali itu, Lafran Pane yang lahir pada 5 Februari 1922 ini, merasa perlu mengubah tanggal kelahirannya menjadi 12 April 1923, agar tidak terkesan sama dengan tanggal kelahiran HMI di Yogyakarta dahulu itu. Jadi kisah unik sosok Lafran Pane yang ugahari dan sederhana ini pun diungkap langsung oleh Dra. Tetty Sari, putri bungsu Lafran Pane, bersama abangnya, Ir. M. Iqbal Pane lewat Jurnal UIN Sunan Gunung Djati, saat Lafran Pane wafat pada 25 Januari 1991.
Penulis : Jacob Ereste
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Lintastungkal
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya