Ketika Guru Terusir dan Siswa “Menang”: Matinya Wibawa Pendidikan di Tangan Kebijakan Instan

Lintas Tungkal

- Redaksi

Rabu, 21 Januari 2026 - 18:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketika Guru Terusir dan Siswa

Ketika Guru Terusir dan Siswa "Menang": Matinya Wibawa Pendidikan di Tangan Kebijakan Instan. FOTO : Ilustrasi/LT

OPINI – Dunia pendidikan kita sedang menghadapi krisis otoritas yang mengkhawatirkan. Fenomena di mana guru dikorbankan melalui mutasi atau pemindahan tugas setiap kali terjadi bentrok dengan siswa adalah “obat penenang” yang justru menjadi racun bagi sistem pendidikan jangka panjang. Kebijakan memindahkan guru demi meredam kemarahan orang tua atau menghindari viralitas bukan sekadar solusi pragmatis, melainkan sebuah bentuk kekalahan institusi pendidikan.

1. Melegitimasi “Hukum Rimba” di Sekolah
Ketika guru yang berusaha mendisiplinkan siswa justru berakhir dengan pembuangan (mutasi), sekolah sedang mengirimkan pesan berbahaya: bahwa perilaku menyimpang siswa dan tekanan intimidatif orang tua terbukti efektif. Ini adalah preseden buruk yang “membesarkan kepala” murid. Siswa akan merasa berada di atas hukum sekolah, dan orang tua akan merasa bahwa tekanan sosial atau ancaman hukum lebih berkuasa daripada aturan akademik.

2. Guru: Profesi yang Kian Terancam dan Tak Berdaya
Tagline “Power is for Service” (Otoritas untuk Melayani) dalam hal ini telah disalahartikan. Guru memiliki otoritas untuk melayani masa depan siswa melalui kedisiplinan. Namun, jika perlindungan terhadap profesi ini melemah, guru akan masuk ke dalam mode “aman”. Mereka akan memilih untuk abai terhadap kenakalan remaja (fenomena teacher burnout dan sikap apatis) daripada harus berisiko kehilangan mata pencaharian atau dipindahkan ke lokasi yang jauh dari keluarga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

3. Mutasi Bukan Solusi, Tapi Pelarian Masalah
Memindahkan guru tidak menyelesaikan akar masalah. Jika konflik terjadi karena persoalan karakter siswa atau kurangnya dukungan orang tua, maka masalah tersebut akan tetap ada dan mungkin terulang kepada guru berikutnya. Sebaliknya, tindakan ini justru mencederai martabat guru, seolah-olah merekalah penyebab tunggal kegagalan komunikasi di sekolah.

4. Pentingnya Marwah Institusi Pendidikan
Sekolah seharusnya menjadi benteng terakhir kebenaran objektif, bukan lembaga yang tunduk pada desakan siapa yang paling keras berteriak. Jika setiap konflik diselesaikan dengan “mengusir” guru, maka sekolah tidak lagi menjadi tempat pembentukan karakter, melainkan pusat layanan pelanggan yang hanya mengutamakan kepuasan (bukan kebenaran) siswa dan orang tua.

5. Perlunya Standar Perlindungan Hukum yang Kongkrit
Sudah saatnya ada regulasi yang melindungi guru dari kriminalisasi dan intervensi berlebihan. Proses mediasi harus didahulukan, dan sanksi harus diberikan berdasarkan fakta obyektif, bukan berdasarkan desakan massa atau ketakutan akan opini publik.

Kesimpulan

Menyelamatkan wibawa guru adalah investasi masa depan. Jika kita terus membiarkan guru dikorbankan demi menyenangkan ego siswa dan orang tua yang salah arah, kita sebenarnya sedang membesarkan generasi yang tidak kenal hormat dan sistem pendidikan yang rapuh. Guru tidak boleh dipindahkan karena ia benar, dan siswa tidak boleh dimenangkan hanya karena ia merasa punya kuasa. Kejadian terbaru seperti di Jambi ini harus menjadi alarm keras. Mengorbankan guru bukan cara menyelesaikan masalah; itu adalah cara menciptakan masalah baru yang lebih besar, yakni hilangnya rasa hormat dan rusaknya tatanan pendidikan.

Penulis : Tim Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kemnaker Umumkan Tiga Besar Calon Direktur Polteknaker Periode 2026–2030
Pangkas Ego Sektoral, Bupati Anwar Sadat Instruksikan OPD Kerja Total Eksekusi Program JAMBUL
Atasi Madrasah Prihatin, Bupati Tanjab Barat Kucurkan Bantuan Rp15 Juta di Desa Adi Purwa
Panduan SPMB Kota Jambi 2026/2027: Jalur, Kuota, dan Tahapan Seleksi
Tampil Kritis dan Kompak, Tim Debat MAN IC Jambi Sukses Sabet Juara 2 LDI 2026
Tiga Siswa MAN IC Jambi Siap Wakili Muaro Jambi ke Tingkat Provinsi dalam Lomba Debat Indonesia
MAN IC Jambi Gelar Wawancara Calon Peserta Didik Baru Secara Hybrid, Perkuat Komitmen Zonasi dan Sinergi Orang Tua
SMA Al Hikmah Surabaya Perluas Jejaring Global Lewat Kunjungan Akademik ke NUS, NTU, dan USIM
Berita ini 42 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi.

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:44 WIB

Kemnaker Umumkan Tiga Besar Calon Direktur Polteknaker Periode 2026–2030

Rabu, 24 Juni 2026 - 19:36 WIB

Pangkas Ego Sektoral, Bupati Anwar Sadat Instruksikan OPD Kerja Total Eksekusi Program JAMBUL

Sabtu, 13 Juni 2026 - 07:31 WIB

Atasi Madrasah Prihatin, Bupati Tanjab Barat Kucurkan Bantuan Rp15 Juta di Desa Adi Purwa

Sabtu, 13 Juni 2026 - 07:03 WIB

Panduan SPMB Kota Jambi 2026/2027: Jalur, Kuota, dan Tahapan Seleksi

Minggu, 31 Mei 2026 - 19:46 WIB

Tampil Kritis dan Kompak, Tim Debat MAN IC Jambi Sukses Sabet Juara 2 LDI 2026

Berita Terbaru