BRAM ITAM, 3 JULI 2026 – Fasilitas halte penyeberangan atau dermaga apung di Desa Tanjung Senjulang, Kecamatan Bram Itam, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dilaporkan ambruk pada Kamis (2/7) subuh dini hari. Insiden ini mengakibatkan lumpuhnya jalur transportasi air utama masyarakat dan mengganggu aktivitas ekonomi menuju kawasan Pasar Tungkal V.
Kronologi kejadian bermula saat tiang penyangga jembatan penyeberangan patah, yang kemudian membuat bagian depan dermaga apung tenggelam sepenuhnya saat air pasang laut tiba. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa yang terjadi pada waktu subuh tersebut. Namun, dampak material langsung dirasakan oleh ratusan warga dan pedagang yang bergantung pada transportasi air (pompong) untuk mobilitas sehari-hari.
Ambruknya dermaga ini memicu keluhan besar dari masyarakat yang setiap hari memanfaatkan fasilitas tersebut untuk bekerja dan berdagang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami benar-benar kebingungan karena ini akses paling cepat untuk menyeberang membawa hasil kebun dan belanjaan ke Pasar Tungkal V. Kalau harus lewat jalur darat memutar, biayanya jauh lebih mahal dan makan waktu lama. Kami berharap pemerintah segera membuatkan jembatan darurat agar aktivitas kami tidak lumpuh total,” ujar Ahmad (42), salah seorang warga sekaligus pedagang lokal di Desa Tanjung Senjulang.
Akibat ambruknya dermaga ini, arus distribusi barang, logistik, dan penyeberangan warga dari dan menuju pusat perdagangan menjadi terhambat total. Para pedagang di Pasar Tungkal V mengeluhkan penurunan omzet dan pasokan barang yang tersendat akibat putusnya akses penyeberangan utama ini.
Pemerintah Desa Tanjung Senjulang bersama pihak Kecamatan Bram Itam bergerak cepat dengan melaporkan kejadian ini kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Tim teknis dari instansi terkait telah diterjunkan ke lokasi untuk meninjau tingkat kerusakan dan menyusun rencana penanganan darurat.
Untuk sementara waktu, operasional halte penyeberangan Tanjung Senjulang ditutup total demi keselamatan warga. Masyarakat diimbau untuk menggunakan jalur darat alternatif atau titik penyeberangan lain yang lebih aman hingga proses perbaikan darurat selesai dilakukan oleh pemerintah daerah.**
Penulis : Angah
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal.com












Komentar