JAKARTA, 22 Juli 2026 – PT Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya dalam memimpin transisi energi di sektor penerbangan dengan mempercepat pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF). Langkah strategis ini menjadi sorotan utama dalam forum tahunan 3rd Annual Indonesia Aero Summit (IAS) 2026 yang berlangsung di Jakarta hari ini.
Sebagai pelopor bahan bakar penerbangan ramah lingkungan di Indonesia, Pertamina Patra Niaga memanfaatkan forum yang diselenggarakan oleh Indonesia National Air Carriers Association (INACA) ini untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Forum tersebut mempertemukan para regulator, maskapai penerbangan, pelaku industri, penyedia teknologi, hingga perusahaan energi guna merumuskan masa depan penerbangan nasional yang rendah emisi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tiga Pilar Utama Pengembangan SAF
Dalam panel diskusi bertajuk “Accelerating the SAF Transition: From Feedstock to Flight”, Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, memaparkan tiga inisiatif utama yang sedang dijalankan perusahaan untuk mempercepat pemanfaatan SAF:
- Pengembangan Fasilitas Produksi: Membangun dan menyiapkan infrastruktur kilang serta fasilitas pendukung yang andal.
- Validasi dan Uji Coba: Melakukan uji terbang bersama maskapai domestik guna memastikan aspek keamanan dan performa bahan bakar.
- Kesiapan Pasar (Market Readiness): Membuka jalur komersialisasi dan menyiapkan ekosistem komersial sejak dini.
Melangkah Lebih Awal Menembus Pasar Internasional
Joko Pranoto mengungkapkan bahwa Pertamina Patra Niaga telah memulai riset dan pengembangan SAF sejak lima tahun lalu (2021). Langkah berani ini diambil tanpa harus menunggu pasar atau regulasi domestik terbentuk sepenuhnya.
“Tantangan komersial dalam pengembangan SAF memang masih sangat besar. Namun, kami memilih untuk bergerak lebih awal. Komitmen ini terbukti nyata; setelah sukses melakukan uji coba terbang bersama Garuda Indonesia dan Pelita Air, tahun ini kami resmi menandatangani kontrak penjualan SAF dengan salah satu maskapai internasional,” ujar Joko.
Melalui kontrak tersebut, layanan pengisian SAF Pertamina kini siap mendukung penerbangan rendah emisi dari dua gerbang udara utama Indonesia, yaitu Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Cengkareng) dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (Bali).
Tantangan Ekosistem yang Terintegrasi
Menutup pemaparannya, Joko menekankan bahwa keberhasilan implementasi SAF secara massal memerlukan pembangunan ekosistem yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Hal ini mencakup jaminan ketersediaan bahan baku (feedstock) yang berkelanjutan, kesiapan teknologi pengolahan, hingga dukungan regulasi yang mampu menyeimbangkan nilai keekonomian operasional bagi maskapai.*
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Pertamina Patra Niaga








Komentar