KUALA TUNGKAL – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 tingkat SMP di Tanjung Jabung Barat yang dimulai Kamis (09/04) menyisakan catatan kritis. Meski Bupati Anwar Sadat menyebutnya sebagai langkah strategis memetakan mutu, ujian berbasis komputer ini justru mempertegas kesenjangan sarana pendidikan di lapangan.
Di tengah keterbatasan alat yang diakui pemerintah, TKA berisiko menjadi ajang “seleksi alam” yang meminggirkan potensi siswa hanya karena sekolah mereka belum tersentuh modernisasi infrastruktur secara penuh. Tanpa percepatan anggaran yang konkret untuk memeratakan fasilitas, TKA dikhawatirkan hanya akan menjadi instrumel formalitas yang gagal menangkap potensi riil anak daerah secara utuh dan berkeadilan.
Ujian sebagai Beban, Bukan Sekadar Pemetaan
Bupati menekankan bahwa TKA bertujuan agar siswa mampu menembus sekolah unggulan dan meraih beasiswa. Namun, narasi “daya saing” ini dikritik karena seolah melempar beban prestasi sepenuhnya kepada siswa. Padahal, standar akademik yang tinggi mustahil dicapai jika fondasi dasar—seperti akses teknologi—belum merata di seluruh sekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengakuan Fasilitas Masih Jadi ‘Pekerjaan Rumah’
Dalam peninjauan di SMPN 1, 3, dan 4, Bupati mengakui adanya kendala fasilitas laboratorium komputer. Hal ini memicu pertanyaan kritis: sejauh mana validitas hasil TKA jika sarana yang digunakan belum seragam? Memaksakan standar ujian yang sama di tengah keterbatasan alat berisiko menciptakan hasil yang bias, di mana sekolah dengan fasilitas lengkap akan selalu tampak lebih “bermutu” dibanding sekolah pelosok.
Evaluasi atau Sekadarnya?
Pemkab menjanjikan hasil TKA akan digunakan untuk meninjau materi ajar dan metode pembelajaran. Namun, tanpa komitmen anggaran yang konkret untuk perbaikan infrastruktur digital di sekolah-sekolah yang tertinggal, TKA dikhawatirkan hanya menjadi rutinitas tahunan yang bersifat administratif tanpa dampak transformatif bagi guru dan murid.
Indikator Seleksi yang Menekan
Dengan dijadikannya hasil TKA sebagai salah satu syarat seleksi masuk SMA/SMK, tekanan psikologis bagi siswa SD dan SMP kian meningkat. Alih-alih mencintai ilmu, siswa terjebak dalam budaya “belajar demi tes”. Jika pemerintah tidak segera menuntaskan masalah ketimpangan fasilitas sebelum TKA SD dimulai 20 April mendatang, maka sistem ini hanya akan melanggengkan kasta dalam pendidikan di Tanjung Jabung Barat.(TIM)*
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal









![Ilustrasi: Dana zakat, infak, dan sedekah dihimpun dari masyarakat dengan niat ibadah, namun dalam praktik penyalurannya kerap tampil sebagai program bantuan yang dipresentasikan oleh pejabat di ruang publik. [FOTO: ILUSTRASI/LT]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260308-WA0008-360x200.jpg)

