REPUBLIK – Analisis tajam terhadap pernyataan Mahfud MD tersebut (Republika, 2014) mengungkap sebuah lingkaran setan korupsi moral “Rusaknya rakyat karena pemerintahnya rusak. Pemerintah rusak karena ulama saat ini juga rusak” yang terjadi secara vertikal.
Mengacu pada pemikiran Al-Ghazali, berikut adalah bedah analisisnya:
1. Krisis Keteladanan (Top-Down Decay)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Rakyat adalah cermin dari pemimpinnya (Nas ‘ala dini mulukihim).
- Analisis Mahfud menunjukkan bahwa moralitas publik tidak berdiri sendiri. Jika pemerintah menjalankan praktik kolusi dan nepotisme, masyarakat akan menganggap kecurangan sebagai “cara bertahan hidup” yang wajar. Kerusakan di akar rumput (rakyat) hanyalah gejala; penyakit aslinya ada di pucuk kepemimpinan.
2. Intelektual & Ulama sebagai “Penjaga Gerbang” yang Bobrok
- Pemerintah rusak bukan semata karena niat jahat penguasa, tapi karena hilangnya fungsi check and balance spiritual dan intelektual.
- Ulama Rusak dalam konteks ini adalah mereka yang:
- Menjual Ayat/Ilmu: Menggunakan otoritas agama atau akademik untuk membenarkan kebijakan penguasa yang zalim demi akses kekuasaan atau materi.
- Kehilangan Independensi: Terlalu dekat dengan kekuasaan sehingga tidak lagi mampu bersikap kritis. Jika “kompas moral” (ulama) sudah rusak, maka “nahkoda” (pemerintah) pasti akan kehilangan arah.
3. Teori Materialisme (Cinta Harta & Kedudukan)
- Mahfud menyoroti bahwa akar dari rusaknya ulama/intelektual adalah hubbud dunya (cinta dunia).
- Ketika tokoh agama dan ilmuwan lebih mengejar proyek atau jabatan daripada integritas, mereka akan menjadi “stempel” bagi pemerintah yang korup. Inilah yang disebut Mahfud sebagai kegagalan peran ulama dalam menjaga moralitas bangsa.
4. Dampak Sistemik: Kehancuran Peradaban
- Analisis ini menegaskan bahwa jika ulama sudah “diam” atau malah “mendukung” kebatilan, maka tidak ada lagi rem bagi keserakahan penguasa. Akibatnya, hukum akan tajam ke bawah namun tumpul ke atas, menciptakan ketidakadilan masif yang merusak tatanan sosial rakyat secara permanen.
5. Solusi: Mengembalikan Integritas Mimbar & Kampus
Analisis Mahfud menyimpulkan bahwa kunci perbaikan negara harus dimulai dari penyehatan moral para intelektual dan tokoh agama. Jika mereka berhenti menjadi “stempel” kekuasaan dan kembali menyuarakan kebenaran (mengawasi jalannya pemerintahan), maka pemerintah akan kembali ke jalur yang benar, yang pada akhirnya akan memperbaiki tatanan moral di masyarakat.
Kesimpulan: Pernyataan Mahfud adalah peringatan bahwa perbaikan bangsa tidak bisa dimulai dari rakyat kecil terlebih dahulu, melainkan harus dari penyehatan integritas para elit intelektual dan agama agar mampu meluruskan pemerintah.
- Kerusakan rakyat: bukanlah penyakit utama, melainkan gejala dari rusaknya integritas para elit (pemerintah) dan mentor moralnya (ulama).
- Sintesis: Memperbaiki bangsa harus dimulai dari keberanian ulama/intelektual untuk berkata benar di hadapan kekuasaan.
Penulis : Tim Redaksi
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal






