JAMBI – Keamanan Jembatan Aur Duri I yang melintasi Sungai Batanghari kini berada dalam sorotan tajam setelah dua peristiwa warga terjun (lompat) ke sungai terjadi hanya dalam waktu satu hari pada Jumat, 16 Januari 2026. Kejadian beruntun ini memicu kemarahan publik atas minimnya fasilitas keselamatan di infrastruktur vital tersebut.
Insiden pertama terjadi sekitar pukul 12.40 WIB, melibatkan seorang wanita lajang berinisial SA (25), warga Kota Jambi. Belum reda keterkejutan warga, insiden kedua kembali terjadi pada pukul 18.30 WIB. Kali ini, seorang pria berinisial Z (47) nekat melompat, namun beruntung berhasil diselamatkan oleh aksi cepat Tim Rescue Damkar Kota Jambi.
Rentetan kejadian tragis ini mengungkap fakta memprihatinkan: Jembatan Aur Duri I tidak memiliki sistem pengamanan yang memadai untuk mencegah tindakan berbahaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pembatas jembatan saat ini sangat rendah dan sangat mudah dilompati. Tanpa adanya pagar pengaman tambahan yang tinggi, celah bagi warga untuk melakukan tindakan nekat terbuka lebar. Minimnya infrastruktur fisik ini dinilai sebagai bentuk kelalaian dalam standar keselamatan publik di area yang seharusnya diawasi ketat.
Tak hanya soal fisik pagar, Jembatan Aur Duri I juga “buta” secara pengawasan. Tidak adanya kamera pengawas (CCTV) di sepanjang bentang jembatan membuat setiap peristiwa sulit terpantau secara real-time. Ketiadaan rekaman juga menghambat proses investigasi serta upaya respons cepat dari pihak berwenang saat situasi darurat terjadi.
Publik kini mendesak pemerintah dan instansi terkait untuk segera mengambil langkah nyata, bukan sekadar evaluasi di atas kertas. Pemasangan pagar pengaman tinggi dan koneksi CCTV 24 jam adalah harga mati yang harus segera dipenuhi guna menjamin keamanan warga dan mencegah Jembatan Aur Duri I kembali menjadi lokasi kejadian tragis di masa depan.
Pemerintah tidak boleh menunggu lebih banyak korban jatuh hanya untuk membenahi fasilitas pengamanan yang sudah seharusnya tersedia sejak lama.
Komentar Warga Sekitar:
Sejumlah warga yang beraktivitas di sekitar pangkal jembatan mengungkapkan kekhawatiran serupa. Mereka menilai kondisi jembatan saat ini memang sangat rawan bagi keselamatan.
“Pagar jembatan itu terlalu rendah, orang dewasa saja kalau berdiri di pinggir sudah bisa langsung melompat tanpa hambatan. Harusnya dipasang pagar besi tambahan yang tinggi seperti di jembatan-jembatan besar lain di luar kota. Kalau dibiarkan begini, orang yang sedang kalap atau depresi jadi sangat mudah beraksi,” ujar Hasan (45), salah satu pedagang yang sering berada di area bawah jembatan.
Senada dengan Hasan, Rina (34), warga yang setiap hari melintasi jembatan tersebut, menyoroti gelapnya pengawasan di malam hari.
“Kalau ada CCTV, setidaknya petugas bisa melihat gerak-gerik mencurigakan dari jauh dan bisa langsung datang mencegah. Sekarang ini kejadian baru ketahuan kalau sudah ada yang terjun atau diteriaki warga. Kami minta pemerintah cepat tanggap, jangan cuma dihitung-hitung saja biayanya, tapi nyawa orang tidak dijaga,” cetusnya dengan nada tegas.
Komentar para warga ini mencerminkan keresahan mendalam bahwa tanpa perubahan fisik pada bangunan jembatan, kejadian serupa diprediksi akan terus terulang.
Penulis : Angah
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal






