JAKARTA, 15 Januari 2026 – PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Foundation (PF) resmi menjalin kerja sama strategis dengan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia untuk mengoptimalkan fungsi Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK). Sinergi ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Jakarta, Rabu (14/01), dengan fokus pada pengembangan sumber daya manusia (SDM), pelestarian lingkungan, dan penguatan ekonomi hijau.
Penandatanganan dilakukan oleh Plt. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kementerian Kehutanan, Drh. Indra Exploitasia, M.Si., dan Direktur Operasi Pertamina Foundation, Gusman Adiwardhana. Prosesi ini disaksikan langsung oleh Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Sulaiman Rahman S.Hut., serta VP CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto.
Wamenhut Sulaiman Rahman menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah konkret dalam mentransformasi tata kelola kehutanan nasional menjadi lebih preventif dan adaptif terhadap risiko bencana ekologis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kebijakan kehutanan saat ini menuntut perubahan paradigma ke arah pengelolaan yang resilien. Kami memproyeksikan KHDTK sebagai Center of Excellence atau pusat unggulan yang tidak hanya melahirkan SDM kompeten, tetapi juga menjadi model pengembangan teknologi dan kebijakan kehutanan yang inovatif,” ujar Sulaiman.
VP CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menyampaikan bahwa kerja sama ini akan memperkuat cakupan program Hutan Lestari yang telah dijalankan Pertamina sejak 2018. Hingga saat ini, Pertamina telah menanam lebih dari 13,42 juta pohon (mangrove dan darat) di 337 titik di seluruh Indonesia.
Program tersebut terbukti efektif menyerap karbon hingga 222.973 ton CO2 ekuivalen dan merehabilitasi 891 hektare lahan. Selain itu, melalui 13 lokasi Perhutanan Sosial, Pertamina telah membantu 4.783 penerima manfaat dengan pendapatan kelompok mencapai Rp3 miliar per tahun.
“Kerja sama ini adalah bagian dari upaya kami dalam menurunkan emisi karbon dan mitigasi bencana melalui pemulihan lahan kritis. Kami mendukung penuh komitmen pemerintah untuk merehabilitasi 12,7 juta hektare lahan kritis sebagai strategi ketahanan nasional,” ungkap Rudi.
Sementara itu, Direktur Operasi Pertamina Foundation, Gusman Adiwardhana, menjelaskan bahwa pihaknya akan berperan aktif dalam implementasi teknis di lapangan. Fokus utama mencakup integrasi ketahanan pangan dan energi berbasis kehutanan di lokasi-lokasi yang dikelola BP2SDM.
“Kami tidak hanya melakukan penanaman, tetapi memastikan ada korelasi positif terhadap ekonomi masyarakat lokal. Sinergi ini mencakup penguatan kapasitas warga sekitar hutan agar mereka menjadi garda terdepan dalam pelestarian hutan sekaligus mandiri secara ekonomi,” jelas Gusman.
Sinergi ini merupakan wujud nyata dukungan Pertamina terhadap agenda Asta Cita Pemerintah dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam aspek pembangunan manusia, penguatan ekonomi berkelanjutan, dan perlindungan ekosistem darat.
Penulis : Warna Komunika
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal






