Teror Air Keras Terhadap Andrie Yunus Adalah Serangan Terhadap Demokrasi dan Upaya Pembungkaman Paksa

Lintas Tungkal

- Redaksi

Sabtu, 14 Maret 2026 - 00:47 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SOSOK PEJUANG HAM: Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, dalam sebuah kesempatan saat menyuarakan isu-isu kemanusiaan. Andrie dilaporkan menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal pada Kamis malam (12/3), yang mengakibatkan luka bakar serius di bagian wajah dan tubuhnya. (Foto: Dok. KontraS)

SOSOK PEJUANG HAM: Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, dalam sebuah kesempatan saat menyuarakan isu-isu kemanusiaan. Andrie dilaporkan menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal pada Kamis malam (12/3), yang mengakibatkan luka bakar serius di bagian wajah dan tubuhnya. (Foto: Dok. KontraS)

JAMBI, 13 Maret 2026 – Negara kembali gagal menghadirkan ruang aman bagi para pembela Hak Asasi Manusia (HAM). Kemarin malam (12/03), Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban serangan barbar berupa penyiraman air keras oleh Orang Tidak Dikenal (OTK).

Serangan pengecut ini tidak hanya melukai fisik Andrie, tetapi merupakan serangan langsung terhadap suara kritis masyarakat sipil.

Poin-Poin Kritis Atas Insiden Ini:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

  • Eskalasi Teror yang Terpola: Penyiraman air keras ini bukanlah kriminalitas biasa. Ini adalah pola lama yang terus berulang—seperti kasus Novel Baswedan—yang digunakan untuk meneror mereka yang vokal. Andrie Yunus dikenal sangat progresif dalam mengawal isu-isu krusial, termasuk Revisi UU TNI yang sarat kontroversi.
  • Dampak Fisik yang Brutal: Akibat serangan ini, Andrie mengalami luka bakar serius sebesar 24 persen pada bagian wajah, mata, dada, serta tangan kanan dan kiri. Kondisi ini menunjukkan niat jahat pelaku untuk melumpuhkan kapasitas korban secara permanen.
  • Upaya Pembungkaman Suara Kritis: KontraS menegaskan bahwa teror ini adalah upaya sistematis untuk menciptakan iklim ketakutan (chilling effect). Targetnya jelas: membungkam siapa pun yang berani menantang kebijakan negara yang anti-demokrasi.
  • Ujian Bagi Penegakan Hukum: Jika kepolisian gagal menangkap aktor intelektual di balik serangan ini, maka negara secara tidak langsung telah melegitimasi praktik premanisme politik dan kekerasan terhadap pembela HAM.

“Andrie Yunus adalah pembela HAM yang konsisten bekerja untuk perlindungan hak-hak masyarakat. Serangan ini membuktikan bahwa di Indonesia, menjadi kritis bisa berarti bertaruh nyawa,” tegas pernyataan resmi KontraS.

Kami mendesak otoritas terkait untuk tidak hanya mengejar eksekutor di lapangan, tetapi mengusut tuntas siapa yang memberi perintah. Pembiaran terhadap kasus ini adalah lonceng kematian bagi kebebasan berpendapat di Indonesia.

Penulis : Angah

Editor : Tim Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Kekuasaan Membentuk Kepribadian
Indonesia Harus Belajar dari Iran: Membangun Kekuatan, Bukan Sekadar Membeli Kegagahan
Kades, Perpanjangan Jabatan, dan Bayang-Bayang Kepentingan 2029!
Alarm Darurat Demokrasi: Indonesia di Ambang Otoritarianisme?
Darurat Begal dan Geng Motor: IPB Jambi Desak Tindakan Tegas, Bukan Lagi Kenakalan Remaja Biasa!
NU Tunisia dan Maqshaduna Hadirkan Webinar Internasional: Maqashid Syariah sebagai Jalan Tengah Islam dalam Menjawab Krisis Peradaban Global
Putus Ego Sektoral, Eks Wakapolri Oegroseno Usulkan Penyidik Tunggal Kasus Korupsi!
Literasi Keuangan sebagai Modal Sosial Masyarakat
Berita ini 80 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi.

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 00:56 WIB

Ketika Kekuasaan Membentuk Kepribadian

Sabtu, 19 September 2026 - 17:57 WIB

Indonesia Harus Belajar dari Iran: Membangun Kekuatan, Bukan Sekadar Membeli Kegagahan

Minggu, 13 September 2026 - 17:50 WIB

Kades, Perpanjangan Jabatan, dan Bayang-Bayang Kepentingan 2029!

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:13 WIB

Alarm Darurat Demokrasi: Indonesia di Ambang Otoritarianisme?

Sabtu, 25 Juli 2026 - 07:32 WIB

Darurat Begal dan Geng Motor: IPB Jambi Desak Tindakan Tegas, Bukan Lagi Kenakalan Remaja Biasa!

Berita Terbaru