SBY Ingatkan Bahaya Politik Tanpa Moral: “Kok Jadi Begini Negara Kita?”

Lintas Tungkal

- Redaksi

Rabu, 4 November 2026 - 17:30 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), (FOTO : Dok. medicom.id)

Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), (FOTO : Dok. medicom.id)

NASIONAL — Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi politik nasional. Melalui akun X pribadinya, @SBYudhoyono, Rabu (4/11/2026), SBY menyoroti praktik politik yang dinilainya semakin jauh dari nilai moral dan etika.

Dalam unggahannya, SBY mempertanyakan arah kehidupan politik Indonesia yang dinilainya semakin liar. Ia mengingatkan adanya kecenderungan menghalalkan berbagai cara demi memperoleh kekuasaan, tanpa mempertimbangkan baik buruk maupun nilai moral.

“Kok jadi begini negara kita. Kok begini liar politik kita. Sepertinya untuk mendapatkan kekuasaan (political power) cara apa pun dibenarkan. Tidak peduli baik atau buruk. Bermoral atau tidak bermoral,” tulis SBY.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia juga menyampaikan kekhawatiran apabila situasi politik yang tidak terkendali pada akhirnya membuat masyarakat merasa takut dan kehilangan ketenteraman hidup di negaranya sendiri.

SBY secara khusus menyampaikan permohonan kepada Presiden Prabowo Subianto agar menghidupkan kembali politik yang berkeadaban. Menurutnya, hal tersebut merupakan panggilan sejarah sekaligus amanah rakyat yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin bangsa.

“Sebagai warga bangsa yang sangat mencintai negeri ini, seperti juga warga negara Indonesia yang lain, saya bermohon kepada Presiden Prabowo untuk menghidupkan kembali politik yang berkeadaban. Ini panggilan sejarah. Ini amanah rakyat,” lanjutnya.

Muncul di Tengah Sorotan Kasus LSP

Perlu ditegaskan, dalam unggahan yang menjadi dasar pemberitaan ini, SBY tidak secara eksplisit menyebut LSP ataupun kasus penyadapan yang sedang disorot menyusul pengungkapan kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Bareskrim Polri pada Selasa (3/11/2026) mengumumkan penetapan tiga orang sebagai tersangka dalam perkara dugaan penyadapan tanpa prosedur, penghapusan data elektronik, dan akses ilegal terhadap sistem elektronik.

Ketiga tersangka disebut berinisial LSP, ASN, dan EH. Dalam pemberitaan mengenai perkara tersebut, LSP diidentifikasi sebagai Listyo Sigit Prabowo, sementara dua lainnya adalah Ahrie Sonta Nasution dan Eko Hadi Santoso.

Penyidik mengungkap dugaan penyadapan terhadap sejumlah nomor telepon, termasuk milik Presiden Prabowo, pejabat negara, tokoh politik, media, organisasi masyarakat, LSM, hingga kalangan pengusaha.

Di tengah perkembangan perkara tersebut, pesan SBY mengenai pentingnya moralitas, etika, dan politik yang berkeadaban menjadi relevan untuk dicermati dalam konteks kehidupan demokrasi Indonesia.

Meski demikian, SBY tidak menyebut kasus penyadapan maupun inisial LSP secara langsung dalam unggahannya. Karena itu, pernyataan tersebut tidak dapat dipastikan sebagai respons khusus terhadap perkara yang sedang ditangani Bareskrim.

Pesan untuk Presiden Prabowo

Pada bagian akhir unggahannya, SBY berharap Presiden Prabowo memperoleh kekuatan dan tuntunan dalam menjalankan misi menghidupkan kembali politik yang berkeadaban.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan tanggung jawab, penghormatan terhadap hukum, serta komitmen terhadap kepentingan rakyat.

Di tengah berbagai persoalan yang sedang menjadi perhatian publik, tuntutan terhadap transparansi, integritas, dan penegakan hukum yang adil menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

.*

Editor : Tim Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Kekuasaan Membentuk Kepribadian
Indonesia Harus Belajar dari Iran: Membangun Kekuatan, Bukan Sekadar Membeli Kegagahan
Kades, Perpanjangan Jabatan, dan Bayang-Bayang Kepentingan 2029!
Alarm Darurat Demokrasi: Indonesia di Ambang Otoritarianisme?
Darurat Begal dan Geng Motor: IPB Jambi Desak Tindakan Tegas, Bukan Lagi Kenakalan Remaja Biasa!
NU Tunisia dan Maqshaduna Hadirkan Webinar Internasional: Maqashid Syariah sebagai Jalan Tengah Islam dalam Menjawab Krisis Peradaban Global
Putus Ego Sektoral, Eks Wakapolri Oegroseno Usulkan Penyidik Tunggal Kasus Korupsi!
Literasi Keuangan sebagai Modal Sosial Masyarakat
Berita ini 7 kali dibaca
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG. Dilarang keras menyadur, menggandakan, atau mendistribusikan ulang dalam bentuk apa pun untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Redaksi. Kami tidak segan mengambil langkah hukum bagi pihak yang melanggar.

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 17:30 WIB

SBY Ingatkan Bahaya Politik Tanpa Moral: “Kok Jadi Begini Negara Kita?”

Minggu, 20 September 2026 - 00:56 WIB

Ketika Kekuasaan Membentuk Kepribadian

Sabtu, 19 September 2026 - 17:57 WIB

Indonesia Harus Belajar dari Iran: Membangun Kekuatan, Bukan Sekadar Membeli Kegagahan

Minggu, 13 September 2026 - 17:50 WIB

Kades, Perpanjangan Jabatan, dan Bayang-Bayang Kepentingan 2029!

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:13 WIB

Alarm Darurat Demokrasi: Indonesia di Ambang Otoritarianisme?

Berita Terbaru