REPUBLIK – Perang modern memberikan pelajaran penting: kekuatan militer tidak hanya ditentukan oleh jumlah kapal perang, pesawat tempur, atau senjata canggih yang dimiliki sebuah negara. Yang lebih menentukan adalah kemampuan untuk memproduksi, memelihara, mengganti, dan mengembangkan kekuatan tersebut ketika konflik berlangsung.
Konflik Iran–Amerika Serikat pada 2026 memperlihatkan pentingnya daya tahan industri pertahanan. Di tengah tekanan dan sanksi panjang, Iran tetap membangun kemampuan rudal, drone, pertahanan udara, dan industri militernya.
Laporan pemerintah AS yang dikutip AP menyebut serangan Iran telah merusak atau menghancurkan ratusan bangunan di fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Sejumlah MQ-9 Reaper dan pesawat tanker KC-135 juga dilaporkan hilang atau mengalami kerusakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Reuters pada 15 September 2026 melaporkan estimasi Congressional Budget Office bahwa biaya perang telah mencapai sekitar US$38 miliar per 1 Agustus 2026 dan berpotensi bertambah sekitar US$3 miliar setiap bulan.
Pelajarannya bukan bahwa kapal induk atau platform besar sudah tidak relevan.
Pelajarannya adalah: jangan mempertaruhkan pertahanan negara hanya pada sedikit platform yang sangat mahal dan sulit diganti.
GARIBALDI DAN PERTANYAAN STRATEGIS INDONESIA
Indonesia telah menerima ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia. Komisi I DPR menyetujui hibah tersebut pada 20 Juli 2026 dengan nilai yang dicatat sebesar €54.022.426,67.
Kapal berangkat dari Taranto pada 24 Agustus dan tiba di Tanjung Priok pada 18 September 2026 setelah menempuh sekitar 6.870 mil laut. Informasi yang menyebut kapal baru tiba 20 September karena itu sudah tidak mutakhir.
Namun, kedatangan kapal bukan akhir dari persoalan. Justru dari sinilah pertanyaan strategis dimulai.
Giuseppe Garibaldi telah berusia lebih dari empat dekade dan membutuhkan retrofit atau modernisasi. ANTARA melaporkan perkiraan biaya retrofit sekitar Rp7,2 triliun hingga Rp16,8 triliun, tergantung konfigurasi yang dipilih.
Karena itu, pertanyaan publik tidak seharusnya berhenti pada: “Apakah kapal ini gagah?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Berapa besar kemampuan pertahanan yang diperoleh Indonesia dari seluruh biaya yang dikeluarkan selama umur operasionalnya?”
Sebab biaya sebuah platform bukan hanya harga akuisisi. Ada retrofit, operasi, pemeliharaan, suku cadang, pelatihan awak, fasilitas pangkalan, hingga sistem pendukungnya.
Inilah yang disebut life-cycle cost.
Penulis : Laksma TNI (Purn.) Jaya Darmawan
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya













Komentar