Indonesia Harus Belajar dari Iran: Membangun Kekuatan, Bukan Sekadar Membeli Kegagahan

Lintas Tungkal

- Redaksi

Sabtu, 19 September 2026 - 17:57 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Bantu NTT Pulih. Gempa M 7,7 menyisakan luka mendalam bagi saudara kita di NTT. Mari rapatkan barisan dan salurkan bantuan terbaik Anda melalui tautan berikut:
+ Donasi

Indonesia Harus Belajar dari Iran: Membangun Kekuatan, Bukan Sekadar Membeli Kegagahan. (FOTO : Dok. Ilustrasi/LT)

Indonesia Harus Belajar dari Iran: Membangun Kekuatan, Bukan Sekadar Membeli Kegagahan. (FOTO : Dok. Ilustrasi/LT)

KAPAL BESAR HARUS MELAHIRKAN KEMAMPUAN BESAR

Giuseppe Garibaldi memiliki potensi kegunaan. Kementerian Pertahanan menyebut kapal tersebut dapat membawa belasan helikopter, memungkinkan empat helikopter lepas landas secara simultan, serta dapat digunakan untuk Operasi Militer Selain Perang, termasuk penanggulangan bencana dan distribusi logistik.

Namun, manfaat strategisnya harus lebih jauh dari sekadar mengoperasikan satu kapal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika Indonesia memilih mengoperasikannya, kapal tersebut idealnya menjadi sarana membangun SDM, doktrin, kemampuan penerbangan laut, pemeliharaan, logistik, serta industri pertahanan nasional.

Dengan kata lain:

yang dibangun bukan hanya kapalnya, tetapi ekosistem kemampuan di belakangnya.

Pada saat yang sama, Indonesia harus menghitung biaya peluang. Apakah sumber daya yang sama juga diperlukan untuk memperkuat fregat, kapal selam, rudal antikapal berbasis darat, UAV/UCAV, USV, UUV, pertahanan udara, ISR, satelit, peperangan elektronik, dan jaringan sensor nasional?

Jawabannya harus dihitung berdasarkan kebutuhan pertahanan dan biaya siklus hidup 20–30 tahun, bukan semata-mata berdasarkan nilai hibah.

KEMANDIRIAN ADALAH KEKUATAN

Pelajaran terbesar Iran bukan semata-mata rudal atau drone.

Pelajaran terpentingnya adalah kemampuan mempertahankan produksi dan operasional sistem pertahanannya di tengah tekanan eksternal.

Perang modern semakin memperlihatkan hubungan antara cost of attack dan cost of interception.

Jika senjata yang relatif murah memaksa lawan menggunakan sistem pencegat yang jauh lebih mahal, maka konflik berubah menjadi persoalan ketahanan industri.

Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya membeli alutsista.

Indonesia harus menguasai teknologi, membangun industri komponen, meningkatkan kemampuan produksi, memperkuat galangan, mengembangkan SDM, dan memastikan kemampuan pemeliharaan dapat dilakukan di dalam negeri.

INDONESIA MEMBUTUHKAN KEKUATAN YANG TERSEBAR

Indonesia berbeda dengan Iran. Kita tidak perlu meniru Iran.

Kita perlu menyesuaikan pelajarannya dengan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan.

Dengan wilayah laut yang sangat luas, ribuan pulau, tiga ALKI, dan berbagai titik strategis, Indonesia memiliki kebutuhan terhadap sistem pertahanan yang tersebar, berlapis, dan saling terhubung.

Kekuatan itu dapat dibangun melalui kombinasi kapal perang, kapal selam, rudal antikapal berbasis darat, drone, radar, satelit, sensor bawah laut, pertahanan udara, peperangan elektronik, serta sistem komando dan kendali nasional.

Tujuannya bukan memiliki satu senjata yang tidak terkalahkan.

Tujuannya adalah membangun sistem pertahanan yang sulit dilumpuhkan sekaligus.

SEA POWER BUKAN HANYA KAPAL PERANG

Indonesia juga tidak boleh memisahkan kekuatan laut dari kekuatan ekonomi maritim.

Kapal perang menjaga jalur perdagangan.

Kapal niaga membuat jalur perdagangan tersebut bernilai secara ekonomi.

Industri galangan, pelabuhan, logistik, pelaut, teknologi, dan armada niaga merupakan bagian dari kekuatan maritim nasional.

Karena itu:

SEA POWER = NAVAL POWER + MARITIME ECONOMIC POWER.

Indonesia membutuhkan TNI AL yang modern, tetapi juga membutuhkan industri maritim yang kuat.

Kita membutuhkan kapal selam, fregat, rudal, drone, radar, dan satelit. Tetapi kita juga membutuhkan armada niaga nasional, galangan kapal, industri komponen, serta SDM maritim yang kuat.

Penulis : Laksma TNI (Purn.) Jaya Darmawan

Editor : Tim Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kades, Perpanjangan Jabatan, dan Bayang-Bayang Kepentingan 2029!
Alarm Darurat Demokrasi: Indonesia di Ambang Otoritarianisme?
Darurat Begal dan Geng Motor: IPB Jambi Desak Tindakan Tegas, Bukan Lagi Kenakalan Remaja Biasa!
NU Tunisia dan Maqshaduna Hadirkan Webinar Internasional: Maqashid Syariah sebagai Jalan Tengah Islam dalam Menjawab Krisis Peradaban Global
Putus Ego Sektoral, Eks Wakapolri Oegroseno Usulkan Penyidik Tunggal Kasus Korupsi!
Literasi Keuangan sebagai Modal Sosial Masyarakat
Menakar Efektivitas Sidak Pasar: Antara Rutinitas Seremonial dan Realitas Harga Lapangan!
3 Tahun Terakhir Tanpa Kasus Penyelundupan Benih Lobster, Perairan Tanjab Barat Steril atau Longgar?
Berita ini 10 kali dibaca
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG. Dilarang keras menyadur, menggandakan, atau mendistribusikan ulang dalam bentuk apa pun untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Redaksi. Kami tidak segan mengambil langkah hukum bagi pihak yang melanggar.

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 17:57 WIB

Indonesia Harus Belajar dari Iran: Membangun Kekuatan, Bukan Sekadar Membeli Kegagahan

Minggu, 13 September 2026 - 17:50 WIB

Kades, Perpanjangan Jabatan, dan Bayang-Bayang Kepentingan 2029!

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:13 WIB

Alarm Darurat Demokrasi: Indonesia di Ambang Otoritarianisme?

Sabtu, 25 Juli 2026 - 07:32 WIB

Darurat Begal dan Geng Motor: IPB Jambi Desak Tindakan Tegas, Bukan Lagi Kenakalan Remaja Biasa!

Rabu, 15 Juli 2026 - 18:35 WIB

NU Tunisia dan Maqshaduna Hadirkan Webinar Internasional: Maqashid Syariah sebagai Jalan Tengah Islam dalam Menjawab Krisis Peradaban Global

Berita Terbaru

Poster by lintastungkal

Olahraga

Mardan Terpilih Pimpin IBCA MMA Tanjab Barat

Sabtu, 19 Sep 2026 - 17:25 WIB