KAPAL BESAR HARUS MELAHIRKAN KEMAMPUAN BESAR
Giuseppe Garibaldi memiliki potensi kegunaan. Kementerian Pertahanan menyebut kapal tersebut dapat membawa belasan helikopter, memungkinkan empat helikopter lepas landas secara simultan, serta dapat digunakan untuk Operasi Militer Selain Perang, termasuk penanggulangan bencana dan distribusi logistik.
Namun, manfaat strategisnya harus lebih jauh dari sekadar mengoperasikan satu kapal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika Indonesia memilih mengoperasikannya, kapal tersebut idealnya menjadi sarana membangun SDM, doktrin, kemampuan penerbangan laut, pemeliharaan, logistik, serta industri pertahanan nasional.
Dengan kata lain:
yang dibangun bukan hanya kapalnya, tetapi ekosistem kemampuan di belakangnya.
Pada saat yang sama, Indonesia harus menghitung biaya peluang. Apakah sumber daya yang sama juga diperlukan untuk memperkuat fregat, kapal selam, rudal antikapal berbasis darat, UAV/UCAV, USV, UUV, pertahanan udara, ISR, satelit, peperangan elektronik, dan jaringan sensor nasional?
Jawabannya harus dihitung berdasarkan kebutuhan pertahanan dan biaya siklus hidup 20–30 tahun, bukan semata-mata berdasarkan nilai hibah.
KEMANDIRIAN ADALAH KEKUATAN
Pelajaran terbesar Iran bukan semata-mata rudal atau drone.
Pelajaran terpentingnya adalah kemampuan mempertahankan produksi dan operasional sistem pertahanannya di tengah tekanan eksternal.
Perang modern semakin memperlihatkan hubungan antara cost of attack dan cost of interception.
Jika senjata yang relatif murah memaksa lawan menggunakan sistem pencegat yang jauh lebih mahal, maka konflik berubah menjadi persoalan ketahanan industri.
Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya membeli alutsista.
Indonesia harus menguasai teknologi, membangun industri komponen, meningkatkan kemampuan produksi, memperkuat galangan, mengembangkan SDM, dan memastikan kemampuan pemeliharaan dapat dilakukan di dalam negeri.
INDONESIA MEMBUTUHKAN KEKUATAN YANG TERSEBAR
Indonesia berbeda dengan Iran. Kita tidak perlu meniru Iran.
Kita perlu menyesuaikan pelajarannya dengan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan.
Dengan wilayah laut yang sangat luas, ribuan pulau, tiga ALKI, dan berbagai titik strategis, Indonesia memiliki kebutuhan terhadap sistem pertahanan yang tersebar, berlapis, dan saling terhubung.
Kekuatan itu dapat dibangun melalui kombinasi kapal perang, kapal selam, rudal antikapal berbasis darat, drone, radar, satelit, sensor bawah laut, pertahanan udara, peperangan elektronik, serta sistem komando dan kendali nasional.
Tujuannya bukan memiliki satu senjata yang tidak terkalahkan.
Tujuannya adalah membangun sistem pertahanan yang sulit dilumpuhkan sekaligus.
SEA POWER BUKAN HANYA KAPAL PERANG
Indonesia juga tidak boleh memisahkan kekuatan laut dari kekuatan ekonomi maritim.
Kapal perang menjaga jalur perdagangan.
Kapal niaga membuat jalur perdagangan tersebut bernilai secara ekonomi.
Industri galangan, pelabuhan, logistik, pelaut, teknologi, dan armada niaga merupakan bagian dari kekuatan maritim nasional.
Karena itu:
SEA POWER = NAVAL POWER + MARITIME ECONOMIC POWER.
Indonesia membutuhkan TNI AL yang modern, tetapi juga membutuhkan industri maritim yang kuat.
Kita membutuhkan kapal selam, fregat, rudal, drone, radar, dan satelit. Tetapi kita juga membutuhkan armada niaga nasional, galangan kapal, industri komponen, serta SDM maritim yang kuat.
Penulis : Laksma TNI (Purn.) Jaya Darmawan
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya








Komentar