KEBUMEN, 30 Januari 2026 – PT Pertamina (Persero) terus memperkuat komitmen pemberdayaan masyarakat melalui program Pertapreneur Aggregator (PAG). Kali ini, sinergi strategis dijalin antara UMKM binaan Pertamina, PT Agrominafiber Java Indonesia, dengan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kebumen untuk mengolah limbah pelepah pisang menjadi produk bernilai ekspor.
Kolaborasi ini memfokuskan pada produksi serat alami dari pelepah pisang yang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kerajinan global. Melalui inisiatif ini, warga binaan dilibatkan langsung dalam rantai pasok industri hijau yang berkelanjutan.
Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan langkah nyata untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri sekaligus memberikan dampak sosial. “Serat pelepah pisang adalah material ramah lingkungan yang sangat diminati pasar internasional. Kami ingin warga binaan tidak hanya sekadar mendapat pelatihan, tetapi terlibat aktif dalam produksi nyata yang bernilai ekonomi tinggi,” ungkap Novita.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai bentuk keseriusan, Agrominafiber telah menyalurkan satu ton bahan baku hanya dalam pekan pertama setelah pelatihan dimulai. Kedepannya, rutan tersebut diproyeksikan mampu menyuplai sekitar 30 persen dari total kebutuhan bahan baku perusahaan yang mencapai 15 ton per bulan.
Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyambut positif program ini. Menurutnya, respons warga binaan sangat antusias dengan hasil kualitas produksi yang terus meningkat. “Meskipun baru berjalan kurang dari satu bulan, progresnya sangat baik. Kami menargetkan produksi mencapai 3 ton per bulan. Saat ini, 60 persen produk warga binaan sudah memenuhi standar kualitas ekspor,” jelasnya.
Sinergi ini juga mendapat peninjauan langsung dari Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, yang menekankan pentingnya konsistensi kualitas dan ketepatan waktu dalam menjaga keberlangsungan bisnis.
Sementara itu, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa program ini adalah manifestasi dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di lingkungan Pertamina.
“Melalui pendampingan intensif selama enam bulan ke depan, Pertamina berharap model kolaborasi berbasis agregasi ini menjadi benchmark pemberdayaan UMKM yang tangguh secara bisnis namun memiliki dampak sosial yang masif,” ujar Baron. Ia menambahkan bahwa program ini juga merupakan bagian dari kontribusi Pertamina terhadap capaian Sustainable Development Goals (SDGs), yang dikoordinasikan melalui badan pengelola investasi Danantara.
Penulis : Warna Komunika
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal






