KUALA TUNGKAL – Wajah agraria di Kabupaten Tanjung Jabung Barat tengah mengalami pergeseran drastis dalam 5 tahun terakhir. Lahan-lahan persawahan yang dulunya menjadi tumpuan pangan kini perlahan berganti rupa menjadi hamparan hijau kelapa sawit. Fenomena ini bukan sekadar perubahan lanskap, melainkan sinyal bahaya bagi ketahanan pangan lokal.
Fakta di Lapangan: Sawah yang Kian Terhimpit
Dalam lima tahun terakhir, perluasan sawah di Tanjab Barat tercatat stagnan, bahkan cenderung menurun signifikan. Berdasarkan data evaluasi lahan, banyak kantong produksi padi di wilayah daratan mulai ditinggalkan petani. Sebaliknya, perkebunan kelapa sawit terus merangsek masuk ke area yang seharusnya diperuntukkan bagi tanaman pangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengapa Petani Memilih Sawit?
Beberapa faktor krusial menjadi pemicu utama mengapa sawah kian tidak populer dibandingkan sawit:
- Kepastian Ekonomi dan Harga: Kelapa sawit dianggap memiliki nilai ekonomi yang lebih stabil dan menjanjikan pendapatan rutin bulanan. Sebaliknya, petani padi seringkali dihadapkan pada fluktuasi harga gabah dan risiko gagal panen yang tinggi.
- Biaya Operasional dan Tenaga Kerja: Bertani padi membutuhkan perawatan yang jauh lebih intensif. Di tengah sulitnya mencari tenaga kerja muda yang mau turun ke sawah, sawit menjadi pilihan karena perawatannya dianggap lebih simpel dan efisien.
- Kondisi Infrastruktur dan Irigasi: Beberapa kawasan persawahan di Tanjab Barat mengalami kendala pada jaringan irigasi. Lahan yang sering terdampak banjir atau intrusi air asin membuat produktivitas padi menurun, sehingga petani memilih mengonversi lahan mereka ke komoditas yang lebih tahan banting.
Permasalahan Utama yang Muncul
- Ancaman Kedaulatan Pangan: Dengan menyusutnya luas lahan baku sawah, ketergantungan Tanjab Barat terhadap pasokan beras dari luar daerah (seperti Sumatera Selatan atau Jawa) akan semakin meningkat.
- Pelanggaran Tata Ruang: Meskipun pemerintah telah menggaungkan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), praktik alih fungsi di lapangan sering kali terjadi secara mandiri oleh masyarakat tanpa pengawasan ketat, yang berpotensi melanggar Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
- Hilangnya Ekosistem Pertanian: Alih fungsi lahan tidak hanya menghilangkan tanaman padi, tetapi juga menghancurkan kelembagaan petani sawah (seperti Kelompok Tani atau P3A) yang sudah terbentuk lama.
Penulis : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya



![Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak. [FOTO : carapandang.com]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/Dahnil-Anzar-Simanjuntak-225x129.jpg)


