OPINI – Belum hilang bau tanah dari kuburan BUMN yang baru saja dipangkas karena kerugian menahun, pemerintah kini sudah sibuk menyiapkan “mainan baru.” Setelah membubarkan tujuh BUMN zombi, muncul ambisi membangun raksasa baru: Perminas di sektor mineral dan satu lagi BUMN raksasa untuk menyelamatkan industri tekstil.
Namun, publik layak bertanya: Apakah ini benar-benar solusi, atau sekadar ganti baju untuk kegagalan yang sama?
Kita harus berkaca pada sejarah pahit. Dulu PT Industri Sandang Nusantara dibiarkan mati perlahan hingga akhirnya dibubarkan. Kini, saat industri tekstil swasta seperti Sritex terkapar, pemerintah mendadak ingin membangun BUMN tekstil baru dari nol. Pertanyaannya, kalau yang lama saja gagal dikelola hingga bangkrut, jaminan apa yang kita punya bahwa BUMN tekstil 2026 nanti tidak akan menjadi lubang hitam anggaran berikutnya?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sektor mineral, kehadiran Perminas pun memicu tanda tanya besar. Di tengah keberadaan MIND ID yang sudah mengonsolidasikan perusahaan tambang negara, mengapa harus ada “monster” baru? Apakah ini bentuk duplikasi birokrasi atau sekadar bagi-bagi kursi jabatan di entitas baru?
Rakyat butuh efisiensi, bukan sekadar memoles nama baru di atas masalah lama yang belum tuntas. Jangan sampai modal negara kembali terbakar hanya untuk membangun struktur yang ujung-ujungnya masuk daftar “pasien” pembubaran di masa depan.
1. Warisan Utang yang Menggunung
BUMN yang dibubarkan bukan sekadar “tidak untung”, tapi meninggalkan lubang finansial yang mengerikan. Sebagai contoh, Merpati Nusantara Airlines resmi dibubarkan dengan meninggalkan kewajiban sebesar Rp10,9 triliun, padahal asetnya hanya tersisa remah-remah. Pertanyaannya: Jika manajemen transportasi udara saja bisa sebobrok itu, bagaimana pemerintah menjamin BUMN tekstil baru tidak akan bernasib sama di pasar global yang sangat kompetitif?
2. Kegagalan Industri Sandang (Dejavu Tekstil)
Sebelum rencana BUMN tekstil 2026, kita punya PT Industri Sandang Nusantara (ISN). BUMN ini dibubarkan karena tidak lagi memiliki nilai ekonomis dan gagal bersaing. Menyedihkan melihat pemerintah ingin membangun BUMN tekstil baru padahal mereka sendiri yang mengeksekusi mati BUMN tekstil sebelumnya. Ini membuktikan adanya ketidakonsistenan kebijakan (inconsistency policy).
3. Efisiensi Semu di Sektor Tambang
Sektor tambang sudah punya MIND ID yang mengelola Antam, Bukit Asam, hingga Freeport. Jika sekarang mau muncul Perminas, maka akan terjadi tumpang tindih (overlap) fungsi. Data menunjukkan banyak BUMN anak-cucu-cicit justru menjadi beban induknya. Apakah Perminas ini hanya akan menjadi wadah baru untuk menampung “kepentingan” tertentu dengan kedok kedaulatan mineral?
- Efek Domino: Pembubaran 7 BUMN kemarin menghabiskan banyak energi untuk urusan pesangon dan aset. Mengapa sekarang justru menambah beban administrasi dengan membuat struktur baru?
- Reaksi Pasar: Investor butuh kepastian. Pola “bubar-bangun-bubar” ini menunjukkan pemerintah tidak punya blue print jangka panjang yang kokoh untuk industri manufaktur dan ekstraktif.
“Menurut kalian, ini langkah cerdas buat kedaulatan ekonomi, atau cuma dejavu kegagalan yang dipoles ulang? Komen di bawah!”
Penulis : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal




![Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak. [FOTO : carapandang.com]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/Dahnil-Anzar-Simanjuntak-225x129.jpg)

