Mengakhiri Rezim Penjilat: Urgensi Restorasi Meritokrasi di Tubuh Birokrasi

Lintas Tungkal

- Redaksi

Sabtu, 7 Februari 2026 - 12:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mengakhiri Rezim Penjilat: Urgensi Restorasi Meritokrasi di Tubuh Birokrasi. [GRAFIS : Lintastungkal]

Mengakhiri Rezim Penjilat: Urgensi Restorasi Meritokrasi di Tubuh Birokrasi. [GRAFIS : Lintastungkal]

Dalam retorika tata kelola pemerintahan, meritokrasi sering kali diagungkan sebagai kitab suci. Ia menjanjikan sebuah sistem di mana kompetensi dan integritas adalah mata uang utama. Namun, realitas hari ini menunjukkan hal sebaliknya: naskah meritokrasi itu telah menjadi dokumen usang yang berdebu di laci birokrasi, digantikan oleh budaya politik setoran dan dominasi para penjilat.

Fenomena Kezaliman Struktural

Kita sedang menyaksikan apa yang bisa disebut sebagai “Kezaliman Struktural”. Dalam sistem ini, profesionalisme dipaksa mati di tangan kedekatan personal. Penentuan jabatan tidak lagi berbasis pada what you know (kapasitas), melainkan who you know (koneksi). Ketika loyalitas buta menjadi standar tertinggi, birokrasi hanya akan diisi oleh barisan “muka manis” yang bekerja demi menyenangkan atasan, bukan melayani publik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dampaknya fatal. Narasi “bukan orang kita” menjadi hukum tidak tertulis yang meminggirkan individu jujur dan berilmu. Akibatnya, kebijakan publik lahir dari data yang bias demi legitimasi kekuasaan, bukan solusi atas masalah rakyat.

Jabatan sebagai Komoditas Transaksional

Lebih ironis lagi, jabatan kini dipandang sebagai komoditas. Praktik “mahar” atau politik setoran untuk menduduki posisi strategis telah menciptakan siklus korupsi yang sistemik. Pejabat yang “membeli” kursi secara otomatis akan fokus pada pengembalian modal (return on investment) daripada pengabdian.

Dalam ekosistem transaksional seperti ini, regulasi sering kali dimanipulasi. Hukum tidak lagi menjadi panglima keadilan, melainkan alat legitimasi untuk memuluskan kepentingan pemberi setoran dan oligarki. Tanpa adanya Audit Keadilan yang independen, aturan hanya akan menjadi karpet merah bagi perampasan hak-hak rakyat secara halus.

Strategi Korektif: Jalan Kembali ke Amanah

Membiarkan praktik ini terus berlanjut adalah bentuk pengabaian terhadap kehancuran peradaban. Bangsa ini membutuhkan Strategi Korektif Nasional yang radikal melalui tiga pilar utama:

  1. Restorasi Meritokrasi: Mengembalikan standar kompetensi sebagai harga mati. Proses seleksi jabatan harus transparan dan bebas dari intervensi politik.
  2. Pemutusan Rantai Transaksional: Praktik setoran harus dikategorikan sebagai pengkhianatan tertinggi terhadap negara dengan sanksi yang memiskinkan.
  3. Keberanian Moral Intelektual: Ulama dan akademisi harus kembali ke khitahnya sebagai penjaga nurani bangsa, bukan menjadi pemberi stempel legitimasi atas kebijakan yang menindas.

“Sebuah bangsa tidak akan hancur karena kekurangan orang pintar, tapi ia akan hancur karena banyaknya orang pintar yang memilih menjadi penjilat demi kenyamanan pribadi.”

Penutup

Keadilan bagi rakyat akan tetap menjadi angan-angan selama penjilat masih diberi panggung dan setoran tetap menjadi tiket jabatan. Sudah saatnya kita merobek “naskah usang” kepura-puraan ini. Kita butuh pemimpin dan aparatur yang berani tegak di atas nilai amanah, bukan mereka yang membungkuk demi mengamankan posisi. Jika tidak, kita hanya tinggal menunggu waktu sampai birokrasi ini runtuh oleh beban ketidakadilannya sendiri.

“Selama penjilat masih diberi panggung dan setoran masih menjadi tiket jabatan, selama itu pula keadilan bagi rakyat hanyalah angan-angan.”

Mari diskusikan! Apakah kita akan terus diam melihat sistem ini membusuk?****

Apa Penadapat Anda Terkait Berita Ini?

Penulis : Si Burung Pipit

Editor : Tim Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Matinya Transaksi Elektronik Bank Jambi: Takut Bobol Lagi atau Sekedar Menahan Laju Dana Nasabah?
Tukar Guling Diplomasi: Piagam ART Dibayar Beras dan Ayam!
Senjakala Festival Arakan Sahur: Mewah di Kulit, Keropos di Bunyi! Terjebak “Eksistensi” Visual?
BAZNAS Tetapkan Nisab Zakat Penghasilan 2026: Minimal Rp7,6 Juta per Bulan
Alarm Bahaya! Mengingat Kembali Rentetan Tawuran Remaja di Tungkal Ilir
Bank Jambi Gandeng BI dan OJK, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Win-Win Solution Jembatan Sungai Tiram: Sepakati Status Aset, Mudahkan Izin, Rakyat Senang
Penahanan Kapus Kebun IX Muaro Jambi Bukan Babak Akhir, Melainkan Babak Pembuka dari Skandal yang Lebih Besar!
Berita ini 18 kali dibaca
Artikel ini telah dihasilkan/diedit oleh AI. Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi.

Berita Terkait

Sabtu, 7 Maret 2026 - 12:59 WIB

Matinya Transaksi Elektronik Bank Jambi: Takut Bobol Lagi atau Sekedar Menahan Laju Dana Nasabah?

Minggu, 1 Maret 2026 - 23:09 WIB

Tukar Guling Diplomasi: Piagam ART Dibayar Beras dan Ayam!

Minggu, 1 Maret 2026 - 05:24 WIB

Senjakala Festival Arakan Sahur: Mewah di Kulit, Keropos di Bunyi! Terjebak “Eksistensi” Visual?

Rabu, 25 Februari 2026 - 14:04 WIB

BAZNAS Tetapkan Nisab Zakat Penghasilan 2026: Minimal Rp7,6 Juta per Bulan

Senin, 23 Februari 2026 - 14:07 WIB

Alarm Bahaya! Mengingat Kembali Rentetan Tawuran Remaja di Tungkal Ilir

Berita Terbaru