Negara Memberi, Negara Menyita: Mengapa Ribuan Warga Kota Jambi Terjebak dalam “Lahan Terlarang” Pertamina?

Lintas Tungkal

- Redaksi

Kamis, 5 Maret 2026 - 12:41 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

"ZONA MERAH: Ketika Sertifikat Garuda Menjadi Kertas Tak Berharga di Jambi." [FOTO : Ilustrasi/LT]

"ZONA MERAH: Ketika Sertifikat Garuda Menjadi Kertas Tak Berharga di Jambi." [FOTO : Ilustrasi/LT]

JAMBI KOTA – Selama puluhan tahun, ribuan warga di Kenali Asam, Kota Jambi, tidur dengan tenang di bawah atap rumah yang mereka yakini sah secara hukum. Di laci lemari mereka, tersimpan Sertifikat Hak Milik (SHM) dengan lambang Garuda—bukti otentik tertinggi kepemilikan tanah di Republik ini. Namun, ketenangan itu sirna seketika saat status “Zona Merah” mencuat, menyandera lebih dari 5.500 hingga 7.000 Sertifikat Hak Milik (SHM) milik warga.

Munculnya “Zona Merah” ini bukan sekadar sengketa lahan biasa, melainkan sebuah anomali besar dalam tata kelola agraria kita yang harus segera dibedah. Ini juga menunjukkan bahwa masalah ini bukan masalah personal satu-dua orang, melainkan masalah sosial skala besar di Kota Jambi.

Pertama: Tragedi Dualisme Administrasi
Bagaimana mungkin negara—melalui BPN—menerbitkan ribuan sertifikat di atas lahan yang diklaim sebagai aset Pertamina? Jika lahan tersebut memang aset negara sejak awal, mengapa izin bangunan, pajak (PBB), dan infrastruktur publik dibangun di sana selama berdekad-dekad? Angka 7.000 sertifikat bukanlah jumlah yang sedikit; ini adalah ribuan keluarga yang administrasinya dilegalkan oleh negara, namun kini legalitasnya justru digantung oleh instansi negara yang lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedua: “Penyanderaan” Ekonomi Rakyat secara Masif
Sertifikat tanah adalah instrumen ekonomi vital. Dengan status Zona Merah, ribuan aset warga ini menjadi “barang mati”. Bank tidak lagi menerima diagunkan untuk modal usaha, transaksi jual-beli terhenti, dan nilai properti anjlok. Bayangkan dampak ekonominya: ada ribuan potensi modal usaha yang beku karena ketidakpastian status lahan ini. Negara secara tidak langsung telah melakukan “pemiskinan sistematis” dengan membiarkan rakyat memegang sertifikat yang tidak bisa digunakan untuk menopang hidup mereka.

Ketiga: Ego Sektoral vs Hak Rakyat
Pertamina berpegang pada catatan aset, sementara warga berpegang pada SHM yang juga diterbitkan negara. Di tengah kebuntuan ini, pemerintah pusat dan daerah tidak boleh sekadar melakukan pendataan berulang-ulang. Jika fakta di lapangan menunjukkan lahan tersebut sudah menjadi pemukiman padat dan bukan lagi area operasional teknis pengeboran yang aktif, maka pelepasan aset (penghapusan dari daftar barang milik negara) adalah satu-satunya jalan keluar yang bermartabat.

Penutup
Zona Merah Kota Jambi adalah cermin retak bagi reforma agraria kita. Angka 5.500 hingga 7.000 SHM yang terblokir adalah bukti nyata kegagalan birokrasi dalam melindungi hak warga negara. Jika negara bisa memberikan hak, lalu tiba-tiba “menyita” nilai hak tersebut tanpa solusi konkret, maka kepastian hukum di negeri ini sedang berada di titik nadir.

Negara harus hadir bukan sebagai pemilik aset yang kaku, melainkan sebagai pelindung rakyat. Jangan biarkan ribuan warga Jambi terus menghuni rumah mereka sendiri dengan perasaan sebagai “penumpang gelap” di tanah yang mereka beli secara sah dan pajaknya mereka bayar setiap tahun.

Penulis : Tim Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jangan Biarkan Negara Hanya Mengejar Pertumbuhan Ekonomi, Sementara Lingkungan Terus Terabaikan
Kopdes Merah Putih: Jangan Sampai Desa Hanya Menjadi Pasar Korporasi
Membangun Masa Depan Organisasi yang Unggul melalui Integrasi Tata Kelola, Kinerja, Digitalisasi, dan Kolaborasi Berkelanjutan
Monitoring Kolaborasi dengan Swasta, dan Akuntabilitas: Tiga Kunci Menjaga Pelayanan Publik Tetap Berpihak pada Masyarakat
Selendang Budaya Banyuwangi “Osing”
Privatisasi, Komersialisasi, dan Efisiensi BUMN PT Pelindo: Antara Tuntutan Pasar dan Kepentingan Publik
Transformasi Digital Korporasi Publik: Antara Inovasi Pelayanan dan Tantangan Tata Kelola di Indonesia
Integrasi Transformasi Digital Untuk Keberlanjutan Organisasi
Berita ini 133 kali dibaca
"HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG. Dilarang keras menyadur, menggandakan, atau mendistribusikan ulang dalam bentuk apa pun untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Redaksi. Kami tidak segan mengambil langkah hukum bagi pihak yang melanggar."

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 00:32 WIB

Jangan Biarkan Negara Hanya Mengejar Pertumbuhan Ekonomi, Sementara Lingkungan Terus Terabaikan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:19 WIB

Kopdes Merah Putih: Jangan Sampai Desa Hanya Menjadi Pasar Korporasi

Rabu, 22 Juli 2026 - 18:01 WIB

Membangun Masa Depan Organisasi yang Unggul melalui Integrasi Tata Kelola, Kinerja, Digitalisasi, dan Kolaborasi Berkelanjutan

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:21 WIB

Monitoring Kolaborasi dengan Swasta, dan Akuntabilitas: Tiga Kunci Menjaga Pelayanan Publik Tetap Berpihak pada Masyarakat

Minggu, 19 Juli 2026 - 18:46 WIB

Selendang Budaya Banyuwangi “Osing”

Berita Terbaru

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi Saat Memberikan Keterangan Pers seusai rapat koordinasi pemerintah bersama pimpinan DPR RI terkait finalisasi penataan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (6/11/2026). (FOTO : Dok. Istimewa)

Info CPNS-PPPK

Buruan Siapkan Berkas! Pemerintah Bidik Pembukaan CPNS November 2026

Sabtu, 7 Nov 2026 - 18:40 WIB