Selendang Budaya Banyuwangi “Osing”

Lintas Tungkal

- Redaksi

Minggu, 19 Juli 2026 - 18:46 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Banyuwangi, sebagai wilayah paling timur Pulau Jawa, membentang di persimpangan Selat Bali dan Pegunungan Ijen, menciptakan lanskap geografis yang kaya akan keanekaragaman budaya. Daerah ini dikenal sebagai tanah Blambangan, kerajaan Hindu terakhir yang bertahan hingga abad ke-18, sebelum jatuh ke kekuasaan VOC. Masyarakat Osing, etnis asli yang mendiami pedalaman dan pantai, mempertahanakan identitas unik melalui bahasa, adat, dan seni pertunjukan. Tarian Gandrung muncul sebagai manifestasi utama warisan ini, mengintegrasikan ritual agraris dengan ekspresi emosional kolektif.

Salah satu praktik budaya yang masih lestari hingga kini adalah tradisi masyarakat Osing. Masyarakat Osing merupakan penduduk asli Banyuwangi, yang memiliki bahasa, tradisi, serta ekspresi seni khas yang membedakan mereka dari masyarakat Jawa pada umumnya. Inti budaya masyarakat Osing sangat erat kaitannya dengan praktik pertanian, adat istiadat warisan, dan hubungan yang seimbang dengan lingkungan. Salah satu ekspresi budaya masyarakat Osing yang paling terkenal adalah Tari Gandrung. Tarian ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai lambang rasa syukur atas hasil panen dan cara untuk menghormati leluhur mereka.

Dalam pertunjukan tari Gandrung, ada satu elemen mendasar yang selalu hadir: selendang. Selendang ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan pada busana penari; ia juga sarat dengan makna filosofis yang mendalam. Dalam tradisi Osing, selendang melambangkan kasih sayang, rasa hormat, kelembutan, serta hubungan antara penari dan penonton. Warna merah pada selendang melambangkan semangat, keberanian, dan cinta, sedangkan warna keemasan melambangkan kehormatan dan kemuliaan. Gerakan-gerakan anggun selendang tersebut mengekspresikan keanggunan, persatuan, dan dialog budaya antara penari dan penonton yang menyaksikan pertunjukan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masyarakat Osing Banyuwangi didefinisikan oleh filosofi hidup yang harmonis dengan alam, di mana siklus pertanian padi dan panen menjadi dasar ritual tahunan. Gandrung awalnya lahir sebagai tarian syukur (sledetan) pasca-panen, dilakukan oleh penari laki-laki untuk menghibur tamu dan dewa bumi. Tradisi ini berevolusi pada abad ke-19, ketika perempuan mengambil peran utama, mengubahnya menjadi simbol femininitas dan daya tarik sosial. Pengaruh kolonial Belanda justru memperkuat Gandrung sebagai bentuk resistensi budaya halus, tersebar melalui pertunjukan desa hingga festival skala besra. Dalam antropologi Indonesia, Osing dikategorikan sebagai sub-etnis Jawa dengan ciri khas matrilineal dan sinkretisme spiritual. Dokumentasi etnografis seperti karya koentjaraningrat menyoroti peran Gandrung dalam transmisi nilai komunal.

Penulis : Juwita Alvina : Msh FISIP Universitas 17 Agustus 1945

Editor : Tim Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membangun Masa Depan Organisasi yang Unggul melalui Integrasi Tata Kelola, Kinerja, Digitalisasi, dan Kolaborasi Berkelanjutan
Monitoring Kolaborasi dengan Swasta, dan Akuntabilitas: Tiga Kunci Menjaga Pelayanan Publik Tetap Berpihak pada Masyarakat
Privatisasi, Komersialisasi, dan Efisiensi BUMN PT Pelindo: Antara Tuntutan Pasar dan Kepentingan Publik
Transformasi Digital Korporasi Publik: Antara Inovasi Pelayanan dan Tantangan Tata Kelola di Indonesia
Integrasi Transformasi Digital Untuk Keberlanjutan Organisasi
Transformasi Digital pada Perumda Air Minum (PDAM) di Berbagai Daerah di Indonesia Sebagai Wujud Transformasi Digital Korporasi Publik
BLU Impor Minyak: Ketika Negara Lebih Hobi Bikin “Anak Baru” Daripada Urus “Anak Kandung”
MBG dan KKDM Penyumbang Defisit Terbesar, Investasi SDM atau Jebakan Utang Baru?
Berita ini 41 kali dibaca
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG. Dilarang keras menyadur, menggandakan, atau mendistribusikan ulang dalam bentuk apa pun untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Redaksi. Kami tidak segan mengambil langkah hukum bagi pihak yang melanggar.

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 18:01 WIB

Membangun Masa Depan Organisasi yang Unggul melalui Integrasi Tata Kelola, Kinerja, Digitalisasi, dan Kolaborasi Berkelanjutan

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:21 WIB

Monitoring Kolaborasi dengan Swasta, dan Akuntabilitas: Tiga Kunci Menjaga Pelayanan Publik Tetap Berpihak pada Masyarakat

Minggu, 19 Juli 2026 - 18:46 WIB

Selendang Budaya Banyuwangi “Osing”

Sabtu, 18 Juli 2026 - 06:11 WIB

Privatisasi, Komersialisasi, dan Efisiensi BUMN PT Pelindo: Antara Tuntutan Pasar dan Kepentingan Publik

Jumat, 17 Juli 2026 - 18:25 WIB

Transformasi Digital Korporasi Publik: Antara Inovasi Pelayanan dan Tantangan Tata Kelola di Indonesia

Berita Terbaru

Kapolda Jambi Irjen Pol. Krisno H. Siregar memimpin langsung Upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) Wakapolda Jambi yang berlangsung di Lapangan Hitam Mapolda Jambi, Selasa (11/8/2026). (Foto: Dok. Humas Polda Jambi)

Kota Jambi

Brigjen K. Yani Sudarto Resmi Jadi Wakapolda Jambi

Selasa, 11 Agu 2026 - 19:36 WIB