Banyuwangi, sebagai wilayah paling timur Pulau Jawa, membentang di persimpangan Selat Bali dan Pegunungan Ijen, menciptakan lanskap geografis yang kaya akan keanekaragaman budaya. Daerah ini dikenal sebagai tanah Blambangan, kerajaan Hindu terakhir yang bertahan hingga abad ke-18, sebelum jatuh ke kekuasaan VOC. Masyarakat Osing, etnis asli yang mendiami pedalaman dan pantai, mempertahanakan identitas unik melalui bahasa, adat, dan seni pertunjukan. Tarian Gandrung muncul sebagai manifestasi utama warisan ini, mengintegrasikan ritual agraris dengan ekspresi emosional kolektif.
Salah satu praktik budaya yang masih lestari hingga kini adalah tradisi masyarakat Osing. Masyarakat Osing merupakan penduduk asli Banyuwangi, yang memiliki bahasa, tradisi, serta ekspresi seni khas yang membedakan mereka dari masyarakat Jawa pada umumnya. Inti budaya masyarakat Osing sangat erat kaitannya dengan praktik pertanian, adat istiadat warisan, dan hubungan yang seimbang dengan lingkungan. Salah satu ekspresi budaya masyarakat Osing yang paling terkenal adalah Tari Gandrung. Tarian ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai lambang rasa syukur atas hasil panen dan cara untuk menghormati leluhur mereka.
Dalam pertunjukan tari Gandrung, ada satu elemen mendasar yang selalu hadir: selendang. Selendang ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan pada busana penari; ia juga sarat dengan makna filosofis yang mendalam. Dalam tradisi Osing, selendang melambangkan kasih sayang, rasa hormat, kelembutan, serta hubungan antara penari dan penonton. Warna merah pada selendang melambangkan semangat, keberanian, dan cinta, sedangkan warna keemasan melambangkan kehormatan dan kemuliaan. Gerakan-gerakan anggun selendang tersebut mengekspresikan keanggunan, persatuan, dan dialog budaya antara penari dan penonton yang menyaksikan pertunjukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Masyarakat Osing Banyuwangi didefinisikan oleh filosofi hidup yang harmonis dengan alam, di mana siklus pertanian padi dan panen menjadi dasar ritual tahunan. Gandrung awalnya lahir sebagai tarian syukur (sledetan) pasca-panen, dilakukan oleh penari laki-laki untuk menghibur tamu dan dewa bumi. Tradisi ini berevolusi pada abad ke-19, ketika perempuan mengambil peran utama, mengubahnya menjadi simbol femininitas dan daya tarik sosial. Pengaruh kolonial Belanda justru memperkuat Gandrung sebagai bentuk resistensi budaya halus, tersebar melalui pertunjukan desa hingga festival skala besra. Dalam antropologi Indonesia, Osing dikategorikan sebagai sub-etnis Jawa dengan ciri khas matrilineal dan sinkretisme spiritual. Dokumentasi etnografis seperti karya koentjaraningrat menyoroti peran Gandrung dalam transmisi nilai komunal.
Penulis : Juwita Alvina : Msh FISIP Universitas 17 Agustus 1945
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal
Halaman : 1 2 Selanjutnya








Komentar