BUNGO – Kabupaten Bungo, Jambi kini berada dalam status siaga satu akibat kemarau ekstrem yang diprediksi akan terus membakar wilayah ini hingga akhir November 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bungo langsung mengambil langkah agresif untuk mengantisipasi ledakan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta krisis air yang kian mencekik warga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Merujuk data resmi BMKG Provinsi Jambi, Kepala BPBD Bungo, Zainadi, menegaskan bahwa situasi ini tidak bisa diremehkan. Seluruh camat, kepala desa, dan masyarakat diwajibkan bergerak serentak tanpa alasan.
“Jangan tunggu api membesar! Kalau sudah meluas, kita semua akan terkepung kabut asap beracun yang mengancam nyawa. Penyelamatan lingkungan ini adalah perang bersama,” tegas Zainadi dengan nada tinggi, Sabtu (5/9/2026).
Sumur Kering, Sungai Sekarat
Bencana tidak hanya datang dari api, tapi juga dari kekeringan ekstrem. Sumber air bersih di berbagai desa telah mati total. Sumur warga mengering, sementara sungai yang menjadi urat nadi kehidupan kini berubah menjadi parit dangkal, keruh, dan gersang.
Merespons darurat ini, armada BPBD Bungo terus dikerahkan siang malam untuk menyuplai air bersih secara paksa ke wilayah terdampak paling parah, termasuk Kecamatan Rantau Pandan dan Muko-Muko Bathin VII.
Peringatan Keras: Jangan Berani Membakar!
BPBD mengeluarkan larangan mutlak: Dilarang keras membuka lahan dengan cara membakar! Kelalaian sekecil apa pun—termasuk membuang puntung rokok sembarangan—akan memicu bencana besar yang berdampak luas. Pihak otoritas memastikan tidak akan ada toleransi bagi siapa pun yang memicu bencana di tengah kondisi lahan yang sudah menyerupai korek api ini.*
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal








Komentar