BLU Impor Minyak: Ketika Negara Lebih Hobi Bikin “Anak Baru” Daripada Urus “Anak Kandung”

Lintas Tungkal

- Redaksi

Minggu, 26 April 2026 - 18:12 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah mau bikin BLU baru buat urus 150 juta barel minyak Rusia. Padahal ada Pertamina. Ada apa? (FOTO : Dok. Istimewa/LT)

Pemerintah mau bikin BLU baru buat urus 150 juta barel minyak Rusia. Padahal ada Pertamina. Ada apa? (FOTO : Dok. Istimewa/LT)

JAMBI – Rencana pemerintah membentuk Badan Layanan Umum (BLU) baru untuk mengelola impor 150 juta barel minyak dari Rusia memicu pertanyaan mendasar: Untuk apa kita punya Pertamina?

Dalih bahwa BLU diperlukan demi fleksibilitas anggaran dan mitigasi risiko korporasi terasa seperti “obat penenang” untuk masalah yang jauh lebih kronis. Jika sebuah BUMN energi sebesar Pertamina dianggap tidak mampu—atau terlalu berisiko—untuk mengeksekusi mandat strategis dari negara, maka masalahnya bukan pada “kurangnya jumlah lembaga”, melainkan pada buruknya kinerja dan keruwetan regulasi di internal lembaga yang sudah ada.

Kita punya Pertamina, raksasa energi dengan aset triliunan. Tapi begitu ada kesempatan impor besar, solusinya bukan memperkuat mereka, melainkan membuat lembaga baru. Ini seperti punya mobil yang mesinnya mogok, tapi alih-alih dibawa ke bengkel, kita malah beli sepeda baru karena merasa “lebih simpel”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada tiga alasan mengapa kebijakan ini patut dikritisi secara tajam:

1. Penyakit “Lembaga Baru untuk Masalah Lama”
Setiap kali ada hambatan birokrasi, pemerintah hobi membuat institusi baru. Ini adalah pola pikir yang redundan. Membuat BLU baru berarti menambah beban operasional negara, rekrutmen baru, dan rantai birokrasi baru. Jika Pertamina dianggap “lambat” karena aturan tender, bukannya aturannya yang dibenahi? Kenapa malah membuat “jalan tikus” lewat lembaga baru?

2. Krisis Kepercayaan pada BUMN
Pembentukan BLU ini adalah sinyal eksplisit bahwa pemerintah tidak sepenuhnya percaya pada kesehatan finansial atau ketangkasan Pertamina dalam menangani kesepakatan besar G2G. Menjauhkan beban impor dari neraca Pertamina mungkin terlihat seperti “penyelamatan” korporasi, namun di sisi lain, ini adalah pengakuan bahwa BUMN kita memang tidak sedang dalam kondisi siap tempur untuk urusan kedaulatan energi.

3. Celah Transparansi Dana APBN
BLU memiliki karakteristik unik: ia dikelola seperti perusahaan tapi menggunakan fasilitas negara. Memasukkan dana APBN dalam jumlah masif ke lembaga yang baru seumur jagung untuk transaksi komoditas global yang fluktuatif adalah perjudian besar. Tanpa pengawasan yang jauh lebih ketat dari DPR dan BPK, BLU ini berisiko menjadi “kotak hitam” baru dalam pengelolaan anggaran energi.

Kesimpulan
Impor minyak murah dari Rusia untuk rakyat memang langkah berani, tapi cara mengeksekusinya tidak boleh terlihat seperti kepanikan birokrasi. Jangan sampai, atas nama “fleksibilitas”, kita justru menciptakan ego sektoral baru yang hanya memperpanjang antrean meja di pemerintahan.

Indonesia tidak butuh lebih banyak lembaga; kita butuh lembaga yang ada bekerja dengan benar.

Penulis : Tim Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jangan Biarkan Negara Hanya Mengejar Pertumbuhan Ekonomi, Sementara Lingkungan Terus Terabaikan
Kopdes Merah Putih: Jangan Sampai Desa Hanya Menjadi Pasar Korporasi
Membangun Masa Depan Organisasi yang Unggul melalui Integrasi Tata Kelola, Kinerja, Digitalisasi, dan Kolaborasi Berkelanjutan
Monitoring Kolaborasi dengan Swasta, dan Akuntabilitas: Tiga Kunci Menjaga Pelayanan Publik Tetap Berpihak pada Masyarakat
Selendang Budaya Banyuwangi “Osing”
Privatisasi, Komersialisasi, dan Efisiensi BUMN PT Pelindo: Antara Tuntutan Pasar dan Kepentingan Publik
Transformasi Digital Korporasi Publik: Antara Inovasi Pelayanan dan Tantangan Tata Kelola di Indonesia
Integrasi Transformasi Digital Untuk Keberlanjutan Organisasi
Berita ini 66 kali dibaca
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG. Dilarang keras menyadur, menggandakan, atau mendistribusikan ulang dalam bentuk apa pun untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Redaksi. Kami tidak segan mengambil langkah hukum bagi pihak yang melanggar.

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 00:32 WIB

Jangan Biarkan Negara Hanya Mengejar Pertumbuhan Ekonomi, Sementara Lingkungan Terus Terabaikan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:19 WIB

Kopdes Merah Putih: Jangan Sampai Desa Hanya Menjadi Pasar Korporasi

Rabu, 22 Juli 2026 - 18:01 WIB

Membangun Masa Depan Organisasi yang Unggul melalui Integrasi Tata Kelola, Kinerja, Digitalisasi, dan Kolaborasi Berkelanjutan

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:21 WIB

Monitoring Kolaborasi dengan Swasta, dan Akuntabilitas: Tiga Kunci Menjaga Pelayanan Publik Tetap Berpihak pada Masyarakat

Minggu, 19 Juli 2026 - 18:46 WIB

Selendang Budaya Banyuwangi “Osing”

Berita Terbaru

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi Saat Memberikan Keterangan Pers seusai rapat koordinasi pemerintah bersama pimpinan DPR RI terkait finalisasi penataan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (6/11/2026). (FOTO : Dok. Istimewa)

Info CPNS-PPPK

Buruan Siapkan Berkas! Pemerintah Bidik Pembukaan CPNS November 2026

Sabtu, 7 Nov 2026 - 18:40 WIB