Beras & Cabai Tak Tumbuh di Atas Aspal Operasi Pasar: Hentikan Seremonial, Urus Produksi!

Lintas Tungkal

- Redaksi

Sabtu, 14 Februari 2026 - 08:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beras & Cabai Tak Tumbuh di Atas Aspal Operasi Pasar: Hentikan Seremonial, Urus Produksi!. FOTO : Ist

Beras & Cabai Tak Tumbuh di Atas Aspal Operasi Pasar: Hentikan Seremonial, Urus Produksi!. FOTO : Ist

KUALA TUNGKAL, 13 Februari 2026 – Kebijakan operasi pasar yang gencar dilakukan belakangan ini dinilai kian jauh dari solusi substansial dan terjebak dalam jebakan seremonial. Di tengah melambungnya harga kebutuhan pokok, pemerintah diingatkan bahwa stabilitas pangan tidak akan pernah lahir dari atas aspal tempat tenda-tenda operasi pasar didirikan, melainkan dari tanah yang digarap oleh petani.

Kritik tajam ini muncul menanggapi fenomena antrean panjang rakyat yang seolah dipaksa menjadi pengemis di lumbung pangan sendiri. Operasi pasar yang dibungkus dengan konten publikasi keberhasilan dianggap hanya menjadi “kosmetik” politik untuk menutupi kegagalan negara dalam melindungi sektor produksi.

“Logikanya lumpuh. Bagaimana mungkin kita bicara kecukupan beras jika lahan tani terus digusur beton dan petani dibiarkan mati perlahan tanpa regenerasi?” bunyi kritik keras terhadap kondisi pangan saat ini. “Beras dan cabai itu butuh tanah untuk tumbuh, bukan butuh kamera untuk diliput. Jangan perlakukan rakyat seperti pengemis yang harus antre berjam-jam demi selisih harga seribu perak, sementara akar masalahnya—yakni ketiadaan penanam—tidak pernah diurus.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Narasi ini menyoroti diskoneksi antara kebijakan distribusi dan realita hulu. Pemerintah dinilai lebih hobi memadamkan kebakaran dengan operasi pasar jangka pendek daripada membangun sistem pertahanan pangan yang kokoh. Jika lahan pertanian terus menyusut dan nasib petani kian terpinggirkan, maka operasi pasar hanya akan menjadi ritual tahunan yang membuang anggaran tanpa dampak permanen.

“Kedaulatan pangan bukan soal seberapa banyak truk beras yang parkir di lapangan kota, tapi seberapa luas sawah yang masih bertahan dan seberapa sejahtera petani yang mengerjakannya. Hentikan mempermalukan rakyat dengan antrean sembako murah demi konten. Rakyat butuh solusi di lahan, bukan ilusi di jalanan.”

Operasi Pasar Hanya Akan Jadi Tontonan Yang Memperlakukan Rakyat Seperti Pengemis Di Negeri Agraris Sendiri. (FOTO : Grafis Lintastungkal)

Sudah saatnya kebijakan nasional bergeser: dari sekadar menjaga angka inflasi di atas kertas, menjadi menjaga keberlangsungan hidup manusia-manusia yang menanam di atas tanah. Karena pada akhirnya, rakyat tidak bisa memakan istilah ekonomi, dan perut yang lapar tidak bisa dikenyangkan dengan rilis berita keberhasilan.

“Kita butuh solusi di lahan, bukan sekadar solusi di atas meja pasar. Berhenti jadikan kesulitan rakyat sebagai konten keberhasilan semu. Karena kenyataannya, perut tidak bisa kenyang hanya dengan istilah ekonomi dan janji distribusi, jika produksinya sendiri sedang mati.”

Sampai kapan kita mau terus-menerus terjebak dalam seremonial operasi pasar? Pengendalian harga pangan bukan soal panggung bagi-bagi kantong beras di depan kamera. Logikanya sederhana: mana mungkin beras tercukupi kalau yang menanamnya sudah tidak ada lagi?

Beras & Cabai Tak Tumbuh di Atas Aspal Operasi Pasar. (FOTO : Grafis Lintastungkal)

#KedaulatanPangan #PetaniLokal #DaruratPangan #OperasiPasar #HargaBeras #KritikSosial

Apa Penadapat Anda Terkait Berita Ini?

Penulis : Tim Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Negara Memberi, Negara Menyita: Mengapa Ribuan Warga Kota Jambi Terjebak dalam “Lahan Terlarang” Pertamina?
Analisis Kritis: Mengapa Kopdes Merah Putih Terancam “Layu Sebelum Berkembang”
Menyelamatkan Arakan Sahur; Mengembalikan Bunyi yang Hilang, Memangkas Kemewahan yang Membunuh
Gerakan Rakyat vs PSI Kejar Target, Gerindra Dikepung?
Mengejar Gizi, Melupakan Guru: Ironi MBG dan Masa Depan SDM
Birokrasi Teatrikal; Ketika Serimoni Mengalahkan Urgensi
Memutus Rantai Kezaliman Struktural Melalui Strategi Korektif Nasional
Refleksi Final Gubernur Cup 2026: Sepak Bola Jambi Butuh Skill, Tapi Lebih Butuh Membangun Budaya Sabar di Lapangan Hijau
Berita ini 49 kali dibaca
Artikel ini telah dihasilkan/diedit oleh AI. Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi.

Berita Terkait

Kamis, 5 Maret 2026 - 12:41 WIB

Negara Memberi, Negara Menyita: Mengapa Ribuan Warga Kota Jambi Terjebak dalam “Lahan Terlarang” Pertamina?

Senin, 2 Maret 2026 - 09:05 WIB

Analisis Kritis: Mengapa Kopdes Merah Putih Terancam “Layu Sebelum Berkembang”

Minggu, 22 Februari 2026 - 04:41 WIB

Menyelamatkan Arakan Sahur; Mengembalikan Bunyi yang Hilang, Memangkas Kemewahan yang Membunuh

Sabtu, 14 Februari 2026 - 08:27 WIB

Beras & Cabai Tak Tumbuh di Atas Aspal Operasi Pasar: Hentikan Seremonial, Urus Produksi!

Selasa, 10 Februari 2026 - 09:59 WIB

Gerakan Rakyat vs PSI Kejar Target, Gerindra Dikepung?

Berita Terbaru