KUALA TUNGKAL, 13 Februari 2026 – Kebijakan operasi pasar yang gencar dilakukan belakangan ini dinilai kian jauh dari solusi substansial dan terjebak dalam jebakan seremonial. Di tengah melambungnya harga kebutuhan pokok, pemerintah diingatkan bahwa stabilitas pangan tidak akan pernah lahir dari atas aspal tempat tenda-tenda operasi pasar didirikan, melainkan dari tanah yang digarap oleh petani.
Kritik tajam ini muncul menanggapi fenomena antrean panjang rakyat yang seolah dipaksa menjadi pengemis di lumbung pangan sendiri. Operasi pasar yang dibungkus dengan konten publikasi keberhasilan dianggap hanya menjadi “kosmetik” politik untuk menutupi kegagalan negara dalam melindungi sektor produksi.
“Logikanya lumpuh. Bagaimana mungkin kita bicara kecukupan beras jika lahan tani terus digusur beton dan petani dibiarkan mati perlahan tanpa regenerasi?” bunyi kritik keras terhadap kondisi pangan saat ini. “Beras dan cabai itu butuh tanah untuk tumbuh, bukan butuh kamera untuk diliput. Jangan perlakukan rakyat seperti pengemis yang harus antre berjam-jam demi selisih harga seribu perak, sementara akar masalahnya—yakni ketiadaan penanam—tidak pernah diurus.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Narasi ini menyoroti diskoneksi antara kebijakan distribusi dan realita hulu. Pemerintah dinilai lebih hobi memadamkan kebakaran dengan operasi pasar jangka pendek daripada membangun sistem pertahanan pangan yang kokoh. Jika lahan pertanian terus menyusut dan nasib petani kian terpinggirkan, maka operasi pasar hanya akan menjadi ritual tahunan yang membuang anggaran tanpa dampak permanen.
“Kedaulatan pangan bukan soal seberapa banyak truk beras yang parkir di lapangan kota, tapi seberapa luas sawah yang masih bertahan dan seberapa sejahtera petani yang mengerjakannya. Hentikan mempermalukan rakyat dengan antrean sembako murah demi konten. Rakyat butuh solusi di lahan, bukan ilusi di jalanan.”

Sudah saatnya kebijakan nasional bergeser: dari sekadar menjaga angka inflasi di atas kertas, menjadi menjaga keberlangsungan hidup manusia-manusia yang menanam di atas tanah. Karena pada akhirnya, rakyat tidak bisa memakan istilah ekonomi, dan perut yang lapar tidak bisa dikenyangkan dengan rilis berita keberhasilan.
“Kita butuh solusi di lahan, bukan sekadar solusi di atas meja pasar. Berhenti jadikan kesulitan rakyat sebagai konten keberhasilan semu. Karena kenyataannya, perut tidak bisa kenyang hanya dengan istilah ekonomi dan janji distribusi, jika produksinya sendiri sedang mati.”
Sampai kapan kita mau terus-menerus terjebak dalam seremonial operasi pasar? Pengendalian harga pangan bukan soal panggung bagi-bagi kantong beras di depan kamera. Logikanya sederhana: mana mungkin beras tercukupi kalau yang menanamnya sudah tidak ada lagi?

#KedaulatanPangan #PetaniLokal #DaruratPangan #OperasiPasar #HargaBeras #KritikSosial
Penulis : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal





![IRONI ANTREAN MANUAL: Menjelang momen Idul Fitri yang menuntut mobilitas transaksi tinggi, Bank Jambi justru mengalami kelumpuhan digital yang memaksa nasabahnya mengantre fisik secara melelahkan. Meski manajemen telah menjamin keamanan dana nasabah dan memulihkan saldo yang sempat terdampak, belum aktifnya layanan elektronik hingga hari ini menimbulkan pertanyaan besar di masyarakat: apakah ini murni masalah teknis, atau upaya pengendalian dana nasabah di tengah krisis kepercayaan?. [FOTO: ILUSTRASI]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260307-WA0010-225x129.jpg)





