Gerakan Rakyat vs PSI Kejar Target, Gerindra Dikepung?

Lintas Tungkal

- Redaksi

Selasa, 10 Februari 2026 - 09:59 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gerakan Rakyat vs PSI Kejar Target, Gerindra Dikepung?. GRAFIS : LT

Gerakan Rakyat vs PSI Kejar Target, Gerindra Dikepung?. GRAFIS : LT

Peta politik Indonesia menuju 2029 tidak lagi sekadar tentang siapa yang berkuasa, melainkan tentang bagaimana “kue kekuasaan” akan diperebutkan kembali oleh para aktor utama. Di tengah stabilnya pemerintahan saat ini, sebuah anomali mulai muncul ke permukaan: Partai Gerindra, sang pemenang takhta, seolah sedang dikepung oleh dua kekuatan raksasa dari arah yang berlawanan.

Di satu sisi, ada Gerakan Rakyat yang kini bertransformasi menjadi kekuatan politik formal di bawah komando Anies Baswedan. Di sisi lain, PSI dengan sokongan penuh figur Kingmaker mantan Presiden Jokowi mulai menunjukkan taringnya sebagai kendaraan politik masa depan trah Solo. Pertanyaannya: Apakah koalisi “gendut” Prabowo-Gibran masih akan berada dalam satu rumah tangga pada 2029?

Berikut adalah analisis tajam mengenai kekuatan kubu-kubu yang bertarung serta dinamika internal koalisi penguasa:
1. Kekuatan Masing-Masing Kubu: Strategi dan Amunisi
Kubu Politik Tokoh Kunci & Kendaraan Kekuatan Utama Target Strategis
Gerakan Rakyat Anies Baswedan (Partai Gerakan Rakyat) Basis massa organik dan pendukung setia pasca-2024. Pemanfaatan putusan MK (PT 0%) untuk tiket mandiri. Menantang petahana dengan narasi perubahan dan masalah ekonomi warga.
Loyalis Jokowi Gibran Rakabuming, PSI (Ditopang Jokowi) Pengaruh besar “Jokowi Effect”, kendali sumber daya strategis, dan penguasaan segmentasi pemilih muda. Menjaga keberlanjutan pengaruh trah Solo dan mengamankan kursi parlemen di 2029.
Kubu Petahana Prabowo Subianto (Gerindra) Kontrol penuh atas struktur pemerintahan saat ini dan elektabilitas yang masih tertinggi di berbagai survei. Mempertahankan status quo dan membangun warisan (legacy) kepemimpinan nasional.

2. Analisis “Kepungan” terhadap Gerindra (Koalisi Gemuk)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepungan dari Luar: Anies dan Partai Gerakan Rakyat

Deklarasi Partai Gerakan Rakyat pada Januari 2026 menjadi titik balik penting. Anies Baswedan tidak lagi sekadar “penumpang” di partai orang lain. Dengan memanfaatkan Putusan MK terkait Presidential Threshold (PT) 0%, Anies kini memiliki kunci mandiri menuju Pilpres 2029.

Secara elektoral, Anies merawat basis massa organik yang kritis. Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi (Indikator Politik) mencatat bahwa peluang Anies melaju mandiri sangat terbuka lebar asalkan lolos verifikasi KPU. Ini adalah ancaman nyata bagi Gerindra, karena narasi “Perubahan” akan selalu menemukan pasarnya, terutama jika isu ekonomi dan harga pangan gagal dijinakkan oleh petahana.

Kepungan dari Dalam: PSI dan “Jokowisme”

Namun, ancaman paling menarik justru datang dari dalam koalisi sendiri. PSI kini bukan lagi “partai bocil” yang bisa dipandang sebelah mata. Dukungan terbuka Jokowi terhadap PSI di awal 2026 mempertegas posisi partai ini sebagai pelindung ideologi “Jokowisme”.

Target PSI sangat jelas: mengamankan kursi parlemen dan mempersiapkan Gibran Rakabuming Raka untuk posisi yang lebih tinggi di 2029. Manuver Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, yang menyebut Gibran sebagai lawan tangguh jika dilepaskan dari koalisi, adalah sebuah sinyal peringatan (warning shot) bagi Gerindra. Jika PSI menguat, dominasi Gerindra dalam mendikte arah koalisi akan tergerus oleh kekuatan bayang-bayang Jokowi.

3. Keretakan di “Rumah Tangga” Gendut?

Perkawinan politik Prabowo-Gibran saat ini ibarat sebuah gedung megah yang fondasinya mulai diguncang ambisi masing-masing penghuninya. Ada tiga faktor yang bisa memicu “perceraian” di 2029:

  1. Ambisi RI-1: Akankah kelompok loyalis Jokowi puas hanya dengan kursi RI-2 di periode kedua? Ataukah mereka akan mendorong Gibran maju sebagai Capres melalui kendaraan PSI dan koalisi baru?
  2. Perebutan Kursi Cawapres: Munculnya sinyal dari PAN yang mulai menyodorkan nama lain (seperti Zulkifli Hasan) untuk 2029 menunjukkan bahwa posisi Gibran tidak lagi “eksklusif” di mata partai koalisi lainnya.
  3. Strategi Delegitimasi: Upaya pelemahan terhadap pengaruh keluarga Jokowi belakangan ini dinilai sebagai strategi politik untuk memastikan endorse effect Jokowi tidak sekuat pada 2024, sehingga Gerindra bisa tetap memegang kendali penuh.

Kesimpulan: Siapa yang Bertahan?

Gerindra memang berada di puncak, namun mereka dikepung oleh idealisme “Gerakan Rakyat” di luar dan pragmatisme “PSI/Trah Solo” di dalam. Sejarah politik Indonesia jarang mencatat Wapres bertahan mendampingi Presiden yang sama untuk dua periode secara mulus.

2029 akan menjadi panggung di mana kesetiaan diuji oleh ambisi. Apakah Prabowo akan tetap bersama Gibran, ataukah konstelasi politik akan memaksa mereka menjadi rival dalam pertempuran yang lebih besar? Satu yang pasti: Ruang publik kini sedang menonton, siapakah yang akan benar-benar menjadi “tuan” di rumahnya sendiri.

Bagaimana menurut Anda? Apakah Gibran akan tetap setia pada bendera koalisi saat ini, atau justru 2029 akan menjadi panggung rivalitas antara Gerindra dan kekuatan baru Jokowi-PSI?

Penulis : Arham [Pengaman Politik]

Editor : Tim Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BREAKING NEWS : Ganjil-Genap BBM Pertalite di Bali Mulai 17 Oktober, Pengisian Dibatasi hingga 20 Liter
Bupati Anwar Sadat Jenguk Pasien ISPA di RSUD KH. Daud Arif, Ada 2 Balita Jalani Perawatan
OTT Pejabat BNPB, KPK Dalami Dugaan Korupsi Dana Kebencanaan
BNPB: 1.170 Jiwa Terdampak Banjir Padang, 63 Hektare Terbakar di Merauke, Banjir dan Longsor Terjang Aceh
Sengketa Lahan Taman Raja Belum Tuntas, Wabup Katamso Instruksikan BPN Cek Batas dan Minta Pihak Bersengketa Buka Dokumen
Kemensos Registrasi Ulang Penerima Bansos Lewat Perlinsos Digital, Baca di Sini Ketentuannya!
Rasio Elektrifikasi Belum 100%, Wabup Tanjab Barat Datangi Kementerian ESDM Demi 25 Desa Ini
DPRD dan Pemkab Tanjab Barat Desak Optimalisasi Peran Perusahaan Atasi Karhutla
Berita ini 108 kali dibaca
Artikel ini telah dihasilkan/diedit oleh AI. Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi.

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 00:17 WIB

BREAKING NEWS : Ganjil-Genap BBM Pertalite di Bali Mulai 17 Oktober, Pengisian Dibatasi hingga 20 Liter

Jumat, 16 Oktober 2026 - 20:32 WIB

Bupati Anwar Sadat Jenguk Pasien ISPA di RSUD KH. Daud Arif, Ada 2 Balita Jalani Perawatan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 01:00 WIB

OTT Pejabat BNPB, KPK Dalami Dugaan Korupsi Dana Kebencanaan

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:33 WIB

BNPB: 1.170 Jiwa Terdampak Banjir Padang, 63 Hektare Terbakar di Merauke, Banjir dan Longsor Terjang Aceh

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:29 WIB

Sengketa Lahan Taman Raja Belum Tuntas, Wabup Katamso Instruksikan BPN Cek Batas dan Minta Pihak Bersengketa Buka Dokumen

Berita Terbaru