JAMBI – Kemenangan Kota Jambi atas Kabupaten Merangin di Final Gubernur Cup 2026, Minggu (25//1/26) seharusnya menjadi berita utama yang membanggakan. Namun, tajuk berita justru tertutup oleh kepulan emosi dan aksi baku pukul. Stadion Swarna Bhumi Pijoan kembali menjadi saksi bahwa masalah terbesar sepak bola kita bukanlah kurangnya bakat, melainkan rendahnya kontrol diri.
Saat ini, sudah saatnya kita mempertimbangkan langkah-langkah preventif untuk menjaga marwah turnamen ini:
- Program Pembekalan Mental: Alangkah baiknya jika di masa depan, setiap tim yang berlaga di Gubernur Cup mendapatkan sesi penguatan mental atau psikologi olahraga. Ini akan membantu mereka memahami cara mengelola stres saat pertandingan krusial.
- Peran Keteladanan Ofisial: Staf pelatih dan manajemen tim memiliki peran besar sebagai penenang. Dengan kontrol diri yang baik dari pinggir lapangan, para pemain muda pun akan terinspirasi untuk bermain dengan kepala dingin.
- Ofisial Sebagai Provokator: Seringkali api kericuhan bukan disulut oleh pemain di lapangan, melainkan ofisial di pinggir lapangan yang gagal menahan diri. Mereka seharusnya menjadi penenang, bukan justru menjadi garda terdepan dalam adu jotos.
- Mentalitas “Menang Harga Mati”: Tekanan tinggi dalam turnamen gengsi daerah membuat sportivitas seringkali dikorbankan demi gengsi daerah. Pemain perlu dididik bahwa kekalahan adalah bagian dari evaluasi, bukan alasan untuk anarki.
- Citra Sepak Bola Daerah: Jika setiap final selalu berakhir ricuh, sponsor akan lari, dan orang tua akan takut membiarkan anak-anak mereka mengejar karier di sepak bola. Kita sedang menghancurkan masa depan atlet kita sendiri.
- Visi Jangka Panjang: Kita semua ingin melihat sepak bola Jambi melahirkan talenta nasional. Untuk mencapai itu, kita harus menanamkan nilai bahwa karakter yang kuat dan sikap respek adalah identitas utama atlet dari Bumi Jambi.
Rekomendasi untuk Asprov PSSI Jambi dan Panitia:
Sudah saatnya sertifikasi kepelatihan dan pendaftaran pemain di Gubernur Cup menyertakan Tes Psikologi atau Workshop Manajemen Konflik. Tim yang tidak mampu mengontrol ofisialnya harus diberi sanksi diskualifikasi permanen dari turnamen di tahun berikutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jangan biarkan Gubernur Cup hanya menjadi ajang “hujan bogem mentah” tahunan. Kita ingin melihat gol indah, bukan bogem mentah.
Mari kita jadikan insiden kemarin sebagai titik balik untuk berbenah. Kita berharap Gubernur Cup mendatang menjadi panggung yang murni merayakan bakat dan persaudaraan antardaerah, di mana setiap gol dirayakan dengan kegembiraan, dan setiap kekalahan diterima dengan kebesaran hati.
#SepakBolaDamai atau #GubernurCupJambi.
Penulis : Ridho [Pecinta Sepak Bola Jambi]
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal






