Perang Dalam Senyap Melawan Buzzer dan Pembela Oligarki Melalui Media Sosial

Lintas Tungkal

- Redaksi

Minggu, 12 Januari 2025 - 18:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jacob Ereste. FOTO : Ist

Jacob Ereste. FOTO : Ist

BANTEN, 10 Januari 2025 -Pada akhirnya perlu juga diceritakan pengalaman pahit yang indah, seperti minum kopi tanpa gula, karena memang sudah saatnya untuk mengendalikan selera yang sudah menjadi bagian dari tradisi sejak semasa anak-anak di kampung dahulu. Masalahnya adalah budaya dalam media sosial yang urakan seperti perilaku para buzzer yang tidak suka dengan ulasan kritis yang disajikan mereka anggap menyerang kenyamanan maupun keamanan majikan mereka yang telah membayar dengan dengan ongkos yang mahal. Untung saja masa tenggang yang cukup telah membuat kebiasaan seperti minum kopi pahit itu telah menjadi bagian dari kebiasaan hidup untuk lebih bersabar tidak ikut emosional terpancing oleh ulah urakan mereka yang mengganggu bahkan sudah berulang kali merusak perangkat sistem media sosial milik saya dengan berbagai cara.

Mulanya mereka menteror dengan mengirimkan gambar-gambar yang seronok dan tidak sopan bahkan cabul. Ada juga cara mereka menteror dengan cara meneruskan berita dan gambar yang hoax dengan narasi yang dibuat dengan sangat meyakinkan. Padahal semua itu hanya jebakan semata supaya kita ikut terpengaruh atau menyebarkannya juga.

Ibarat minum kopi pahit tanpa gula untungnya telah menjadi kebiasaan seperti kebiasaan tuntunan para sufi dalam melakoni pengembaraan spiritual sebagai bagian dari rangkaian ibadah yang tidak perlu mendapat pengawasan dari siapa pun, sebab kegunaan serta manfaatnya adalah untuk dan demi diri sendiri. Maka itu komentar usil mereka tidak pernah mampu membuat panas kuping yang sudah cukup terlatih untuk tidak bergeming dari tohokan para buzzer yang bekerja demi uang itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seperti semasa anak-anak saat di kampung dahulu, kebiasaan meminum kopi saat pagi serta pada waktu menjelang sore telah menjadi kebiasaan umum anak-anak hingga usia dewasa yang memang hidup di lingkungan warga masyarakat petani yang berkebun kopi. Budaya yang telah turun temurun dilakukan ini tampak mulai menyurut pada penghujung tahun 1990, karena petani sangat dipengaruhi oleh kegandrungan baru untuk menanam pohon cengkeh. Baru.kemudisn tahun 2.000 mulai gandrung menanam singkong alias ubi kayu yang relatif lebih cepat bisa segera menghasilkan duit. Artinya, dalam hidup petani pun, tradisi para petani kopi mulai ikut dipengaruhi oleh orientasi materi yang dipicu oleh materialis hingga ikut pula memperenggang jarak tradisi petani dengan tradisi spiritual yang semula sangat kental dalam kehidupan petani. Agaknya, seperti itu pula kehidupan manusia dalam habitat yang lain. Utamanya bagi petani di desa yang bergeser menjadi manusia urban — meski tetap sulit meninggalkan budaya dan tradisi agraris yang terlanjur mengakar sejak jaman para leluhur hingga menjadi sisa warisan seperti yang tampak menggelayuti manusia di berbagai kota besar Indonesia, termasuk yang ada di Ibu Kota Jakarta sekali pun yang sudah menyandang bergelar sebagai kota metropolitan.

Penulis : Jacob Ereste

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BLU Impor Minyak: Ketika Negara Lebih Hobi Bikin “Anak Baru” Daripada Urus “Anak Kandung”
MBG dan KKDM Penyumbang Defisit Terbesar, Investasi SDM atau Jebakan Utang Baru?
Masa Depan ASN PPPK dalam Pusaran UU HKPD: Efisiensi atau Eksekusi?
Membedah Panggung “Zakat Politic”: Saat Kesalehan Umat Jadi Komoditas Citra
Negara Memberi, Negara Menyita: Mengapa Ribuan Warga Kota Jambi Terjebak dalam “Lahan Terlarang” Pertamina?
Analisis Kritis: Mengapa Kopdes Merah Putih Terancam “Layu Sebelum Berkembang”
Menyelamatkan Arakan Sahur; Mengembalikan Bunyi yang Hilang, Memangkas Kemewahan yang Membunuh
Beras & Cabai Tak Tumbuh di Atas Aspal Operasi Pasar: Hentikan Seremonial, Urus Produksi!
Berita ini 97 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi.

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 18:12 WIB

BLU Impor Minyak: Ketika Negara Lebih Hobi Bikin “Anak Baru” Daripada Urus “Anak Kandung”

Senin, 6 April 2026 - 17:21 WIB

MBG dan KKDM Penyumbang Defisit Terbesar, Investasi SDM atau Jebakan Utang Baru?

Sabtu, 28 Maret 2026 - 18:11 WIB

Masa Depan ASN PPPK dalam Pusaran UU HKPD: Efisiensi atau Eksekusi?

Kamis, 12 Maret 2026 - 13:54 WIB

Membedah Panggung “Zakat Politic”: Saat Kesalehan Umat Jadi Komoditas Citra

Kamis, 5 Maret 2026 - 12:41 WIB

Negara Memberi, Negara Menyita: Mengapa Ribuan Warga Kota Jambi Terjebak dalam “Lahan Terlarang” Pertamina?

Berita Terbaru