KUALA TUNGKAL – Bukan lagi sekadar rusak atau mangkrak, Pelabuhan Tangga Rajo Ulu kini benar-benar hilang. Sejak ambruknya dermaga ikonik di kawasan Waterfront City (WFC) pada 6 September 2025 lalu, pusat nadi logistik Tanjung Jabung Barat ini seolah terhapus dari garis pantai dan perhatian pemangku kebijakan.
Yang tersisa kini hanyalah puing-puing bisu dan kehampaan ekonomi yang mencekik ratusan nasib buruh serta pedagang kecil di Tanjung Jabung Barat yang biasa melakukan aktivitas bongkar muaut.
Hilang Fisiknya, Lenyap Fungsinya
Absennya aktivitas bongkar muat di lokasi strategis ini memicu efek domino. Kondisi di lapangan saat ini hanya menyisakan ruang kosong dan puing yang membisu. Hilangnya dermaga sepanjang 30 meter tersebut bukan hanya soal hilangnya struktur beton dan kayu, tetapi hilangnya akses hidup bagi ratusan buruh angkut, pemilik pompong, dan pedagang sembako. Aktivitas bongkar muat yang dulu menjadi pemandangan harian kini sirna, memaksa para pelaku ekonomi lokal mencari “suaka” di pelabuhan lain dengan biaya operasional yang mencekik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kritik Atas Pembiaran: Estetika Mengalahkan Logistik?
Sangat ironis melihat Pelabuhan Tanggo Rajo Ulu “menghilang” di tengah upaya pemerintah mempercantik kawasan wisata WFC. Publik mulai mempertanyakan prioritas daerah: Apakah pembangunan hanya menyasar aspek kosmetik untuk pariwisata, sementara infrastruktur penunjang ekonomi rakyat dibiarkan karam dan hilang begitu saja? Tanpa adanya tanda-tanda rekonstruksi yang nyata, hilangnya pelabuhan ini adalah bukti nyata kegagalan mitigasi dan lambannya respons birokrasi.
Menagih Jejak yang Terhapus
Masyarakat Kuala Tungkal tidak butuh sekadar peninjauan lokasi yang berulang-ulang. Mereka menuntut kembalinya Tanggo Rajo Ulu ke dalam peta pembangunan daerah. Membiarkan pelabuhan ini tetap “hilang” sama saja dengan memutus rantai distribusi pangan dan hasil bumi yang selama puluhan tahun menjadi penopang ekonomi Jambi.
Jika tidak segera dibangun kembali, Tanggo Rajo Ulu akan benar-benar menjadi sejarah—sebuah pelabuhan yang hilang karena kelalaian, di saat rakyat sangat membutuhkannya. Membiarkan pelabuhan ini tetap hilang adalah bentuk pengabaian nyata terhadap sektor riil yang selama puluhan tahun telah menghidupi ribuan perut masyarakat di pesisir Jambi.
“Tanggo Rajo Ulu adalah harga diri ekonomi Kuala Tungkal. Membiarkannya hilang adalah kejahatan. Membangunnya kembali adalah Kebijakan Kemanusiaan!
Penulis : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal









![Ilustrasi: Dana zakat, infak, dan sedekah dihimpun dari masyarakat dengan niat ibadah, namun dalam praktik penyalurannya kerap tampil sebagai program bantuan yang dipresentasikan oleh pejabat di ruang publik. [FOTO: ILUSTRASI/LT]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260308-WA0008-360x200.jpg)

