Menyelamatkan Arakan Sahur; Mengembalikan Bunyi yang Hilang, Memangkas Kemewahan yang Membunuh

Lintas Tungkal

- Redaksi

Minggu, 22 Februari 2026 - 04:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret kemewahan maket dalam Festival Arakan Sahur yang kini menjadi fokus utama penilaian. Dekorasi yang masif dan penggunaan lampu hias yang artistik seperti pada peserta nomor 22 ini mencerminkan tingginya biaya operasional yang harus dikeluarkan kelompok peserta, sebuah pergeseran dari tradisi tabuhan sederhana yang kini mulai terancam kelestariannya. FOTO : LINTASTUNGKAL

Potret kemewahan maket dalam Festival Arakan Sahur yang kini menjadi fokus utama penilaian. Dekorasi yang masif dan penggunaan lampu hias yang artistik seperti pada peserta nomor 22 ini mencerminkan tingginya biaya operasional yang harus dikeluarkan kelompok peserta, sebuah pergeseran dari tradisi tabuhan sederhana yang kini mulai terancam kelestariannya. FOTO : LINTASTUNGKAL

KUALA TUNGKAL – Kondisi Festival Arakan Sahur di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat saat ini sedang berada di titik nadir. Data kepesertaan tiga tahun terakhir adalah “alarm” keras yang tak boleh diabaikan: dari 18 kelompok di tahun 2024, merosot ke 12 kelompok di 2025, hingga menyisakan hanya 9 kelompok di tahun 2026. Kehilangan 50% peserta dalam waktu singkat bukan sekadar angka statistik, melainkan sinyal bahwa tradisi kebanggaan masyarakat ini sedang sekarat.

Dengan sisa 9 kelompok di tahun 2026, kondisi ini sudah masuk kategori siaga. Jika tren ini dibiarkan, Festival Arakan Sahur yang sudah diakui sebagai bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) 2024 oleh Kemenparekraf, menjadikannya agenda wisata nasional terancam hanya menjadi catatan sejarah.

Berikut adalah rincian data penurunan peserta tersebut:
Tahun Jumlah Kelompok Peserta Persentase Penurunan
2024 18 Kelompok
2025 12 Kelompok ↓ 33,3%
2026 9 Kelompok ↓ 25,0% (Total penurunan 50% dari 2024)
Kondisi Terkini di Tahun 2026
Pada penyelenggaraan tahun 2026, terdapat beberapa perubahan kebijakan dan situasi yang mempertegas kondisi “terancam” tersebut:
  • Frekuensi Berkurang: Festival Arakan Sahur 2026 di Kabupaten Tanjung Jabung Barat direncanakan hanya dilaksanakan sebanyak dua kali penampilan selama bulan Ramadan, yaitu pada 21 Februari dan 7 Maret 2026. Kemudian ditambah pada 28 Februari 2028, menjadi tiga kali yang diklaim karena efisiensi anggaran.
  • Peserta Minim: Dengan hanya tersisa 9 kelompok, kemeriahan yang biasanya melibatkan puluhan kelompok dari berbagai remaja masjid dan organisasi kini menyusut drastis.
  • Status Pariwisata: Meskipun festival ini telah masuk dalam agenda pariwisata Provinsi Jambi dan didukung penuh oleh pemerintah daerah, penurunan minat peserta secara lokal menjadi tantangan besar bagi pelestarian budaya ini.

Ironi di Sepanjang Rute: Senyap dalam Kemegahan
Mengapa gairah ini luntur? Penyebab utamanya adalah pergeseran nilai yang fatal. Arakan sahur yang secara filosofis identik dengan ritme bunyi-bunyian untuk membangunkan warga, kini telah berubah menjadi “pawai maket bisu”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Faktanya, di sepanjang rute yang dilewati, kita tidak lagi mendengar riuhnya tabuhan alat tradisional yang memicu semangat sahur. Suasana jalanan justru terasa senyap; hanya ada deretan maket raksasa yang bergerak perlahan dalam diam. Tabuhan bunyi-bunyian kini hanya menggema di check point atau lokasi penilaian saja. Peserta seolah “menyimpan tenaga” hanya untuk memukau juri, sementara warga di sepanjang jalan hanya menonton benda mati yang lewat tanpa nyawa. Ini adalah penyimpangan jauh dari nilai asli arakan sahur yang turun-temurun dilakukan untuk berinteraksi dan membangunkan masyarakat.

Jebakan Visual dan Beban Biaya
Pergeseran ini menciptakan beban estetika yang sangat mahal. Fokus penilaian yang terlalu menonjolkan kemegahan maket memaksa peserta terjebak dalam perlombaan materialisme. Akibatnya, banyak kelompok remaja masjid yang memiliki musikalitas tinggi namun minim dana akhirnya memilih mundur. Mereka kalah sebelum bertanding karena tidak sanggup membiayai pembuatan maket yang menyentuh angka belasan juta rupiah. Kita sedang menyaksikan sebuah tradisi yang mati pelan-pelan karena tercekik oleh “gengsi visual” yang tidak relevan.

Strategi Revitalisasi: Kembali ke Akar
Jika ingin festival ini bertahan, kita butuh intervensi radikal dari pengambil kebijakan:

  1. Wajib Bunyi di Sepanjang Rute: Panitia harus mewajibkan peserta untuk terus menabuh alat musik di sepanjang jalur. Penilaian harus dilakukan secara acak oleh “juri rahasia” di titik-titik pemukiman untuk memastikan esensi “membangunkan warga” tetap terjaga.
  2. Reorientasi Penilaian (Bunyi di Atas Rupa): Kembalikan porsi nilai terbesar pada kualitas musik dan vokal. Maket harus diposisikan kembali sebagai pendukung, bukan penentu utama kemenangan.
  3. Pembatasan Dekorasi & Subsidi: Tetapkan batas maksimal biaya dekorasi dan gunakan aturan bahan daur ulang. Selain itu, pemerintah harus memberikan dana stimulan di awal pendaftaran, bukan hanya hadiah di akhir acara.

Pesan untuk Pemkab dan Panitia: Bertindak atau Punah
Kiranya Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan panitia penyelenggara untuk tidak terpaku pada megahnya seremoni pembukaan semata. Kesuksesan festival tidak diukur dari seberapa mewah panggung utamanya, melainkan dari seberapa banyak pemuda yang terlibat dan seberapa kencang gema takbir serta perkusi di sepanjang jalan.

Jangan biarkan regulasi penilaian yang kaku menjadi “algojo” bagi tradisi ini. Jika aturan tidak segera diubah, jangan kaget jika tahun depan festival ini hanya akan menjadi parade mobil hias yang sunyi, kehilangan ruh, dan akhirnya ditinggalkan sepenuhnya oleh masyarakat.

Kesimpulan
Festival Arakan Sahur adalah identitas. Kehilangan festival ini berarti kehilangan ruh Ramadan di Kuala Tungkal. Pilihannya hanya dua: melakukan intervensi radikal sekarang, atau membiarkan lampu-lampu di gerobak arakan padam selamanya. Revitalisasi bukan berarti menolak keindahan, tetapi menolak pemborosan yang mematikan partisipasi. Mengembalikan Arakan Sahur pada bunyi-bunyian adalah cara paling efektif untuk menurunkan biaya sekaligus menyelamatkan marwah tradisi aslinya.

Mari kita hentikan “kontes maket bisu” ini dan kembalikan Arakan Sahur pada bunyi yang menghidupkan.

Kembalikan Festival Arakan Sahur pada bunyinya, bukan pada bungkusnya!

DISCLAIMER:
“Artikel opini ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis sebagai bentuk respons atas keresahan publik terhadap masa depan tradisi lokal. Tulisan ini disusun dengan niat tulus untuk pelestarian budaya dan tidak bermaksud menyudutkan pihak mana pun, baik penyelenggara maupun peserta. Kritik yang disampaikan semata-mata adalah upaya evaluasi bersama demi menjaga marwah Festival Arakan Sahur agar tetap lestari dan inklusif. Mohon bijak dalam menyikapi setiap poin pemikiran ini.”

Penulis : Angah

Editor : Tim Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membedah Panggung “Zakat Politic”: Saat Kesalehan Umat Jadi Komoditas Citra
Negara Memberi, Negara Menyita: Mengapa Ribuan Warga Kota Jambi Terjebak dalam “Lahan Terlarang” Pertamina?
Analisis Kritis: Mengapa Kopdes Merah Putih Terancam “Layu Sebelum Berkembang”
Beras & Cabai Tak Tumbuh di Atas Aspal Operasi Pasar: Hentikan Seremonial, Urus Produksi!
Gerakan Rakyat vs PSI Kejar Target, Gerindra Dikepung?
Mengejar Gizi, Melupakan Guru: Ironi MBG dan Masa Depan SDM
Birokrasi Teatrikal; Ketika Serimoni Mengalahkan Urgensi
Memutus Rantai Kezaliman Struktural Melalui Strategi Korektif Nasional
Berita ini 70 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi.

Berita Terkait

Kamis, 12 Maret 2026 - 13:54 WIB

Membedah Panggung “Zakat Politic”: Saat Kesalehan Umat Jadi Komoditas Citra

Kamis, 5 Maret 2026 - 12:41 WIB

Negara Memberi, Negara Menyita: Mengapa Ribuan Warga Kota Jambi Terjebak dalam “Lahan Terlarang” Pertamina?

Senin, 2 Maret 2026 - 09:05 WIB

Analisis Kritis: Mengapa Kopdes Merah Putih Terancam “Layu Sebelum Berkembang”

Minggu, 22 Februari 2026 - 04:41 WIB

Menyelamatkan Arakan Sahur; Mengembalikan Bunyi yang Hilang, Memangkas Kemewahan yang Membunuh

Sabtu, 14 Februari 2026 - 08:27 WIB

Beras & Cabai Tak Tumbuh di Atas Aspal Operasi Pasar: Hentikan Seremonial, Urus Produksi!

Berita Terbaru

Menaker Yassierli aktif memantau penanganan aduan terkait Tunjangan Hari Raya (THR) dan Bonus Hari Raya (BHR) melalui posko yang dibentuk oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). (FOTO : Dok. Istimewa/Menaker)

Jakarta

Kemnaker Pastikan Aduan THR Ditindaklanjuti secara Intensif

Kamis, 26 Mar 2026 - 08:10 WIB