KUALA TUNGKAL – Bagi wisatawan, Ekowisata Mangrove Pangkal Babu adalah surga hijau di pesisir Tanjung Jabung Barat. Namun, bagi masyarakat lokal dan para nelayan yang telah puluhan tahun melintasi jalur muaranya, rimbunnya akar bakau di sana menyimpan “cerita” yang jauh lebih tua dari sekadar objek wisata.
Di balik keindahannya, terselip sebuah mitos yang hingga kini masih diperbincangkan: Keberadaan Perkampungan Gaib Orang Bunian.
Suara Keramaian di Tengah Kesunyian
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Banyak cerita beredar dari mulut ke mulut tentang nelayan yang terpaksa berteduh di sekitar hutan mangrove saat cuaca buruk atau air pasang besar. Beberapa di antara mereka mengaku mendengar suara riuh layaknya sebuah pasar atau pemukiman padat penduduk tepat di tengah hutan yang tak mungkin dihuni manusia.
“Suaranya jelas, ada orang mengobrol, suara aktivitas, tapi saat dilihat hanya ada jajaran pohon api-api dan bakau yang rapat,” ujar salah satu penutur cerita lokal.
Fenomena inilah yang menguatkan keyakinan warga bahwa Pangkal Babu bukan sekadar hutan biasa, melainkan gerbang menuju dimensi lain.
“Waktu itu air sedang pasang besar, saya terpaksa menepi ke arah bakau untuk memperbaiki mesin perahu yang mogok. Hari sudah menjelang magrib. Di tengah kesunyian, tiba-tiba saya mendengar suara ramai sekali, seperti ada kerumunan orang yang sedang tawar-menawar di pasar. Padahal saya tahu persis, radius beberapa kilometer dari situ tidak ada satu pun rumah warga. Begitu mesin hidup, saya langsung tancap gas tanpa berani menoleh lagi.” — (Seorang Nelayan Lokal, 54 Th)
“Pernah sekali saya mengambil foto di menara pandang. Di layar kamera, saya melihat ada bayangan putih tinggi yang berdiri di antara sela-sela pohon bakau yang rapat. Tapi saat saya lihat langsung dengan mata kepala sendiri, tempat itu kosong melompong. Sejak itu, saya percaya kalau kita memang ‘tidak sendirian’ di sana.” — (Warga Sekitar, 26 Th)
Pantangan yang Tak Boleh Dilanggar
Keberadaan “perkampungan” ini membawa konsekuensi bagi siapa saja yang berkunjung. Ada beberapa etika tak tertulis yang sangat dihormati:
- Larangan Berkata Sombong: Jangan pernah sesumbar atau menantang kekuatan alam di sini. Konon, mereka yang bermulut besar akan “disesatkan” oleh pandangan mata hingga sulit menemukan jalan pulang.
- Waktu-Waktu “Tajam”: Saat matahari mulai tenggelam (Magrib), suasana di Pangkal Babu berubah drastis. Bagi warga lokal, ini adalah waktu di mana batas antara dunia nyata dan dunia gaib menipis.
Antara Mitos dan Penjagaan Alam
Jika dikupas lebih dalam, misteri tentang perkampungan gaib ini sebenarnya menjadi “benteng” alami bagi ekosistem Mangrove. Rasa segan dan takut yang muncul membuat masyarakat tidak berani merusak pohon atau mengotori area tersebut secara sembarangan.
Secara logika, suara-suara aneh tersebut bisa saja berasal dari gesekan dahan bakau yang tertiup angin laut yang kencang, atau pantulan suara dari kejauhan yang terjebak di antara vegetasi rapat. Namun bagi banyak orang, penjelasan ilmiah tetap tidak bisa menghapus sensasi “merinding” saat menyusuri jembatan kayu Pangkal Babu ketika kabut mulai turun.
Apakah Pangkal Babu benar-benar menyimpan perkampungan gaib, ataukah itu cara alam menjaga dirinya sendiri agar tetap lestari? Satu yang pasti, misteri ini tetap menjadi daya tarik yang tak terpisahkan dari pesona pesisir Kuala Tungkal.**
Silakan tulis pendapat atau cerita orang tua kalian di kolom komentar. Mari kita jaga tradisi tutur ini agar tidak hilang ditelan zaman!
Penulis : Angah
Sumber Berita: Lintastungkal











