JAMBI – Tiga hari penuh kecemasan dan doa di sepanjang bantaran Sungai Batanghari akhirnya berujung pada duka yang mendalam. Shalsabila Andriany (24), wanita yang jiwanya terhempas dari ketinggian Jembatan Aurduri I, akhirnya ditemukan. Namun bukan senyuman yang menyambut kepulangannya, melainkan kain kafan yang membungkus raga tak bernyawa pada Minggu (18/01/26) pagi.
Tragedi ini bermula pada Jumat siang yang kelabu, tepat saat matahari berada di puncaknya. Saksi mata melihat Shalsabila berjalan seorang diri, seolah membawa beban berat yang tak kasat mata di bahunya. Di tengah Jembatan Aurduri I, langkahnya terhenti. Tanpa sepatah kata pun, ia melompat, membiarkan tubuhnya ditelan arus sungai yang deras. Yang tersisa hanyalah sepasang sandal yang membisu di tepi jembatan—jejak terakhir dari sebuah kehidupan yang memutuskan untuk menyerah pada keadaan.
Sejak saat itu, operasi kemanusiaan besar-besaran dimulai. Tim SAR Gabungan bertaruh nyawa menantang arus Batanghari yang tak terduga. Rubber boat hilir mudik, sementara drone membelah langit, mencari setitik harapan di tengah keruhnya air. Masyarakat setempat hanya bisa terpaku di pinggir sungai, berharap ada keajaiban yang muncul dari balik riak air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun takdir berkata lain. Pada hari ketiga, Minggu pukul 10.15 WIB, sunyinya sungai pecah oleh temuan memilukan. Sejauh 20 KM dari titik awal ia melompat, tubuh Shalsabila ditemukan terbawa arus hingga ke koordinat 1°32’1.77″S, 103°39’37.09″E. Isak tangis pecah saat tim penyelamat dengan perlahan mengangkat jenazahnya dari dekapan sungai untuk dibawa ke RS Raden Mattaher.
“Terima kasih atas perjuangan seluruh unsur yang tidak mengenal lelah, dari Polairud hingga masyarakat yang bahu-membahu. Hari ini, misi kemanusiaan ini kami nyatakan berakhir,” ucap Kepala Kantor SAR Jambi, Adah Sudarsa, dengan nada penuh empati saat menutup operasi pada pukul 11.15 WIB.
Kini, Jembatan Aurduri I kembali sunyi, namun aroma duka masih tertinggal di sana. Operasi SAR telah ditutup, namun luka di hati keluarga dan kerabat mungkin akan butuh waktu lama untuk mengering, seiring mengalirnya air Batanghari menuju muara. Seluruh personel SAR ditarik kembali ke satuan masing-masing, meninggalkan kenangan pahit di Jembatan Aurduri I.**
Penulis : Angah
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Humas SAR Jambi






