Hakekat Isra Mi’raj: Melampaui Kecepatan, Menuju Peradaban Berbasis Amanah

Lintas Tungkal

- Redaksi

Jumat, 16 Januari 2026 - 14:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi ; Hakekat Isra Mi’raj: Melampaui Kecepatan, Menuju Peradaban Berbasis Amanah

Ilustrasi ; Hakekat Isra Mi’raj: Melampaui Kecepatan, Menuju Peradaban Berbasis Amanah

RELIGI – Di kalangan para ulama, peristiwa Mi‘raj sering kali menjadi primadona pembahasan karena di sanalah perintah shalat lima waktu diturunkan. Mi‘raj dipandang sebagai puncak pencapaian spiritual atau maqām ruhani seorang hamba. Namun, jika kita menilik lebih dalam, peristiwa Isra’ (perjalanan horizontal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha) justru menyimpan “kode besar” yang lebih bersifat sosial-peradaban.

Isra’ bukan sekadar mukjizat perjalanan cepat. Ia adalah proklamasi tentang perpindahan misi kenabian, pengikat warisan sejarah, serta ujian integritas iman di ruang publik. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Isrā’ [17]: 1, penekanan pada kata “asrā bi-ʿabdihi” (memperjalankan hamba-Nya) adalah isyarat bahwa hakekat perjalanan ini adalah tentang makna, bukan sekadar jarak.

Dialektika Jasad dan Ruh: Jawaban Ulama Klasik

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam diskursus klasik, mayoritas ulama Ahlus Sunnah, seperti Ath-Tabari, Ibnu Katsir, dan Al-Qurthubi, menegaskan bahwa Isra’ terjadi secara fisik (jasmani) dan ruhani. Argumen ini bukan tanpa alasan. Penggunaan kata “‘abdi” dalam Al-Qur’an merujuk pada sosok manusia secara utuh.

Selain itu, reaksi kaum Quraisy yang menantang Nabi ﷺ untuk mendeskripsikan detail Masjidil Aqsha membuktikan bahwa peristiwa ini dipahami sebagai perjalanan nyata di alam materi, bukan sekadar mimpi. Bagi para ulama, Isra’ adalah bukti bahwa keajaiban Tuhan mampu melampaui hukum alam, sekaligus menjadi pemisah antara mereka yang beriman dengan tulus dan mereka yang hanya mendasarkan kebenaran pada logika terbatas.

Isra’ sebagai Poros Peradaban

Ada beberapa dimensi hakekat yang disarikan dari pemikiran ulama klasik mengenai urgensi Isra’:

  1. Ubudiyah sebelum Kenaikan: Sebelum Nabi ﷺ dibawa naik ke langit (Mi‘raj), beliau “diuji” secara horizontal melalui Isra’. Ini mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada gelar sosial, melainkan pada derajat penghambaan (ubudiyah). Seseorang harus lulus pada makam ikhlas dan patuh di bumi sebelum ia mampu mencapai makam spiritual yang tinggi.
  2. Rantai Kenabian yang Tak Terputus: Pemilihan Masjidil Aqsha sebagai titik transit bukan tanpa tujuan. Ini adalah penegasan bahwa Islam adalah kelanjutan dari risalah Ibrahim, Musa, hingga Isa. Ketika Nabi ﷺ mengimami para Nabi di Baitul Maqdis, terjadi serah terima amanah kepemimpinan risalah dunia.
  3. Mandat di Tengah Krisis: Secara historis, Isra’ terjadi setelah ‘Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Di sini, Isra’ hadir sebagai penguat jiwa bahwa krisis bukanlah akhir, melainkan titik balik menuju tugas universal yang lebih besar.

Relevansi di Era Disrupsi: Arah di Atas Kecepatan

Di zaman modern yang memuja kecepatan—mulai dari mobilitas informasi hingga karier—Isra’ memberikan kritik yang sangat relevan. Dunia hari ini sering kali berlari kencang tanpa tahu arah tujuan.

Arah, bukan sekadar Kecepatan. Isra’ mengingatkan bahwa kemajuan tanpa landasan ubudiyah (penghambaan kepada kebenaran) hanyalah kehampaan. “Isra’ zaman kini” adalah kemampuan individu untuk berpindah dari orientasi ego pribadi menuju orientasi amanah publik; dari yang haram menuju yang diberkahi.

Selain itu, hubungan antara dua masjid suci tersebut adalah simbol bahwa ibadah ritual (di masjid) tidak boleh dipisahkan dari keadilan sosial. Jika masjid ramai namun ketidakadilan dan korupsi tetap subur, maka umat tersebut tengah kehilangan hakekat Isra’-nya.

Penutup: Menjadi Hamba yang Bergerak

Isra’ adalah peta ketahanan jiwa di tengah “malam” kehidupan—simbol ketidakpastian dan gelapnya fitnah zaman. Peristiwa ini mengajarkan bahwa peradaban hanya akan naik jika arah perjalanannya benar: dari yang profan menuju yang sakral, dari kepentingan diri menuju amanah suci.

Jika Mi‘raj adalah tentang “naik menuju Tuhan”, maka Isra’ adalah tentang “bergerak di bumi” dengan bimbingan-Nya. Sebuah perjalanan untuk memikul mandat peradaban dengan penuh kejujuran dan keteguhan iman.

Referensi Utama:
  • Tafsir Jāmiʿ al-Bayān (Ath-Tabari)
  • Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm (Ibn Katsir)
  • Fatḥ al-Bārī (Ibn Hajar al-ʿAsqalānī)
  • Sīrat Ibn Hishām (Konteks Sejarah Nabi)
Apa Penadapat Anda Terkait Berita Ini?

Penulis : Redkasi

Editor : Tim Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Surah Az-Zalzalah Sebagai Landasan Etika Akuntabilitas, Keadilan, dan Tanggung Jawab Publik
Berikut Kata-Kata Ucapan Duka Cita Islami Semoga Husnul Khotimah
Nilai-nilai Spiritual dalam Perayaan Hari Raya Idul Adha
Ini Besaran Zakat Fitrah 2024 di Tanjab Barat
Ini Kelompok Orang yang Tidak Wajib Membayar Zakat Fitrah
Tata Cara Sholat Witir 3 Rakaat
Nabi Muhammad SAW Sosok Teladan yang Agung
Di Surga Berdampingan dengan Nabi SAW
Berita ini 2 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi.

Berita Terkait

Jumat, 16 Januari 2026 - 14:48 WIB

Hakekat Isra Mi’raj: Melampaui Kecepatan, Menuju Peradaban Berbasis Amanah

Senin, 15 Desember 2025 - 00:10 WIB

Surah Az-Zalzalah Sebagai Landasan Etika Akuntabilitas, Keadilan, dan Tanggung Jawab Publik

Kamis, 10 Oktober 2024 - 19:30 WIB

Berikut Kata-Kata Ucapan Duka Cita Islami Semoga Husnul Khotimah

Kamis, 13 Juni 2024 - 00:38 WIB

Nilai-nilai Spiritual dalam Perayaan Hari Raya Idul Adha

Jumat, 29 Maret 2024 - 19:23 WIB

Ini Besaran Zakat Fitrah 2024 di Tanjab Barat

Berita Terbaru

Dilema Guru diantara Mendidik dan Intaian Jerat Hukum : FOTO Ilustrasi/AI

Pendidikan

Dilema Guru diantara Mendidik dan Intaian Jerat Hukum

Kamis, 15 Jan 2026 - 13:52 WIB