RELIGI – Di kalangan para ulama, peristiwa Mi‘raj sering kali menjadi primadona pembahasan karena di sanalah perintah shalat lima waktu diturunkan. Mi‘raj dipandang sebagai puncak pencapaian spiritual atau maqām ruhani seorang hamba. Namun, jika kita menilik lebih dalam, peristiwa Isra’ (perjalanan horizontal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha) justru menyimpan “kode besar” yang lebih bersifat sosial-peradaban.
Isra’ bukan sekadar mukjizat perjalanan cepat. Ia adalah proklamasi tentang perpindahan misi kenabian, pengikat warisan sejarah, serta ujian integritas iman di ruang publik. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Isrā’ [17]: 1, penekanan pada kata “asrā bi-ʿabdihi” (memperjalankan hamba-Nya) adalah isyarat bahwa hakekat perjalanan ini adalah tentang makna, bukan sekadar jarak.
Dialektika Jasad dan Ruh: Jawaban Ulama Klasik
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam diskursus klasik, mayoritas ulama Ahlus Sunnah, seperti Ath-Tabari, Ibnu Katsir, dan Al-Qurthubi, menegaskan bahwa Isra’ terjadi secara fisik (jasmani) dan ruhani. Argumen ini bukan tanpa alasan. Penggunaan kata “‘abdi” dalam Al-Qur’an merujuk pada sosok manusia secara utuh.
Selain itu, reaksi kaum Quraisy yang menantang Nabi ﷺ untuk mendeskripsikan detail Masjidil Aqsha membuktikan bahwa peristiwa ini dipahami sebagai perjalanan nyata di alam materi, bukan sekadar mimpi. Bagi para ulama, Isra’ adalah bukti bahwa keajaiban Tuhan mampu melampaui hukum alam, sekaligus menjadi pemisah antara mereka yang beriman dengan tulus dan mereka yang hanya mendasarkan kebenaran pada logika terbatas.
Isra’ sebagai Poros Peradaban
Ada beberapa dimensi hakekat yang disarikan dari pemikiran ulama klasik mengenai urgensi Isra’:
- Ubudiyah sebelum Kenaikan: Sebelum Nabi ﷺ dibawa naik ke langit (Mi‘raj), beliau “diuji” secara horizontal melalui Isra’. Ini mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada gelar sosial, melainkan pada derajat penghambaan (ubudiyah). Seseorang harus lulus pada makam ikhlas dan patuh di bumi sebelum ia mampu mencapai makam spiritual yang tinggi.
- Rantai Kenabian yang Tak Terputus: Pemilihan Masjidil Aqsha sebagai titik transit bukan tanpa tujuan. Ini adalah penegasan bahwa Islam adalah kelanjutan dari risalah Ibrahim, Musa, hingga Isa. Ketika Nabi ﷺ mengimami para Nabi di Baitul Maqdis, terjadi serah terima amanah kepemimpinan risalah dunia.
- Mandat di Tengah Krisis: Secara historis, Isra’ terjadi setelah ‘Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Di sini, Isra’ hadir sebagai penguat jiwa bahwa krisis bukanlah akhir, melainkan titik balik menuju tugas universal yang lebih besar.
Relevansi di Era Disrupsi: Arah di Atas Kecepatan
Di zaman modern yang memuja kecepatan—mulai dari mobilitas informasi hingga karier—Isra’ memberikan kritik yang sangat relevan. Dunia hari ini sering kali berlari kencang tanpa tahu arah tujuan.
Arah, bukan sekadar Kecepatan. Isra’ mengingatkan bahwa kemajuan tanpa landasan ubudiyah (penghambaan kepada kebenaran) hanyalah kehampaan. “Isra’ zaman kini” adalah kemampuan individu untuk berpindah dari orientasi ego pribadi menuju orientasi amanah publik; dari yang haram menuju yang diberkahi.
Selain itu, hubungan antara dua masjid suci tersebut adalah simbol bahwa ibadah ritual (di masjid) tidak boleh dipisahkan dari keadilan sosial. Jika masjid ramai namun ketidakadilan dan korupsi tetap subur, maka umat tersebut tengah kehilangan hakekat Isra’-nya.
Penutup: Menjadi Hamba yang Bergerak
Isra’ adalah peta ketahanan jiwa di tengah “malam” kehidupan—simbol ketidakpastian dan gelapnya fitnah zaman. Peristiwa ini mengajarkan bahwa peradaban hanya akan naik jika arah perjalanannya benar: dari yang profan menuju yang sakral, dari kepentingan diri menuju amanah suci.
Jika Mi‘raj adalah tentang “naik menuju Tuhan”, maka Isra’ adalah tentang “bergerak di bumi” dengan bimbingan-Nya. Sebuah perjalanan untuk memikul mandat peradaban dengan penuh kejujuran dan keteguhan iman.
- Tafsir Jāmiʿ al-Bayān (Ath-Tabari)
- Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm (Ibn Katsir)
- Fatḥ al-Bārī (Ibn Hajar al-ʿAsqalānī)
- Sīrat Ibn Hishām (Konteks Sejarah Nabi)
Penulis : Redkasi
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal






