Ketidakpastian adalah musuh utama dalam industri perbankan yang berbasis pada kepercayaan (trust). Hingga hari ini, belum aktifnya layanan digital Bank Jambi—baik ATM maupun Mobile Banking—pasca indikasi serangan siber, telah melampaui batas kewajaran masa pemulihan teknis. Kondisi ini menciptakan ruang kosong yang kini diisi oleh berbagai spekulasi liar di tengah masyarakat.
Setidaknya ada dua asumsi besar yang berkembang di kalangan nasabah. Pertama, asumsi mengenai ketidaksiapan sistem keamanan. Jika sistem belum dibuka, muncul kesan bahwa benteng pertahanan digital bank tersebut masih rapuh atau “berlubang”, sehingga ada ketakutan akan terjadinya serangan susulan jika akses dibuka kembali.
Kedua, dan yang paling krusial, adalah munculnya kecurigaan bahwa ini merupakan strategi “menahan dana”. Publik mulai berasumsi bahwa penundaan aktivasi layanan digital bukan lagi masalah teknis, melainkan upaya meredam potensi bank rush. Ada kekhawatiran dari sisi bank bahwa jika layanan aktif, nasabah yang panik akan serentak menarik atau memindahkan dananya ke bank lain demi keamanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, membiarkan layanan lumpuh terlalu lama justru menjadi bumerang bagi reputasi bank. Mengunci akses digital sama saja dengan memelihara ketakutan. Semakin lama sistem dibiarkan mati, semakin kuat keyakinan nasabah bahwa uang mereka memang dalam bahaya.
Bank Jambi harus membuktikan kompetensinya melalui langkah konkret, bukan sekadar imbauan untuk tetap tenang. Transparansi mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan timeline pemulihan yang pasti adalah harga mati. Pihak manajemen harus segera mengaktifkan kembali layanan elektronik secara bertahap dengan pengawasan ketat.
Menunda aktivasi hanya akan memperdalam jurang krisis kepercayaan. Jika bank yakin sistemnya sudah pulih dan dana nasabah aman, maka cara terbaik untuk membuktikannya adalah dengan mengembalikan kendali dana tersebut ke tangan nasabah melalui layar ponsel dan mesin ATM mereka kembali. Kepercayaan tidak bisa dipaksakan dengan cara membatasi akses; kepercayaan hanya bisa didapat kembali melalui fungsionalitas dan transparansi.
Ironi Layanan Manual di Era Digital
Sangat ironis melihat di tengah tingginya kebutuhan transaksi masyarakat menyambut Lebaran, nasabah justru “dihukum” dengan antrean fisik yang melelahkan. Kebijakan bank untuk tetap membuka layanan manual di hari libur bukanlah sebuah prestasi, melainkan bukti nyata lumpuhnya teknologi mereka.
Memaksa nasabah datang ke kantor cabang dan mengantre berjam-jam untuk transaksi yang seharusnya selesai dalam hitungan detik di ponsel adalah kemunduran nyata. Layanan hari libur bukan solusi, melainkan kompensasi atas kegagalan bank menyediakan sistem 24/7 yang aman. Hal ini juga meningkatkan risiko keamanan fisik bagi nasabah yang terpaksa membawa uang tunai dalam jumlah besar di jalanan.
Pelanggaran Hak Konsumen dan Regulasi
Bank Jambi perlu diingat bahwa berdasarkan POJK Nomor 11/POJK.03/2022, bank wajib memiliki ketahanan digital dan rencana pemulihan layanan yang cepat. Kelumpuhan yang berlarut-larut ini mengindikasikan lemahnya Business Continuity Plan (BCP) mereka.
Selain itu, menurut UU Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999, nasabah memiliki hak atas kenyamanan dan informasi yang jujur. Menahan akses dana tanpa kepastian waktu yang jelas dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hak konsumen. Berdasarkan UU ITE, penyelenggara sistem elektronik wajib bertanggung jawab atas keandalan sistemnya. Jika kegagalan ini menyebabkan kerugian pada bisnis nasabah, bank berada dalam posisi rentan secara hukum.
Kesimpulan
Membiarkan layanan lumpuh terlalu lama adalah bumerang bagi reputasi. Mengunci akses digital sama saja dengan memelihara ketakutan. Jika manajemen memang kompeten dan yakin sistemnya sudah pulih serta dana nasabah aman, maka cara terbaik membuktikannya adalah dengan mengembalikan kendali dana tersebut ke tangan nasabah melalui layar ponsel dan mesin ATM.
Kepercayaan tidak bisa dipaksakan melalui antrean manual; ia hanya bisa didapat kembali melalui fungsionalitas, transparansi, dan kecepatan pemulihan. Jangan biarkan nasabah terus bertanya: ini masalah teknis, atau bank sedang tidak baik-baik saja?
DISCLAIMER:
Tulisan ini disusun sebagai bentuk kepedulian terhadap kemajuan perbankan daerah. Redaksi tidak bermaksud memprovokasi atau menyudutkan pihak manapun, melainkan murni untuk menyampaikan suara keresahan serta aspirasi nasabah yang mengharapkan transparansi dan percepatan pemulihan layanan. Kritik ini didasari pada harapan agar kepercayaan publik terhadap institusi perbankan daerah kebanggaan masyarakat Jambi tetap terjaga melalui pemenuhan hak-hak konsumen sesuai regulasi yang berlaku.**
Penulis : Tim Redaksi
Sumber Berita: lintastungkal









![Ilustrasi: Dana zakat, infak, dan sedekah dihimpun dari masyarakat dengan niat ibadah, namun dalam praktik penyalurannya kerap tampil sebagai program bantuan yang dipresentasikan oleh pejabat di ruang publik. [FOTO: ILUSTRASI/LT]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260308-WA0008-360x200.jpg)

