YTUBE
Koreografer Belanda Arno Schuitemaker Pukau Penikmat Seni di Jambi dalam Karya “If You Could See Me Now” Pembinaan Karakter, Siswa Muslim dan Non Muslim di SMPN 2 Dapat Perlakuan Sama Garuda Putih FC Rebut Juara III Turnamen Sepakbola Antar Instansi HUT RI ke-77 HIPMI Fest 2022, Diza : Jangan Patah Semangat Terus Dukung UMKM Terjatuh Saat Berkelahi degan Temannya Siswi SMP Negeri di Batanghari Meninggal

Home / Kesehatan

Minggu, 1 Agustus 2021 - 21:59 WIB

Mengenal Varian Delta Plus yang Terdeteksi di Jambi

COVID-19 Varian AY.1 'Delta Plus' Dikabarkan Sudah Terdeteksi di Jambi/Ilustrasi

COVID-19 Varian AY.1 'Delta Plus' Dikabarkan Sudah Terdeteksi di Jambi/Ilustrasi

JAMBI – Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menemukan jenis varian baru virus corona di Indonesia yaitu varian Delta Plus.

Eijkman menyebut varian Delta Plus atau  B.1.617.2.1 atau AY.1 ditemukan di Jambi dan Mamuju.

“Iya. Kita temukan varian Delta Plus di Jambi dan Mamuju,” kata Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Subandrio, Rabu (28/7/2021).

Mengutip Reuters, varian Delta Plus adalah sub-garis keturunan dari varian Delta yang pertama kali terdeteksi di India.

Akan tetapi, bedanya pada varian Delta Plus memiliki mutasi protein lonjakan yang disebut K417N yaitu protein yang memungkinkannya menginfeksi sel-sel sehat.

“WHO melacak varian ini sebagai bagian dari varian Delta, seperti yang kami lakukan untuk varian perhatian lainnya dengan mutasi tambahan,” demikian pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kepada Reuters.

Ahli Virologi di India Shahid Jameel mengatakan K417N diketahui mengurangi efektivitas campuran antibodi monoklonal terapeutik.

Pada situs National Geographic, posisi K417 berada dalam wilayah protein lonjakan yang berinteraksi dengan protein reseptor ACE2 dan memungkinkan virus menginfeksi sel—termasuk yang ada di paru-paru, jantung, ginjal, dan usus.

Ketika protein lonjakan bertemu ACE2, protein itu berubah dari keadaan “tertutup” menjadi “terbuka” untuk mengikat reseptor dan menginfeksi sel.

BACA JUGA :  Belum Tuntas Kasus Polisi Tembak Polisi, Kini Muncul Kasus TNI Tembak Mati Kucing

Mutasi K417N juga ditemukan pada varian Beta yang pertama kali teridentifikasi di Afrika Selatan, varian Gamma yang pertama kali teridentifikasi di Brasil dan pada beberapa sampel varian Alpha yang pertama kali di Inggris.

Dalam Medical News Today  menyebut bahwa Badan pemerintah Inggris atau PHE pada pada 11 Juni menyatakan varian Delta Plus termasuk sebagai “varian perhatian”. Dan pada 22 Juni, otoritas India mengikutinya.

Sejak itu, 11 negara telah melaporkan 197 kasus kolektif Covid-19 yang disebabkan oleh varian Delta Plus SARS-COV-2. Di antaranya Inggris (36), Kanada (1), India (8).

Kemudian Jepang (15), Nepal (3), Polandia (9), Portugal (22) , Rusia (1), Swiss (18), Turki (1), dan Amerika Serikat (83).

Kekhawatiran Delta Plus

Menurut badan pengurutan genom Covid-19 Pemerintah India dalam CNN Health, varian Delta Plus menunjukkan beberapa sifat yang mengkhawatirkan seperti peningkatan penularan, pengikatan yang lebih kuat pada reseptor sel paru-paru, dan potensi pengurangan respons antibodi.

Beberapa ilmuwan juga khawatir bahwa mutasi tersebut, ditambah dengan fitur lain dari varian Delta, dapat membuat varian Delta Plus lebih menular.

BACA JUGA :  Terjatuh Saat Berkelahi degan Temannya Siswi SMP Negeri di Batanghari Meninggal

Meski begitu, WHO mengatakan, untuk saat ini varian Delta Plus bukan sebagai varian yang umum, saat ini hanya menyumbang sebagian kecil dari urutan Delta.

“Untuk saat ini, varian ini tampaknya tidak umum, saat ini hanya mencakup sebagian kecil dari urutan Delta. Varian Delta dan varian perhatian lainnya yang beredar tetap menjadi risiko kesehatan masyarakat yang lebih tinggi karena telah menunjukkan peningkatan penularan,” kata WHO.

Mutasi ini, bagaimana pun, juga hadir dalam beberapa varian lain, jadi kemungkinan bukan sumber kekhawatiran baru.

“Delta plus mungkin memiliki sedikit keuntungan dalam menginfeksi dan menyebar di antara orang-orang yang sebelumnya terinfeksi sebelumnya selama pandemi atau yang lemah atau tidak lengkap kekebalan vaksin,” kata ahli virologi Dr. Jeremy Kamil, dari Pusat Ilmu Kesehatan Universitas Negeri Louisiana pada BBC.

Varian Delta Plus, kata Jeremy, berdasarkan catatannya tidak jauh berbeda dengan varian Delta.(Edt)

Artikel Ini Telah Tayang di kompas.com dengan judul : Mengenal Varian Delta Plus yang Terdeteksi di Jambi dan Mamuju beserta Ancamannya.

Share :

Baca Juga

Investigasi

Wabah DBD Meningkat, Dinkes Tanjabbar Temukan 372 Kasus

Kesehatan

Jenis Makanan Appetizer, Main Course, dan Dessert, Apa Bedanya?

Advetorial

Secara Massal, Dinkes dan 16 Peskesmas Se Tanjab Barat Bagikan 34 Ribu Masker pada Warga

Kesehatan

Hari Jadi Kabupaten Tanjab Barat ke 57, Dinkes Hadir Melayani Masyarakat

Kesehatan

Pemerintah Turunkan Harga Tes PCR dan Antigen, Ini Rinciannya

Kesehatan

Kunjungi Balita Gizi Buruk di RS Daud Arif, Kapolres Tanjabbar Berikan Tali Asih Bhayangkara

Kesehatan

Miliki Dokter Spesialis Ini, RSUD KH Daud Arif Akan Buka Pelayanan Radiologi

Kesehatan

Kemenkes Imbau Masyarakat Waspada dengan Hepatitis Akut