Pemerintah Wacanakan WFH ASN dan Sekolah Alasannya Untuk Hemat BBM, Neitizen COVID-19 Julid II

Lintas Tungkal

- Redaksi

Kamis, 19 Maret 2026 - 17:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ini merangkum potret kebijakan transisi energi kita tahun 2026: Merumahkan jutaan orang demi menjaga pasokan Pertamina. Pengamat memperingatkan risiko learning loss pada anak sekolah dan matinya ekosistem UMKM di sekitar perkantoran yang kehilangan pembeli harian. Penghematan BBM mungkin tercapai, tapi siapa yang menanggung biaya tagihan listrik dan kuota internet warga yang membengkak selama di rumah? (FOTO : LINTASTUNGKAL.COM)

Foto ini merangkum potret kebijakan transisi energi kita tahun 2026: Merumahkan jutaan orang demi menjaga pasokan Pertamina. Pengamat memperingatkan risiko learning loss pada anak sekolah dan matinya ekosistem UMKM di sekitar perkantoran yang kehilangan pembeli harian. Penghematan BBM mungkin tercapai, tapi siapa yang menanggung biaya tagihan listrik dan kuota internet warga yang membengkak selama di rumah? (FOTO : LINTASTUNGKAL.COM)

REPUBLIK – Rencana Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk memberlakukan kembali Work From Home (WFH) bagi ASN dan sistem belajar daring bagi sekolah demi menekan konsumsi BBM memicu polemik panas. Kebijakan yang diproyeksikan mulai Maret 2026 ini dituding netizen sebagai langkah “Dejavu COVID-19” yang menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional tanpa mengorbankan produktivitas publik.

Wacana WFH itu, diusulkan Prabowo dengan berkaca dari Pakistan agar pemerintahan dan swasta menerapkan work from home demi penghematan. Selain itu, hari kerja juga dipotong menjadi empat hari.

“Jadi mereka menganggap ini sudah kritis jadi dikatakan critical measures. Seolah-olah bahwa ini bagi mereka adalah ini dulu seperti kita dulu COVID. Mereka melaksanakan work from home untuk semua kantor, pemerintah maupun swasta, 50 persen bekerja dari rumah. Kemudian hari kerja mereka potong jadi hanya empat hari,” katanya saat sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/26).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Alibi Krisis Global vs Kesiapan Domestik
Pemerintah berdalih ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan melonjaknya harga minyak dunia memaksa efisiensi ekstrem. Targetnya ambisius: penghematan 83 juta liter BBM per bulan. Namun, publik mempertanyakan mengapa beban efisiensi selalu dilemparkan kepada mobilitas masyarakat, sementara penggunaan kendaraan dinas mewah dan operasional pejabat tetap tinggi.

Sentimen Negatif: “COVID-19 Jilid II”
Di jagat maya, netizen melabeli wacana ini sebagai “COVID-19 Jilid II”. Kritik tajam menyoroti beberapa titik lemah:

  1. Kualitas Pendidikan: Belajar daring selama pandemi terbukti menyisakan learning loss yang signifikan. Memaksakan sekolah kembali daring dianggap mengancam kualitas SDM masa depan.
  2. Layanan Publik Lumpuh: WFH ASN seringkali identik dengan lambatnya birokrasi dan sulitnya akses koordinasi fisik yang masih sangat dibutuhkan di Indonesia.
  3. Ketimpangan Digital: Infrastruktur internet yang belum merata di daerah akan membuat kebijakan ini hanya “nyaman” bagi mereka di kota besar, sementara daerah pelosok akan semakin tertinggal.

Efisiensi Semu?
Para pengamat ekonomi mengingatkan bahwa penghematan BBM dari sektor transportasi publik dan pendidikan mungkin terlihat besar di atas kertas, namun dampak turunannya terhadap perputaran ekonomi lokal (UMKM di sekitar sekolah dan perkantoran) bisa jauh lebih merugikan secara makro.

Pemerintah saat ini memang sedang menggodok aturan teknis melalui Kementerian PAN-RB dan Kemendikbudristek. Namun, selama opsi energi terbarukan dan perbaikan transportasi umum tidak menjadi solusi fundamental, kebijakan WFH hanya akan dianggap sebagai “obat jangka pendek” yang pahit bagi masyarakat.

Golkar Prioritaskan 3 Wilayah

Mengutip detik.com Partai Golkar merespons wacana work from home tersebut. Golkar mengusulkan agar kebijakan tersebut dikaji secara matang.

“Wacana tersebut harus dikaji secara menyeluruh sebelum diterapkan. Termasuk juga opsi dan skenario lainnya dalam merespons perang di Timur Tengah. Langkah penghematan termasuk kebijakan jangka pendek. Paling penting adalah menjaga ketersediaan pasokan energi dan pengendalian inflasi,” kata Anggota Komisi II DPR, Ahmad Irawan saat dihubungi, Selasa (17/3/2026).

Irawan mengusulkan kebijakan WFH bisa diterapkan tiga provinsi mulai dari Jakarta, Jawa Barat (Jabar) hingga Banten karena penggunaan BBM yang tinggi. Sementara daerah lain, kata dia, tidak harus diberlakukan WFH.

“Misalnya pertimbangan wilayah yang konsumsi BBM-nya tinggi seperti Jakarta, Jawa Barat dan Banten yang menurut data konsumsi BBM 30 persen nasional disebabkan wilayah megapolitan. Daerah lain mungkin saja tidak harus WFH seperti di tiga wilayah tersebut. Jadi harus dihitung betul, termasuk dampak ekonominya,” jelasnya.

Analisis Perbandingan: Penghematan vs Kehancuran Ekonomi Mikro.
DATA ADU BANTENG: SUBSIDI BBM VS DAPUR RAKYAT
Sektor Potensi Penghematan (Estimasi Pemerintah) Potensi Kerugian Ekonomi (Realitas Lapangan)
Konsumsi BBM 83 Juta Liter/Bulan. Jika dikonversi ke rupiah (asumsi harga subsidi), pemerintah bisa menghemat triliunan dari pos subsidi APBN. Kenaikan Biaya Rumah Tangga. Pengeluaran pindah ke tagihan listrik (AC/Lampu menyala 24 jam) dan kuota internet yang tidak disubsidi penuh.
Sektor Transportasi Penurunan drastis penggunaan Pertalite/Biosolar oleh kendaraan pribadi ASN dan bus sekolah. Ojek & Angkot Pingsan. Pendapatan driver ojol dan angkot di zona perkantoran/sekolah bisa anjlok hingga 60-80%. Mereka kehilangan penumpang loyal.
Sektor Konsumsi Efisiensi biaya makan siang dan operasional kantor pemerintah. Kematian UMKM Sekitar. Warteg, kantin sekolah, dan pedagang kaki lima kehilangan captive market. Perputaran uang di sektor informal berhenti total.
Kualitas SDM Tidak ada penghematan langsung secara angka. Learning Loss & Produktivitas. Risiko penurunan kualitas lulusan sekolah dan koordinasi birokrasi yang lambat. Biaya perbaikannya di masa depan jauh lebih mahal.
Penutup
  • Subsidi Pindah Alamat: Pemerintah bangga menghemat subsidi BBM, padahal beban ekonomi tersebut hanya bergeser ke pundak rakyat. Biaya hidup WFH (listrik, paket data, logistik makan mandiri) seringkali lebih besar daripada biaya transportasi harian.
  • Efek Domino yang Brutal: Setiap 1 orang ASN yang WFH, ada minimal 3-5 orang di sektor informal (pedagang, kurir, driver) yang kehilangan sumber pendapatan hari itu. Jika jutaan ASN WFH, bayangkan berapa banyak piring yang kosong di meja makan rakyat kecil.
  • Logika Terbalik: Di saat pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi (target 8%), membatasi mobilitas justru menjadi rem mendadak bagi sirkulasi uang. Uang tidak berputar di layar laptop, uang berputar di jalanan dan pasar.
Salam Redaksi

Penulis : Hadziq (Pengamat Kebijakan Publik)

Editor : Tim Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perbandingan Kunjungan Luar Negeri SBY, JOKOWI dan PRABOWO
OTT Kepala Daerah, Menguak Tabir “Jabatan ASN” Bukan Lagi Lahir dari Kompetensi dan Pengabdian, Tapi Gadaian Integritas
Belanja Pegawai Membengkak, PPPK Jadi Kambing Hitam atau Korban Kebijakan Pusat?
Ironi “Cuci Gudang” Honorer: UU HKPD untuk Daerah, Karpet Merah untuk Program Penguasa!
Sebut Pengumuman Lebaran Selain Pemerintah ‘Haram’, Haedar Nashir Balas: Negara Tak Boleh Intervensi Ranah Ibadah!
Pendampingan Hukum atau Penguatan Birokrasi? Memahami Fenomena Jaksa di Instansi Daerah
“Tertibkan” Pengamat: Sinyal Bahaya Bungkam Kritik atau Kembali ke Era Orde Baru?
MELAWAN AMNESIA NEGARA “Dari Munir ke Andrie Yunus: Nyawa Aktivis Bukan Komoditas Politik!”
Berita ini 255 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi.

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 19:23 WIB

Perbandingan Kunjungan Luar Negeri SBY, JOKOWI dan PRABOWO

Minggu, 12 April 2026 - 07:48 WIB

OTT Kepala Daerah, Menguak Tabir “Jabatan ASN” Bukan Lagi Lahir dari Kompetensi dan Pengabdian, Tapi Gadaian Integritas

Senin, 30 Maret 2026 - 19:36 WIB

Belanja Pegawai Membengkak, PPPK Jadi Kambing Hitam atau Korban Kebijakan Pusat?

Jumat, 27 Maret 2026 - 01:10 WIB

Ironi “Cuci Gudang” Honorer: UU HKPD untuk Daerah, Karpet Merah untuk Program Penguasa!

Sabtu, 21 Maret 2026 - 13:33 WIB

Sebut Pengumuman Lebaran Selain Pemerintah ‘Haram’, Haedar Nashir Balas: Negara Tak Boleh Intervensi Ranah Ibadah!

Berita Terbaru