Sebulan Berlalu; Bank 9 Jambi dan Lonceng Kematian Kepercayaan Nasabah?

Lintas Tungkal

- Redaksi

Selasa, 31 Maret 2026 - 11:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SENYUM YANG TERENGGUT: Pemandangan transaksi di teller Bank Jambi yang kini menjadi satu-satunya tumpuan nasabah. Di era serba digital, lumpuhnya sistem memaksa ribuan nasabah kembali ke cara-cara konvensional—antre berjam-jam demi menarik uang sendiri. Sebuah ironi besar bagi institusi yang sempat memimpikan modernitas, namun kini justru terlempar kembali ke masa lalu akibat bobolnya sistem senilai Rp143 miliar. (FOTO : Dok. Istimewa/LT)

SENYUM YANG TERENGGUT: Pemandangan transaksi di teller Bank Jambi yang kini menjadi satu-satunya tumpuan nasabah. Di era serba digital, lumpuhnya sistem memaksa ribuan nasabah kembali ke cara-cara konvensional—antre berjam-jam demi menarik uang sendiri. Sebuah ironi besar bagi institusi yang sempat memimpikan modernitas, namun kini justru terlempar kembali ke masa lalu akibat bobolnya sistem senilai Rp143 miliar. (FOTO : Dok. Istimewa/LT)

JAMBI – Lonceng kematian kepercayaan publik sedang berdentang keras di setiap sudut kantor cabang Bank 9 Jambi. Rp143 miliar raib dalam sekejap mata, meninggalkan lubang hitam yang tak hanya menyedot saldo nasabah, tapi juga menghanguskan kredibilitas manajemen yang kini terlihat lumpuh tanpa daya.

Di tengah jeritan UMKM yang arus kasnya mampet total, publik mulai bertanya-tanya: apakah kita sedang menyaksikan kepiawaian peretas internasional, ataukah sedang menonton sandiwara ‘orang dalam’ yang berlindung di balik topeng audit forensik yang tak kunjung usai?

Lima pekan telah berlalu sejak badai ‘perampokan digital’ itu menghantam, namun yang tersisa hanyalah alibi rumit tentang labirin kripto, sementara manajemennya tampak asyik bersembunyi di balik retorika audit, membiarkan ekonomi rakyat kecil perlahan-lahan meregang nyawa.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

UMKM: Korban di Balik “Ketidaksanggupan” Manajemen

Kelumpuhan Mobile Banking selama lebih dari sebulan adalah eksekusi mati bagi ekosistem UMKM di Jambi. Arus kas macet, transaksi dengan supplier terputus, dan ekonomi rakyat kecil lumpuh total. Ironisnya, di tengah kegagalan sistemik ini, mesin penagih pinjaman bank tetap bekerja tanpa kompromi. Rakyat dipaksa memaklumi kegagalan bank, namun bank tidak memberi ampun pada cicilan rakyat.

Di mana taji Otoritas Jasa Keuangan (OJK)? Sikap OJK Jambi yang terlihat “loyo” tanpa sanksi tegas dan deadline pemulihan yang nyata menimbulkan tanya besar: Apakah regulator sedang melindungi institusi, atau melindungi kegagalan direksi?

Alibi Kripto: Tabir Asap untuk Kelalaian Internal?

Narasi “pelacakan aset kripto” mulai terasa seperti dongeng pengantar tidur untuk meredam amarah publik. Rakyat Jambi tidak butuh kuliah tentang sulitnya melacak blockchain; mereka butuh tersangka. Publik mencium aroma amis: mungkinkah audit forensik yang berlarut-larut ini hanyalah strategi untuk mengulur waktu demi menutupi keterlibatan “orang dalam”?

“Jika malingnya orang luar, kenapa sistem tidak segera pulih? Jika malingnya orang dalam, kenapa belum ada yang berbaju oranye?” Pertanyaan ini bergema di setiap sudut pasar dan media sosial.

Ultimatum: Pulih atau Ganti!

Kepercayaan adalah mata uang tunggal dalam perbankan. Saat ini, Bank 9 Jambi sedang berada di ambang bangkrut secara moral. Jika Polda Jambi tidak segera menetapkan tersangka dan layanan digital tidak kembali normal dalam hitungan hari, maka Bank Jambi sedang menggali liang lahatnya sendiri.

Pilihannya hanya dua bagi pemegang saham dan jajaran direksi: Segera tangkap pelakunya dan pulihkan sistem secara total, atau mundur dan serahkan kursi kepemimpinan kepada yang mampu. Rakyat Jambi tidak boleh terus-menerus menanggung beban atas ketidakmampuan manajemen dalam menjaga harta masyarakat.

Setelah membaca fakta di atas, bagaimana menurut Anda masa depan bank kebanggaan Jambi ini?

Penulis : Tim Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

39 Cut and Fill; Jadi Tantangan Pemkab Tanjab Barat Tuntaskan 134 Gerai KDKMP?
Skandal Gratifikasi Jual Beli Jabatan Masih Jadi Jalan Tol Kepala Daerah Menuju KPK
Menakar Plus Minus Bermunculan Cakada Tanjab Barat 2029 di Etalase Politik Media Sosial
Rupiah di Level Psikologis 17.100: Prestasi Kelam atau Sinyal Darurat Ekonomi?
30% UU HKPD Bukan Harga Mati, PPPK Tak Perlu Cemas! Kuncinya Kepala Daerah Harus Berani
Bom Waktu Minyak Dunia US$ 115 per Barel: APBN 2026 Dalam Tekanan Hebat, Pemerintah Siapkan Sabuk Pengaman Fiskal
Implementasi UU HKPD: PPPK Penuh Waktu atau PPPK Paruh Waktu yang Paling Terdampak?
Stok BBM Diklaim Aman Tetapi Rakyat Diminta WFH: Transparansi BPH Migas Menjadi Tanda Tanya Besar!
Berita ini 120 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi.

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 07:43 WIB

39 Cut and Fill; Jadi Tantangan Pemkab Tanjab Barat Tuntaskan 134 Gerai KDKMP?

Sabtu, 11 April 2026 - 08:03 WIB

Skandal Gratifikasi Jual Beli Jabatan Masih Jadi Jalan Tol Kepala Daerah Menuju KPK

Rabu, 8 April 2026 - 19:21 WIB

Menakar Plus Minus Bermunculan Cakada Tanjab Barat 2029 di Etalase Politik Media Sosial

Rabu, 8 April 2026 - 00:57 WIB

Rupiah di Level Psikologis 17.100: Prestasi Kelam atau Sinyal Darurat Ekonomi?

Jumat, 3 April 2026 - 07:40 WIB

30% UU HKPD Bukan Harga Mati, PPPK Tak Perlu Cemas! Kuncinya Kepala Daerah Harus Berani

Berita Terbaru