JAKARTA – Wakil Bupati Tanjung Jabung Barat, Dr. H. Katamso melakukan langkah strategis di tingkat nasional dengan mempresentasikan proposal pendanaan program Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030. Di hadapan Tim Verifikasi Nasional Kementerian Kehutanan, Katamso membawa misi khusus: Menjadikan kawasan Mangrove Pangkal Babu sebagai model keseimbangan antara pelestarian alam dan kemakmuran rakyat.
Pemaparan yang berlangsung di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Jumat (13/2/2026) ini, menjadi penentu bagi masa depan ekosistem pesisir di Desa Tungkal Satu, Kecamatan Tungkal Ilir.
Mangrove yang “Menghidupi” Rakyat
Dalam orasinya, Katamso menegaskan bahwa konservasi tidak boleh meminggirkan ekonomi warga. Rencana pengelolaan mangrove seluas 50 hektar di Pangkal Babu dirancang dengan konsep integrated farming. Selain berfungsi sebagai penyerap emisi karbon (benteng iklim), kawasan ini akan diintegrasikan dengan budidaya tambak kepiting dan udang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Program FOLU Net Sink 2030 ini bukan hanya soal menanam pohon, tapi instrumen ekonomi inklusif. Kita ingin menjaga mangrove tetap hijau, tapi di saat yang sama, nelayan kita punya lumbung kepiting yang produktif. Menjaga bakau harus sejalan dengan memberdayakan masyarakatnya,” tegas Katamso.
Tembus Kurasi Nasional dan Incar Dukungan Internasional
Gebrakan ini disambut serius oleh Tim Verifikasi Nasional yang dihadiri oleh Staf Ahli Menteri Bidang Revitalisasi Industri Kehutanan, Novia Widyaningtyas, beserta tim pakar. Katamso, yang didampingi oleh Guru Besar Universitas Jambi, Prof. Rosyani, berkomitmen untuk melakukan penyempurnaan teknis sesuai masukan tim ahli paling lambat 27 Februari 2026.
Langkah ini menjadi krusial karena ke depannya, program Mangrove Pangkal Babu ini akan dibahas bersama Pemerintah Norwegia. Kemitraan internasional tersebut diharapkan mampu mengucurkan pendanaan berbasis hasil bagi rehabilitasi dan konservasi mangrove yang berkelanjutan di Tanjung Jabung Barat.
Sinergi Untuk Masa Depan
Dalam forum tersebut, Katamso juga didampingi oleh perwakilan BPDAS Jambi, Bagian SDA Setda, dan Bappeda Tanjab Barat. Partisipasi aktif ini membuktikan keseriusan Pemerintah Kabupaten dalam mendukung agenda nasional pengendalian perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir.
Dengan transformasi Pangkal Babu menjadi “Benteng Iklim dan Lumbung Kepiting”, Tanjung Jabung Barat bersiap menjadi percontohan nasional dalam menyelaraskan ambisi lingkungan global dengan kesejahteraan lokal.
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal











