OPINI – Laporan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai “tekornya” APBN sebesar Rp240,1 triliun per Maret 2026 bukan sekadar angka statistik. Ini adalah sinyal perubahan paradigma fiskal yang sangat agresif. Dengan defisit menyentuh 0,93% dari PDB hanya dalam satu kuartal, publik patut bertanya: Apakah dua program raksasa, Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kredit Ketahanan Dalam Negeri (KKDM), adalah mesin pertumbuhan atau justru lubang hitam anggaran?
MBG: Antara Gizi Anak dan Beban Konsumsi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyerap Rp112,5 triliun di awal tahun ini adalah taruhan besar bagi masa depan kualitas SDM Indonesia. Secara sosial, ini adalah langkah revolusioner untuk memutus rantai stunting. Namun secara ekonomi, MBG adalah belanja konsumtif masif yang sangat sensitif terhadap inefisiensi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jika distribusi bahan pangan tidak melibatkan petani dan peternak lokal secara langsung, anggaran sebesar itu hanya akan menjadi aliran modal yang menguap begitu saja. Pemerintah harus membuktikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan untuk sepiring makanan benar-benar menciptakan multiplier effect bagi ekonomi desa, bukan sekadar memanjakan importir pangan besar.
KKDM: Benteng atau Subsidi yang Melenakan?
Di sisi lain, Kredit Ketahanan Dalam Negeri (KKDM) yang menyerap Rp95,8 triliun berfungsi sebagai “asuransi” bagi sektor riil di tengah suku bunga global yang mencekik. Strategi subsidi bunga ini memang krusial untuk mencegah kebangkrutan massal UMKM.
Namun, ada risiko moral (moral hazard) di sini. Subsidi yang terlalu besar dan tidak tepat sasaran berisiko menciptakan ketergantungan industri pada bantuan pemerintah ketimbang daya saing pasar. Pertanyaannya: Sampai kapan APBN sanggup terus menjadi “bamper” bagi sektor riil jika ketidakpastian global bertahan lebih lama dari perkiraan?
Menakar Risiko Utang dan “Celengan” SAL
Menteri Purbaya menenangkan pasar dengan cadangan saldo anggaran (SAL) sebesar Rp420 triliun. Namun, “celengan” ini ada batasnya. Dengan target defisit akhir tahun di level 2,9%, ruang gerak fiskal kita sangat sempit—hanya tersisa sekitar 2% untuk sisa sembilan bulan ke depan.
Risiko utang baru membayangi jika realisasi pendapatan pajak gagal tumbuh di atas 10% secara konsisten. Membayar bunga utang untuk membiayai program konsumsi (seperti MBG) adalah tantangan kredibilitas fiskal yang berat bagi pemerintah di mata investor global.
Kesimpulan: Pertaruhan di Atas Meja Makan
Defisit Rp240,1 triliun ini adalah “Defisit yang Disengaja”. Pemerintah sedang bertaruh bahwa dengan memperkuat gizi rakyat dan likuiditas UMKM di awal tahun, ekonomi akan tumbuh cukup kencang untuk “membayar” defisit tersebut di akhir tahun.
Lampu kuning tetap menyala. Tanpa pengawasan ketat dan transparansi total pada penyaluran MBG dan KKDM, investasi masa depan ini bisa dengan mudah berubah menjadi beban utang yang akan ditanggung oleh anak-anak yang hari ini menerima makan gratis tersebut.**
Penulis : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal









![Ilustrasi: Dana zakat, infak, dan sedekah dihimpun dari masyarakat dengan niat ibadah, namun dalam praktik penyalurannya kerap tampil sebagai program bantuan yang dipresentasikan oleh pejabat di ruang publik. [FOTO: ILUSTRASI/LT]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260308-WA0008-360x200.jpg)

