Anatomi Kerusakan Sistemik: Dialektika Relasi Ulama, Penguasa, dan Rakyat dalam Perspektif Etika Politik Mahfud MD

Lintas Tungkal

- Redaksi

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anatomi Kerusakan Sistemik: Dialektika Relasi Ulama, Penguasa, dan Rakyat dalam Perspektif Etika Politik Mahfud MD. FOTO : Ilustrasi/LT/AI

Anatomi Kerusakan Sistemik: Dialektika Relasi Ulama, Penguasa, dan Rakyat dalam Perspektif Etika Politik Mahfud MD. FOTO : Ilustrasi/LT/AI

REPUBLIK – Analisis tajam terhadap pernyataan Mahfud MD tersebut (Republika, 2014) mengungkap sebuah lingkaran setan korupsi moralRusaknya rakyat karena pemerintahnya rusak. Pemerintah rusak karena ulama saat ini juga rusak” yang terjadi secara vertikal.

Pada Maret 2014, Mahfud MD menyampaikan pernyataan yang mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin tentang kerusakan sistemik dalam negara. Analisis ini menyoroti bahwa kerusakan rakyat berawal dari kerusakan pemerintah, dan kerusakan pemerintah disebabkan oleh kerusakan ulama (atau intelektual) yang seharusnya menjadi pengawas moral namun tergiur harta dan kedudukan. Anda dapat membaca analisis ini lebih lanjut di Republika.

Mengacu pada pemikiran Al-Ghazali, berikut adalah bedah analisisnya:

1. Krisis Keteladanan (Top-Down Decay)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

  • Rakyat adalah cermin dari pemimpinnya (Nas ‘ala dini mulukihim).
  • Analisis Mahfud menunjukkan bahwa moralitas publik tidak berdiri sendiri. Jika pemerintah menjalankan praktik kolusi dan nepotisme, masyarakat akan menganggap kecurangan sebagai “cara bertahan hidup” yang wajar. Kerusakan di akar rumput (rakyat) hanyalah gejala; penyakit aslinya ada di pucuk kepemimpinan.

2. Intelektual & Ulama sebagai “Penjaga Gerbang” yang Bobrok

  • Pemerintah rusak bukan semata karena niat jahat penguasa, tapi karena hilangnya fungsi check and balance spiritual dan intelektual.
  • Ulama Rusak dalam konteks ini adalah mereka yang:
    • Menjual Ayat/Ilmu: Menggunakan otoritas agama atau akademik untuk membenarkan kebijakan penguasa yang zalim demi akses kekuasaan atau materi.
    • Kehilangan Independensi: Terlalu dekat dengan kekuasaan sehingga tidak lagi mampu bersikap kritis. Jika “kompas moral” (ulama) sudah rusak, maka “nahkoda” (pemerintah) pasti akan kehilangan arah.

3. Teori Materialisme (Cinta Harta & Kedudukan)

  • Mahfud menyoroti bahwa akar dari rusaknya ulama/intelektual adalah hubbud dunya (cinta dunia).
  • Ketika tokoh agama dan ilmuwan lebih mengejar proyek atau jabatan daripada integritas, mereka akan menjadi “stempel” bagi pemerintah yang korup. Inilah yang disebut Mahfud sebagai kegagalan peran ulama dalam menjaga moralitas bangsa.

4. Dampak Sistemik: Kehancuran Peradaban

  • Analisis ini menegaskan bahwa jika ulama sudah “diam” atau malah “mendukung” kebatilan, maka tidak ada lagi rem bagi keserakahan penguasa. Akibatnya, hukum akan tajam ke bawah namun tumpul ke atas, menciptakan ketidakadilan masif yang merusak tatanan sosial rakyat secara permanen.

5. Solusi: Mengembalikan Integritas Mimbar & Kampus

Analisis Mahfud menyimpulkan bahwa kunci perbaikan negara harus dimulai dari penyehatan moral para intelektual dan tokoh agama. Jika mereka berhenti menjadi “stempel” kekuasaan dan kembali menyuarakan kebenaran (mengawasi jalannya pemerintahan), maka pemerintah akan kembali ke jalur yang benar, yang pada akhirnya akan memperbaiki tatanan moral di masyarakat.

Kesimpulan: Pernyataan Mahfud adalah peringatan bahwa perbaikan bangsa tidak bisa dimulai dari rakyat kecil terlebih dahulu, melainkan harus dari penyehatan integritas para elit intelektual dan agama agar mampu meluruskan pemerintah.

  1. Kerusakan rakyat: bukanlah penyakit utama, melainkan gejala dari rusaknya integritas para elit (pemerintah) dan mentor moralnya (ulama).
  2. Sintesis: Memperbaiki bangsa harus dimulai dari keberanian ulama/intelektual untuk berkata benar di hadapan kekuasaan.

Penulis : Tim Redaksi

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kebakran di Teluk Nilau Terbesar Setelah Kebakaran di Sungai Dualap dalam 5 Tahun Terakhir
Hati-Hati Nitip Anak: Belajar dari Kasus di Daycare Little Aresha Jogja dan Banda Aceh
Sudah Hibahkan Lahan 2 Hektar, Kapan Proyek Lanal Tanjab Barat Terwujud?
Editorial: Soal Ketahanan Pangan, Kenapa yang Ditanam Jagung Bukan Padi?
39 Cut and Fill; Jadi Tantangan Pemkab Tanjab Barat Tuntaskan 134 Gerai KDKMP?
Skandal Gratifikasi Jual Beli Jabatan Masih Jadi Jalan Tol Kepala Daerah Menuju KPK
Menakar Plus Minus Bermunculan Cakada Tanjab Barat 2029 di Etalase Politik Media Sosial
Rupiah di Level Psikologis 17.100: Prestasi Kelam atau Sinyal Darurat Ekonomi?
Berita ini 41 kali dibaca
Dilarang Mengambil dan/atau Menayangkan Ulang Sebagian Atau Keseluruhan Artikel di atas untuk Konten Akun Media Sosial Komersil Tanpa Seizin Redaksi.

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 17:18 WIB

Kebakran di Teluk Nilau Terbesar Setelah Kebakaran di Sungai Dualap dalam 5 Tahun Terakhir

Kamis, 30 April 2026 - 00:28 WIB

Hati-Hati Nitip Anak: Belajar dari Kasus di Daycare Little Aresha Jogja dan Banda Aceh

Sabtu, 25 April 2026 - 00:16 WIB

Sudah Hibahkan Lahan 2 Hektar, Kapan Proyek Lanal Tanjab Barat Terwujud?

Kamis, 23 April 2026 - 23:47 WIB

Editorial: Soal Ketahanan Pangan, Kenapa yang Ditanam Jagung Bukan Padi?

Sabtu, 18 April 2026 - 07:43 WIB

39 Cut and Fill; Jadi Tantangan Pemkab Tanjab Barat Tuntaskan 134 Gerai KDKMP?

Berita Terbaru