indexexchange.com, 192806, RESELLER, 50b1c356f2c5c8fc smaato.com, 1100042823, RESELLER, 07bcf65f187117b4 opera.com, pub5766157273984, DIRECT, 55a0c5fd61378de3 pubmatic.com, 158565, RESELLER, 5d62403b186f2ace yahoo.com, 58935, RESELLER, e1a5b5b6e3255540 appnexus.com, 13227, RESELLER
    LIVETV
Terkena Abrasi, Lima Rumah di Kampung Nelayan Rusak Parah Danrem 042/Gapu Terima PIN dan Keris Sebagai Pembina Adat Melayu Jambi Sejarah Mendasari 2 Juli Sebagai Hari Adat Melayu Jambi Diamankan, Terduga Pelaku Pencurian di Tebing Tinggi Malah Bawa Narkoba dalam Lipatan Uang Hadiri Puncak Hari Adat Melayu Provinsi Jambi, Tholib Serahkan Sertifikat KIK

Home / Profil

Minggu, 5 September 2021 - 10:43 WIB

Haedar Nashir Dapat Julukan dari Kompas sebagai Muazin Bangsa

Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. FOTO / Ist

Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. FOTO / Ist

TOKOH – Dapat Julukan dari Kompas sebagai Muazin Bangsa, Ini Respon Haedar Nashir. Dia dapat julukan itu dari Wakil Pemimpin Umum Kompas Budiman Tanuredjo dalam kolom “Catatan Politik dan Hukum”, yang terbit Sabtu (4/9/2021).

Dalam tulisan berjudul Sebuah Peringatan dari “Muazin”, Budiman Tanuredjo mengaitkan julukan itu dengan pidato kebangsaan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir #IndonesiaJalanTengah, IndonesiaMlikSemua yang disampaikan melalui TVMu dan CNN Indonesia, Senin 30 Agustus 2021.

Muazin, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia V adalah orang yang menyerukan azan. Disebut juga juru azan. Dalam arti konotasinya, muazin berarti orang yang berteriak-teriakk untuk menyerukan kebenaran.

Budiman Tanuredjo mengaku, pemberian julukan muazin pada Haedar Nashir itu bukan ide orisinil dia. “Istilah ‘muazin’ saya ambil dari esai Alois A Nugroho dalam buku Muazin Bangsa dari Makkah Darat (2015) yang dilekatkan pada sosok Buya Ahmad Syafii Maarif. ‘Muazin’ dimaksudkan Alois untuk sosok yang terus berteriak-teriak menyerukan kepentingan bangsa,” tulisnya.

BACA JUGA :  Hadiri Puncak Hari Adat Melayu Provinsi Jambi, Tholib Serahkan Sertifikat KIK

Indonesia Milik Semua

Menurut wartawan senior Kompas itu, Haedar Nashir bisa ditempatkan sebagai salah satu muazin bangsa. Seperti tergambar dalam pidato kebangsaan sepuluh halaman yang dia sampiakan itu.

Di situ Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tersebut seperti memberi respon atas situasi kebangsaan saat ini, yang terjebak dalam polarisasi ekstrem.

Sejumlah isu penting diangkat dalam pidatonya. Antara lain suasana keterbelahan sesama anak bangsa, “radikalisme-ekstremisme” yag pro-kontra dalam pandangan dan penyikapan.

BACA JUGA :  Danrem 042/Gapu Terima PIN dan Keris Sebagai Pembina Adat Melayu Jambi

Juga perlakuan manja para koruptor, praktik demokrasi transaksional, melebarnya kesenjangan sosial, kehadiran media sosial yang memunculkan persoalan baru, kian menguatnya oligarki politik, utang luar negeri dan investasi asing, dan kehidupan kebangsaan yang semakin bebas dan liberal, serta secara khusus, pandemi Covid-19 dengan segala dampaknya.

Di tengah berbagai persoalan itu Haedar mengemukakan, Indonesia harus dikembalikan pada jati dirinya sebagai milik semua. Pemerintah wajib hadir dalam melindungi seluruh rakyat Indonesia dan mewujudkan keadilan soisal.

Menurut Haedar di negeri ini tidak boleh “siapa yang kuat yang menang” dan menguasai Indonesia dalam hukum Darwinian. Manakala itu terjadi, kata Haedar, maka Indonesia dapat terpapar “radikalisme-ekstrem” bentuk lain, yang tentu saja tidak sejalan dengan Pancasila.

Share :

Baca Juga

Profil

Nuri Handayani, Sosok PNS Dinas Kominfo Muaro Jambi yang Selalu Mengedepankan Keharmonisan dengan Awak Media

Profil

Mengenal Sosok Bringjen TNI Supriono Kini Jabat Danrem 042/Gapu

Profil

Polwan Polda Jambi Raih Peringkat 6 Terbaik Sesdik Teringginas Polwa

Pilihan Editor

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Kuala Tungkal Jadi Pembicara dalam Program BCAMP di RMIT University Vietnam

Profil

Mengenal AKBP Fitria Mega, Kapolres Tebo yang Jago Karate Segudang Prestasi di Asia

Profil

ASN Wajib Tau, Inilah Sosok PNS Pertama di Indonesia Tahun 1940

Pilkada

Daftaran ke Golkar, Cici Halimah Jadi Satu-satunya Balon Bupati Tanjabbar Perempuan

Profil

Nenek Opet Lumpuh 30 Tahun, Serma Jefrimmanedi Sisihkan Gaji Beli Kursi Roda