CARACAS, VENEZUELA – Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) besar-besaran terus dilakukan setelah gempa kembar dahsyat bermagnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang wilayah utara Venezuela pada Rabu sore lalu. Hingga saat ini, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, mengonfirmasi sedikitnya 920 orang tewas dan lebih dari 50.000 orang dilaporkan masih hilang di bawah reruntuhan.
Fenomena gempa kembar (doublet earthquake) ini berpusat di wilayah darat dekat Morón dan San Felipe, dengan jeda waktu hanya 39 detik antar-guncangan. Wilayah pesisir Negara Bagian La Guaira menjadi area yang mengalami kehancuran paling parah, di mana puluhan kompleks apartemen bertingkat tinggi dilaporkan rata dengan tanah. Bencana ini tercatat sebagai gempa paling destruktif di Venezuela dalam satu abad terakhir, dengan perkiraan kerugian material mencapai US$6,7 miliar.
Merespons skala bencana yang masif, tim penyelamat dari 17 negara—termasuk Spanyol, Meksiko, Kolombia, India, dan Amerika Serikat—telah tiba di lokasi dengan membawa anjing pelacak serta alat pemindai panas. Pemerintah Amerika Serikat juga telah mengumumkan bantuan darurat senilai US$150 juta sekaligus melonggarkan sanksi ekonomi selama empat bulan demi memperlancar arus logistik kemanusiaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi Warga Negara Indonesia (WNI)
Kementerian Luar Negeri RI melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas bergerak cepat melakukan penanganan pascabencana. KBRI Caracas memastikan bahwa seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Venezuela saat ini berada dalam kondisi aman, sehat, dan selamat. Gedung KBRI Caracas juga dilaporkan tidak mengalami kerusakan struktural akibat guncangan tersebut.
Pihak KBRI Caracas terus memantau situasi di lapangan secara berkala dan berkoordinasi dengan otoritas setempat guna mengantisipasi perkembangan situasi serta memastikan perlindungan optimal bagi seluruh WNI.**
Penulis : Angah
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal.com












Komentar