KUALA TUNGKAL – Gelombang kekecewaan nasabah Bank Jambi kian memuncak pasca lumpuhnya layanan digital akibat serangan siber. Pantauan di kantor cabang Kuala Tungkal pada Rabu (4/3/2026) menunjukkan pemandangan memprihatinkan; ratusan warga harus berjibaku dengan antrean panjang sejak fajar demi mengakses dana secara manual.
Kondisi ini diperparah oleh lambatnya proses pelayanan manual yang dinilai tidak efisien. Banyak nasabah mengeluh bahwa waktu satu hari tidak lagi cukup hanya untuk sekadar mengambil hak mereka sendiri.
“Kita ini mau ambil uang sendiri tapi rasanya seperti pengemis. Harus menunggu berjam-jam, berdiri kepanasan, dan prosesnya sangat lambat,” — (Salah seorang nasabah yang ditemui di depan kantor cabang).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berebut Nomor Antrean Sejak Subuh
Perjuangan nasabah kini telah mencapai tahap yang membahayakan keselamatan fisik. Selama dua pekan terakhir, warga memadati kantor bank sejak pukul 06.00 WIB demi memperebutkan nomor urut awal. Namun, pengorbanan itu sering kali sia-sia karena terbatasnya kuota pelayanan harian.
“Tadi ada ibu-ibu yang terjatuh dan kakinya lecet karena dorong-dorongan. Kita ini mau ambil uang sendiri, tapi taruhannya nyawa dan fisik. Ini sudah tidak manusiawi!” — (Nasabah saksi mata kejadian di lokasi).
Heri (50), warga yang sudah mengantre sejak subuh, mempertanyakan kebijakan pihak bank yang seolah menutup mata terhadap kondisi lapangan.
“Sampai kapan pihak bank mau bertahan dengan cara manual begini? Mereka selalu bilang ‘sedang pemulihan demi keamanan’, tapi lihat di lapangan, kami yang jadi korban. Ini sudah dekat Lebaran, kebutuhan mendesak. Kalau sistem tidak siap, setidaknya layani kami dengan manusiawi, jangan biarkan kami telantar berhari-hari hanya untuk satu transaksi!” — (Heri, 50 th, Warga yang mengantre sejak subuh).
Kritik Tajam: Narasi Keamanan vs Keterlantaran
Nasabah kini mempertanyakan efektivitas penanganan krisis oleh manajemen. Mereka menuntut jawaban atas pertanyaan besar: sampai kapan prosedur manual dipertahankan atas nama keamanan siber, sementara keselamatan nasabah diabaikan?
“Jangan terus-terusan bicara narasi keamanan perbankan kalau kenyataannya nasabah telantar dan celaka di halaman kantor. Ini sudah dekat Lebaran! Jika ATM dan M-Banking tidak segera diaktifkan, bank ini benar-benar gagal melayani rakyat,” — (Seorang nasabah yang mengantre dengan penuh emosi).
“Kami tidak butuh janji keamanan saldo kalau aksesnya tertutup rapat seperti ini. Tolong, jangan korbankan kami demi prosedur yang terlalu lama!” — (Salah satu nasabah di kerumunan antrean).
Desakan Aktivasi Layanan Digital
Keresahan warga kian berlipat mengingat momen Idul Fitri yang sudah di depan mata. Nasabah mendesak manajemen segera mengaktifkan kembali layanan ATM dan Mobile Banking (M-Banking) untuk mengurai kepadatan.
“Kalau takut bobol jika aktif seperti dulu, aktifkan saja untuk beberapa jam guna mengurangi antrean yang sudah berhari-hari ini,” — (Seorang nasabah ibu-ibu di lokasi).
“Ini sudah dekat lebaran, kebutuhan keluarga banyak yang harus dibayar. Harusnya pihak Bank Jambi tidak bertahan dengan cara manual yang kuno begini. Aktifkan segera ATM atau M-Banking, jangan biarkan kami menderita di antrean setiap hari,” — (Nasabah yang sudah tiga hari bolak-balik ke kantor bank).
Keluhan ASN dan Pelayanan Terbatas
Gangguan ini tidak hanya berdampak pada nasabah umum, tetapi juga mengganggu aktivitas Aparatur Sipil Negara (ASN) yang kesulitan menarik gaji dan tunjangan menjelang hari raya.
“Ini sudah dekat lebaran, kebutuhan keluarga banyak yang harus dibayar. Harusnya pihak Bank Jambi tidak bertahan dengan cara manual yang kuno begini. Aktifkan segera ATM atau M-Banking, jangan biarkan kami menderita di antrean setiap hari,” — (Salah satu ASN di tenda depan Bank Jambi).
“Keamanan perbankan memang penting, tapi jangan sampai menumbalkan keselamatan manusia. Keterlantaran ini tidak bisa ditoleransi lagi,” — (Seorang tokoh masyarakat di lokasi kejadian).**
Penulis : Tim Redaksi
Sumber Berita: lintastungkal





![IRONI ANTREAN MANUAL: Menjelang momen Idul Fitri yang menuntut mobilitas transaksi tinggi, Bank Jambi justru mengalami kelumpuhan digital yang memaksa nasabahnya mengantre fisik secara melelahkan. Meski manajemen telah menjamin keamanan dana nasabah dan memulihkan saldo yang sempat terdampak, belum aktifnya layanan elektronik hingga hari ini menimbulkan pertanyaan besar di masyarakat: apakah ini murni masalah teknis, atau upaya pengendalian dana nasabah di tengah krisis kepercayaan?. [FOTO: ILUSTRASI]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260307-WA0010-225x129.jpg)





