Editorial: Soal Ketahanan Pangan, Kenapa yang Ditanam Jagung Bukan Padi?

Lintas Tungkal

- Redaksi

Kamis, 23 April 2026 - 23:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Editorial: Soal Ketahanan Pangan, Kenapa yang Ditanam Jagung Bukan Padi? (FOTO : Dok. Istimewa/LT)

Editorial: Soal Ketahanan Pangan, Kenapa yang Ditanam Jagung Bukan Padi? (FOTO : Dok. Istimewa/LT)

EDITORIAL – Di tengah gegap gempita upaya pemerintah mengejar swasembada pangan, sebuah pertanyaan mendasar sering muncul di benak masyarakat: Mengapa sekarang banyak menanam jagung, padahal nasi adalah makanan pokok kita?” Pertanyaan ini wajar, mengingat budaya kita sangat melekat dengan padi. Namun, strategi ketahanan pangan tidak hanya bicara soal apa yang ada di piring, melainkan tentang ketangguhan ekosistem pertanian kita.

Namun, di balik hamparan hijau daun jagung, ada strategi besar yang sedang dimainkan untuk menyelamatkan dapur kita semua.

Setidaknya ada tiga alasan strategis mengapa jagung kini menjadi “primadona” baru di lahan-lahan pertanian kita, termasuk di Provinsi Jambi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertama, Adaptasi Terhadap Iklim. Padi adalah tanaman yang “manja” terhadap air; ia butuh sawah yang tergenang. Di tengah ancaman perubahan iklim dan fenomena El Nino yang membuat sumber air tidak menentu, mengandalkan padi di semua lahan adalah risiko besar. Jagung hadir sebagai solusi. Sebagai tanaman palawija, jagung jauh lebih tangguh menghadapi lahan kering dan hemat air. Menanam jagung artinya meminimalkan risiko gagal panen akibat kekeringan.

Kedua, Mesin Penggerak Ekonomi Ternak. Ini yang jarang disadari masyarakat: jagung adalah komponen utama pakan ternak (ayam dan sapi). Ketika produksi jagung dalam negeri melimpah, harga pakan ternak akan stabil. Hasilnya? Harga daging ayam dan telur di pasar—yang juga merupakan sumber protein penting masyarakat—tidak akan melonjak gila-gilaan. Dengan menanam jagung, kita sebenarnya sedang menjaga stabilitas harga lauk-pauk kita sendiri.

Ketiga, Efisiensi dan Kecepatan. Jagung memiliki masa tanam yang relatif lebih singkat dan biaya perawatan yang lebih terjangkau dibandingkan padi. Bagi petani, ini berarti putaran modal yang lebih cepat dan risiko kerugian yang lebih kecil. Di Jambi, lonjakan luas lahan jagung hingga hampir 200 persen pada tahun 2025 menjadi bukti bahwa secara ekonomis, jagung kian menjanjikan.

Namun, fokus pada jagung bukan berarti kita melupakan padi. Sebagaimana disampaikan Gubernur Jambi Al Haris, pemenuhan kebutuhan beras kita masih di angka 71 persen. Artinya, padi tetap menjadi prioritas di lahan basah (sawah), sementara jagung menjadi ujung tombak di lahan kering dan lahan marginal.

Ketahanan pangan bukan soal mengganti nasi dengan jagung secara paksa. Ini adalah soal diversifikasi atau penganekaragaman. Kita tidak boleh menaruh semua “telur” dalam satu keranjang. Dengan memperkuat produksi jagung di sentra-sentra seperti Tebo, Bungo, hingga Muaro Jambi, kita sedang membangun benteng pertahanan pangan yang lebih berlapis.

Kedaulatan adalah Keberagaman
Ketahanan pangan tidak akan pernah tercapai jika kita hanya bergantung pada satu komoditas. Jika hanya mengandalkan padi, saat gagal panen akibat bencana, kita akan lumpuh. Fokus pada jagung adalah upaya diversifikasi—agar Indonesia punya banyak lapis pertahanan pangan.

Berdasarkan data, Jambi telah memulai langkah besar ini dengan peningkatan luas lahan jagung yang signifikan pada tahun 2025. Targetnya jelas: bukan untuk menghilangkan padi, tapi memastikan bahwa saat krisis melanda, rakyat Indonesia tidak hanya punya satu pilihan untuk bertahan hidup.

Sudah saatnya kita melihat jagung bukan sebagai “alternatif kelas dua”, melainkan sebagai mitra strategis padi dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Pangan yang kuat adalah pangan yang beragam.

Jadi, ketika kita melihat jagung yang ditanam, itu bukan berarti padi dilupakan. Itu adalah tanda bahwa kita sedang membangun benteng pangan yang lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih tahan banting terhadap masa depan.

Tren Produksi Jagung Jambi (2025–2026):
  • Peningkatan Tajam: Luas panen jagung pipilan di Jambi pada tahun 2025 melonjak hampir 197% mencapai 4.508 hektare dibandingkan tahun sebelumnya.
  • Puncak Panen: Biasanya terjadi pada bulan November.
  • Estimasi 2026: Pada awal tahun 2026, potensi produksi diperkirakan mencapai 6.605 ton dari luas lahan sekitar 1.064 hektare.

Penulis : Tim Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

39 Cut and Fill; Jadi Tantangan Pemkab Tanjab Barat Tuntaskan 134 Gerai KDKMP?
Skandal Gratifikasi Jual Beli Jabatan Masih Jadi Jalan Tol Kepala Daerah Menuju KPK
Menakar Plus Minus Bermunculan Cakada Tanjab Barat 2029 di Etalase Politik Media Sosial
Rupiah di Level Psikologis 17.100: Prestasi Kelam atau Sinyal Darurat Ekonomi?
30% UU HKPD Bukan Harga Mati, PPPK Tak Perlu Cemas! Kuncinya Kepala Daerah Harus Berani
Bom Waktu Minyak Dunia US$ 115 per Barel: APBN 2026 Dalam Tekanan Hebat, Pemerintah Siapkan Sabuk Pengaman Fiskal
Sebulan Berlalu; Bank 9 Jambi dan Lonceng Kematian Kepercayaan Nasabah?
Implementasi UU HKPD: PPPK Penuh Waktu atau PPPK Paruh Waktu yang Paling Terdampak?
Berita ini 4 kali dibaca
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG. Dilarang keras menyadur, menggandakan, atau mendistribusikan ulang dalam bentuk apa pun untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Redaksi. Kami tidak segan mengambil langkah hukum bagi pihak yang melanggar

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 23:47 WIB

Editorial: Soal Ketahanan Pangan, Kenapa yang Ditanam Jagung Bukan Padi?

Sabtu, 18 April 2026 - 07:43 WIB

39 Cut and Fill; Jadi Tantangan Pemkab Tanjab Barat Tuntaskan 134 Gerai KDKMP?

Sabtu, 11 April 2026 - 08:03 WIB

Skandal Gratifikasi Jual Beli Jabatan Masih Jadi Jalan Tol Kepala Daerah Menuju KPK

Rabu, 8 April 2026 - 19:21 WIB

Menakar Plus Minus Bermunculan Cakada Tanjab Barat 2029 di Etalase Politik Media Sosial

Rabu, 8 April 2026 - 00:57 WIB

Rupiah di Level Psikologis 17.100: Prestasi Kelam atau Sinyal Darurat Ekonomi?

Berita Terbaru