EDITORIAL – Di tengah gegap gempita upaya pemerintah mengejar swasembada pangan, sebuah pertanyaan mendasar sering muncul di benak masyarakat: “Mengapa sekarang banyak menanam jagung, padahal nasi adalah makanan pokok kita?” Pertanyaan ini wajar, mengingat budaya kita sangat melekat dengan padi. Namun, strategi ketahanan pangan tidak hanya bicara soal apa yang ada di piring, melainkan tentang ketangguhan ekosistem pertanian kita.
Namun, di balik hamparan hijau daun jagung, ada strategi besar yang sedang dimainkan untuk menyelamatkan dapur kita semua.
Setidaknya ada tiga alasan strategis mengapa jagung kini menjadi “primadona” baru di lahan-lahan pertanian kita, termasuk di Provinsi Jambi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertama, Adaptasi Terhadap Iklim. Padi adalah tanaman yang “manja” terhadap air; ia butuh sawah yang tergenang. Di tengah ancaman perubahan iklim dan fenomena El Nino yang membuat sumber air tidak menentu, mengandalkan padi di semua lahan adalah risiko besar. Jagung hadir sebagai solusi. Sebagai tanaman palawija, jagung jauh lebih tangguh menghadapi lahan kering dan hemat air. Menanam jagung artinya meminimalkan risiko gagal panen akibat kekeringan.
Kedua, Mesin Penggerak Ekonomi Ternak. Ini yang jarang disadari masyarakat: jagung adalah komponen utama pakan ternak (ayam dan sapi). Ketika produksi jagung dalam negeri melimpah, harga pakan ternak akan stabil. Hasilnya? Harga daging ayam dan telur di pasar—yang juga merupakan sumber protein penting masyarakat—tidak akan melonjak gila-gilaan. Dengan menanam jagung, kita sebenarnya sedang menjaga stabilitas harga lauk-pauk kita sendiri.
Ketiga, Efisiensi dan Kecepatan. Jagung memiliki masa tanam yang relatif lebih singkat dan biaya perawatan yang lebih terjangkau dibandingkan padi. Bagi petani, ini berarti putaran modal yang lebih cepat dan risiko kerugian yang lebih kecil. Di Jambi, lonjakan luas lahan jagung hingga hampir 200 persen pada tahun 2025 menjadi bukti bahwa secara ekonomis, jagung kian menjanjikan.
Namun, fokus pada jagung bukan berarti kita melupakan padi. Sebagaimana disampaikan Gubernur Jambi Al Haris, pemenuhan kebutuhan beras kita masih di angka 71 persen. Artinya, padi tetap menjadi prioritas di lahan basah (sawah), sementara jagung menjadi ujung tombak di lahan kering dan lahan marginal.
Ketahanan pangan bukan soal mengganti nasi dengan jagung secara paksa. Ini adalah soal diversifikasi atau penganekaragaman. Kita tidak boleh menaruh semua “telur” dalam satu keranjang. Dengan memperkuat produksi jagung di sentra-sentra seperti Tebo, Bungo, hingga Muaro Jambi, kita sedang membangun benteng pertahanan pangan yang lebih berlapis.
Kedaulatan adalah Keberagaman
Ketahanan pangan tidak akan pernah tercapai jika kita hanya bergantung pada satu komoditas. Jika hanya mengandalkan padi, saat gagal panen akibat bencana, kita akan lumpuh. Fokus pada jagung adalah upaya diversifikasi—agar Indonesia punya banyak lapis pertahanan pangan.
Berdasarkan data, Jambi telah memulai langkah besar ini dengan peningkatan luas lahan jagung yang signifikan pada tahun 2025. Targetnya jelas: bukan untuk menghilangkan padi, tapi memastikan bahwa saat krisis melanda, rakyat Indonesia tidak hanya punya satu pilihan untuk bertahan hidup.
Sudah saatnya kita melihat jagung bukan sebagai “alternatif kelas dua”, melainkan sebagai mitra strategis padi dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Pangan yang kuat adalah pangan yang beragam.
Jadi, ketika kita melihat jagung yang ditanam, itu bukan berarti padi dilupakan. Itu adalah tanda bahwa kita sedang membangun benteng pangan yang lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih tahan banting terhadap masa depan.
- Peningkatan Tajam: Luas panen jagung pipilan di Jambi pada tahun 2025 melonjak hampir 197% mencapai 4.508 hektare dibandingkan tahun sebelumnya.
- Puncak Panen: Biasanya terjadi pada bulan November.
- Estimasi 2026: Pada awal tahun 2026, potensi produksi diperkirakan mencapai 6.605 ton dari luas lahan sekitar 1.064 hektare.
Penulis : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal









![Ilustrasi: Dana zakat, infak, dan sedekah dihimpun dari masyarakat dengan niat ibadah, namun dalam praktik penyalurannya kerap tampil sebagai program bantuan yang dipresentasikan oleh pejabat di ruang publik. [FOTO: ILUSTRASI/LT]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260308-WA0008-360x200.jpg)

