KUALA TUNGKAL – Aspal lurus di kawasan Jalan Lintas Roro antara Desa Teluk Sialang dan Kuala Indah kini bukan sekadar akses menuju pelabuhan, melainkan telah bertransformasi menjadi monumen “aspirasi yang tercecer” bagi anak-anak muda pecinta otomotif di Tanjung Jabung Barat. Fenomena ngeterek (balap liar) yang kian marak di area ini menjadi bukti nyata bahwa bakat dan adrenalin mereka selama ini tidak memiliki rumah.
Absennya fasilitas sirkuit resmi di kabupaten ini memaksa para pemuda—yang memiliki potensi di dunia mekanik dan balap—untuk turun ke jalan raya. Meski sadar akan risiko keselamatan dan jerat hukum, bagi mereka, Lintas Roro adalah satu-satunya jawaban atas keterbatasan fasilitas yang disediakan pemerintah daerah.
“Kami bukan ingin mengganggu ketertiban, tapi di mana lagi kami harus menyalurkan hobi ini? Jika ada wadah resmi, tentu kami tidak akan bertaruh nyawa di jalan umum,” ungkap salah seorang pemuda yang rutin berkumpul di area tersebut, Minggu (22/2/26).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Antara Hobi dan Bahaya
Jalan Lintas Roro yang relatif sepi di sore hari dan memiliki lintasan panjang memang ideal secara teknis untuk menguji performa mesin, namun sangat tidak ideal dari sisi keamanan karena minimnya alat pengaman (safety gear) dan pencahayaan yang kurang memadai (semak belukar) di kiri-kanan jalan.
Para pemuda ini sering kali dicap negatif, padahal banyak di antaranya memiliki potensi besar dalam dunia balap motor.
“Salah memang menggunakan jalan umum, tapi bukan sepenuhnya salah mereka jika pemerintah belum menyediakan fasilitas,” ujar salah satu warga yang sering melihat kerumunan tersebut. Tanpa sirkuit, risiko kecelakaan maut dan gesekan dengan warga terus mengintai.
Situasi ini menjadi tamparan sekaligus undangan bagi pemangku kebijakan. Menciptakan ruang bagi anak muda bukan sekadar soal membangun infrastruktur beton, melainkan upaya menyelamatkan nyawa generasi muda sekaligus mengarahkan potensi liar menjadi prestasi yang terukur.
Selama sirkuit hanya menjadi janji yang menggantung di awan, selama itu pula raungan mesin di Lintas Roro mungkin akan tetap terdengar sebagai bentuk protes sunyi atas hak fasilitas yang belum terpenuhi. Apakah akan terus membiarkan jalan raya menjadi arena taruhan nyawa, atau mulai melirik pembangunan sirkuit sebagai investasi bagi bakat muda otomotif di Tanjab Barat?**
Penulis : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal





![SINERGI PEMERINTAH DAN AKADEMISI: Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag (tengah), menyampaikan sambutannya saat menerima kunjungan Tim Safari Ramadan Universitas Jambi (UNJA) di Rumah Dinas Bupati, Kuala Tungkal, Jumat (6/3/2026). Pertemuan ini menjadi ajang penguatan kolaborasi dalam mencerdaskan generasi muda di Bumi Serengkuh Dayung Serentak Ketunggalan. [FOTO: PROKOPIM/LT]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260308-WA0012-225x129.jpg)
![Ilustrasi: Dana zakat, infak, dan sedekah dihimpun dari masyarakat dengan niat ibadah, namun dalam praktik penyalurannya kerap tampil sebagai program bantuan yang dipresentasikan oleh pejabat di ruang publik. [FOTO: ILUSTRASI/LT]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260308-WA0008-225x129.jpg)
![Ilustrasi: Dana zakat, infak, dan sedekah dihimpun dari masyarakat dengan niat ibadah, namun dalam praktik penyalurannya kerap tampil sebagai program bantuan yang dipresentasikan oleh pejabat di ruang publik. [FOTO: ILUSTRASI/LT]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260308-WA0008-360x200.jpg)



