SAROLANGUN – Terik matahari di KM 18 Desa Teluk Kecimbung, Minggu siang, 15 Februari 2026, mendadak senyap oleh gemuruh tanah yang luruh. Di kedalaman lubang sempit kawasan Sungai Batu Putih Selembau, Kecamatan Bathin VIII, empat nyawa terhenti seketika. Mereka terkubur hidup-hidup dalam reruntuhan dinding tambang emas ilegal yang mereka gali sendiri.
Sekitar pukul 12.30 WIB, aktivitas “dompeng darat”—istilah lokal untuk penambangan emas darat dengan mesin pompa—berubah menjadi tragedi. Lima pekerja terjebak di bawah ribuan ton material tanah yang labil. Empat orang dinyatakan tewas di tempat, sementara satu lainnya, seorang remaja bernama Raka alias Bocil (16), secara ajaib berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat meski menderita luka memar dan trauma hebat.
Kejadian ini dilaporkan ke polisi, tim gabungan dari Polres Sarolangun dan Polsek Bathin VIII bergerak menuju lokasi kejadian perkara (TKP) yang berada di tengah hutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kasi Humas Polres Sarolangun IPTU Supriadi membenarkan kejadian tersebut melalui rilisnya pada Jumat (20/02/26). Ia menyebut, menanggapi kejadian itu Kapolsek Bathin VIII, IPTU Erikurniawan, bersama Kanit Tipidter IPDA Gagah Tegar Dwitama, telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Peta Migrasi Sang Pendulang
Kematian para penambang ini mengungkap potret buram migrasi tenaga kerja di sektor tambang ilegal Jambi. Para korban bukan sekadar warga lokal; mereka adalah perantau yang mengadu nasib demi butiran emas.
Data kepolisian mencatat identitas korban tewas yakni Zai (31) dan Serli (26) asal Musirawas Utara (Sumsel), Agus (40) asal Bengkulu, serta Kadir (40) warga Batanghari. Kehadiran pekerja dari luar provinsi ini menegaskan bahwa daya tarik “emas berdarah” di Sarolangun masih sangat kuat, meski risiko nyawa menjadi taruhannya.
Memburu Sang Pemodal
Polisi kini tengah mengarahkan telunjuk ke arah Yahya, sosok yang diduga kuat sebagai pemilik lahan sekaligus pemodal aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) tersebut. Kepolisian Resor Sarolangun telah bergerak melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan sejumlah barang bukti.
“Kami masih melakukan penyelidikan terhadap identitas dan domisili atas nama Yahya,” ujar Kasi Humas Polres Sarolangun, IPTU Supriadi, mewakili Kapolres AKBP Wendi Oktariansyah, sebagaimana dikutip dari Jambi Satu. Di lokasi galian yang kini sunyi itu, polisi telah membentangkan spanduk peringatan dan memasang garis penyelidikan oleh Satreskrim.
Jebakan Ekonomi di Tanah Labil
Secara teknis, metode dompeng darat adalah “bom waktu”. Para penambang menggali lubang vertikal tanpa struktur penguat dinding (turap) yang memadai. Dengan kondisi tanah yang jenuh air dan labil, keruntuhan bisa terjadi hanya karena getaran mesin atau perubahan cuaca.
Tragedi Teluk Kecimbung ini hanyalah satu dari sekian banyak catatan merah dalam daftar panjang korban PETI di Sarolangun. Di satu sisi, pemerintah dan aparat dihadapkan pada dilema ekonomi kerakyatan, namun di sisi lain, pembiaran terhadap aktivitas ilegal ini terus menyisakan nisan-nisan baru di pinggiran lubang tambang.
Penyelidikan terhadap Yahya kini menjadi ujian bagi kepolisian: apakah hukum mampu menyentuh sang pemodal, atau hanya berhenti di para pekerja yang sudah tertimbun tanah?**
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal





![SINERGI PEMERINTAH DAN AKADEMISI: Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag (tengah), menyampaikan sambutannya saat menerima kunjungan Tim Safari Ramadan Universitas Jambi (UNJA) di Rumah Dinas Bupati, Kuala Tungkal, Jumat (6/3/2026). Pertemuan ini menjadi ajang penguatan kolaborasi dalam mencerdaskan generasi muda di Bumi Serengkuh Dayung Serentak Ketunggalan. [FOTO: PROKOPIM/LT]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260308-WA0012-225x129.jpg)
![Ilustrasi: Dana zakat, infak, dan sedekah dihimpun dari masyarakat dengan niat ibadah, namun dalam praktik penyalurannya kerap tampil sebagai program bantuan yang dipresentasikan oleh pejabat di ruang publik. [FOTO: ILUSTRASI/LT]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260308-WA0008-225x129.jpg)
![Ilustrasi: Dana zakat, infak, dan sedekah dihimpun dari masyarakat dengan niat ibadah, namun dalam praktik penyalurannya kerap tampil sebagai program bantuan yang dipresentasikan oleh pejabat di ruang publik. [FOTO: ILUSTRASI/LT]](https://lintastungkal.com/wp-content/uploads/IMG-20260308-WA0008-360x200.jpg)



