ROTE, NUSA TENGGARA TIMUR — Potensi rumput laut di wilayah pesisir tidak seharusnya berhenti sebagai komoditas mentah yang dijual kepada pengepul dengan harga terbatas. Melalui inovasi pengolahan pangan, bahan baku lokal tersebut dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Semangat inilah yang diusung Tim KKN-PPM UGM Cakrawala Rote melalui program SEAVORA (Stick Rumput Laut). Program berupa pelatihan dan edukasi inovasi produk pangan olahan ini dilaksanakan di Kantor Kepala Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko, Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan tersebut melibatkan puluhan warga, khususnya anggota kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan pemuda desa. Mereka diajak mengenal sekaligus mempraktikkan proses pengolahan rumput laut menjadi camilan stik yang renyah, praktis, dan berpotensi dikembangkan sebagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pelatihan berlangsung melalui sejumlah tahapan, mulai dari pemilihan bahan baku rumput laut, pencampuran adonan, pembentukan stik, hingga pengemasan menggunakan kemasan pouch. Melalui demonstrasi langsung, masyarakat memperoleh gambaran mengenai proses mengolah komoditas lokal menjadi produk pangan yang lebih menarik dan memiliki nilai jual.
Tak sekadar mengajarkan teknik produksi, Tim KKN-PPM UGM Cakrawala Rote juga memberikan edukasi mengenai pentingnya peningkatan nilai tambah (value added) dalam pengembangan usaha berbasis potensi desa.
Rumput laut yang selama ini lebih banyak dipasarkan dalam bentuk mentah memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan. Dengan kreativitas, pengetahuan pengolahan, dan strategi pemasaran yang tepat, komoditas tersebut berpotensi menjangkau pasar yang lebih luas.
Melalui SEAVORA, masyarakat diperkenalkan pada salah satu alternatif pengembangan ekonomi pesisir yang dapat dimulai dari potensi yang tersedia di lingkungan mereka sendiri. Antusiasme peserta selama sesi pemaparan dan praktik turut membuka ruang diskusi mengenai peluang membangun usaha mandiri dan mengembangkan produk lokal secara berkelanjutan.
Erlyne Erlina dan M. Rizky Naufal Raya, selaku penanggung jawab program kerja SEAVORA, berharap pelatihan tersebut menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk terus berinovasi setelah kegiatan KKN berakhir.
“Semoga ke depannya masyarakat tetap berani mengolah potensi lokal yang ada. Saya berharap kegiatan pelatihan ini tidak menjadi penutup silaturahmi kita, melainkan menjadi awal bagi terciptanya produk-produk UMKM baru di desa ini,” ujar Erlyne.
Harapan serupa disampaikan Kepala Desa Daiama, Yandri. Ia mengapresiasi kehadiran mahasiswa UGM yang telah memperkenalkan alternatif pengolahan rumput laut kepada masyarakat setempat.
Menurutnya, selama ini masyarakat cenderung menjual rumput laut dalam bentuk mentah kepada pengepul. Kehadiran program SEAVORA memberikan wawasan baru bahwa komoditas tersebut dapat diolah menjadi produk pangan yang berpotensi memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Selama ini kami hanya menjual rumput laut mentah ke pengepul dengan harga seadanya. Hadirnya anak-anak mahasiswa melalui produk SEAVORA ini membuka mata kami bahwa rumput laut bisa diolah menjadi camilan lezat dan bernilai jual. Ini benar-benar memberi manfaat dan ilmu baru bagi warga kami,” ungkap Yandri.
Respons positif juga datang dari Ina, salah seorang warga yang mengikuti kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan pengolahan stik rumput laut memberikan pengetahuan baru sekaligus menumbuhkan optimisme masyarakat untuk mengembangkan produk lokal secara mandiri.
“Kami sangat berterima kasih. Lewat pelatihan dari Mbak Erlyne dan Mas Raya, kami jadi berpikir lebih optimistis bahwa produk dari desa kami pun mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” ujar Ina.
Kegiatan ditutup dengan suasana hangat ketika mahasiswa dan warga mencicipi hasil olahan SEAVORA bersama-sama. Momen tersebut menjadi penutup rangkaian pelatihan sekaligus mempererat hubungan antara mahasiswa Universitas Gadjah Mada dan masyarakat Desa Daiama.
Lebih dari sekadar memperkenalkan produk pangan baru, SEAVORA membawa pesan bahwa potensi ekonomi pesisir dapat dikembangkan melalui inovasi dan keterlibatan masyarakat. Pengolahan rumput laut menjadi produk siap konsumsi menjadi salah satu langkah untuk memperluas pilihan usaha warga, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, dan mendorong tumbuhnya kemandirian ekonomi desa.
Ke depan, keberlanjutan inisiatif seperti SEAVORA akan sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakat menjaga kualitas produk, mengembangkan kemasan, menghitung biaya produksi, serta membangun strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Dengan demikian, rumput laut tidak hanya menjadi komoditas yang dijual dalam bentuk mentah, tetapi juga dapat menjadi titik awal lahirnya produk unggulan desa dan peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.**
Penulis : Pristanti Nur Maisaroh
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal













Komentar