Memperkuat Nilai Tambah Produk Tenun
Dalam pengembangan ekonomi kreatif, keterampilan produksi perlu didukung akses terhadap bahan baku, sarana produksi, pemasaran, dan sistem pembayaran yang lebih pasti. Aspek-aspek tersebut menjadi bagian dari pendekatan yang diterapkan melalui Galeri Mina Tenun.
Melalui program ini, para penenun memperoleh akses terhadap bahan baku, motif, dan alat tenun gedogan untuk mendukung proses produksi. Galeri juga berperan membantu pemasaran dan mempercepat penjualan produk, sehingga penenun dapat menerima pembayaran setelah kain selesai diproduksi tanpa harus menunggu produk terjual kepada konsumen akhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan skema tersebut, penghasilan yang diterima penenun kini dapat mencapai minimal sekitar Rp750.000 per lembar setelah memperhitungkan modal kain. Angka ini menunjukkan potensi peningkatan nilai ekonomi yang dapat diterima penenun dibandingkan dengan sistem pengupahan sebelumnya, meskipun perbandingan langsung perlu mempertimbangkan perbedaan skema produksi dan komponen biaya.
Penguatan akses produksi dan pemasaran diharapkan dapat membantu perempuan penenun meningkatkan pendapatan, menjaga keberlanjutan usaha, serta memperluas peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Selain mempertahankan keterampilan tradisional, pengembangan tenun sebagai produk ekonomi kreatif juga membuka ruang bagi peningkatan daya saing produk lokal. Upaya tersebut dapat menjadi bagian dari penguatan ekosistem usaha berbasis budaya, yang menghubungkan keterampilan perajin dengan akses pasar dan kebutuhan konsumen.
Inovasi Tenun dan Energi Terbarukan
Program Mina Tenun tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga menghubungkan aktivitas produktif masyarakat dengan pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya akses air bersih.
Kondisi kekeringan di sejumlah wilayah NTB turut memengaruhi kehidupan masyarakat Desa Sukarara. Keterbatasan pasokan air membuat sebagian rumah tangga harus mencari sumber air alternatif atau membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk menjawab tantangan tersebut, program ini mengembangkan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dimodifikasi agar gerakan mekanis selama proses menenun dapat menghasilkan energi listrik. Energi tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pengoperasian pompa air dan sistem filtrasi.
Inovasi ini juga didukung pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga.
Dian mengatakan, inovasi sosial perlu dirancang agar memberikan manfaat yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan berpotensi berkelanjutan.
“Bagi kami, inovasi sosial bukan hanya tentang menghadirkan teknologi baru, tetapi memastikan inovasi tersebut menjawab kebutuhan masyarakat. Melalui Mina Tenun, aktivitas menenun yang menjadi bagian dari budaya lokal dikembangkan untuk mendukung penghidupan perempuan sekaligus menghadirkan solusi bagi kebutuhan air bersih. Kami berharap program ini dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan,” tambah Dian.
Editor : Tim Redaksi
Sumber Berita: Pertamina Patra Niaga
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya













Komentar