Festival Arakan Sahur yang kita banggakan setiap tahun kini sedang berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Alih-alih menjadi ruang pelestarian, festival ini perlahan berubah menjadi kontes kemewahan yang melelahkan, membosankan, dan ironisnya, mematikan esensi aslinya.
1. Budaya “Aksesoris” yang Membunuh Suara
Terjadi pergeseran nilai yang sangat mengkhawatirkan: visual mengalahkan vokal. Dulu, kekuatan arakan sahur terletak pada ritme perkusi yang menggetarkan sukma dan kekompakan suara manusia. Kini, juri dan penonton lebih terpukau pada kelap-kelip lampu LED dan replika naga atau masjid raksasa di atas truk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kita lebih sibuk menilai siapa yang paling cantik dekorasinya, bukan siapa yang paling syahdu bunyinya. Akibatnya, esensi “membangunkan sahur” hilang, berganti menjadi parade karnaval yang bisa dilakukan di bulan apa saja selain Ramadan.
2. Jebakan Biaya: Tradisi yang Menjadi Eksklusif
Mari bicara jujur: ikut festival sekarang sudah tidak murah lagi. Untuk membangun satu mobil hias yang “layak tanding”, sebuah kelompok bisa menghabiskan jutaan hingga puluhan juta rupiah.
- Marginalisasi Komunitas Kecil: Remaja masjid di gang-gang sempit yang hanya punya modal bambu dan tenaga vokal terpaksa mundur teratur. Mereka merasa tidak “level” untuk ikut bersaing.
- Ketergantungan Sponsor: Ketika tradisi butuh modal besar, ia menjadi dependen pada sponsor atau bantuan politik. Kemandirian budaya mati di tangan proposal anggaran.
3. Model yang Membosankan dan Monoton
Jika kita jujur, konsep festival dari tahun ke tahun tampak seperti “fotokopi” yang berulang. Ornamen yang itu-itu saja, rute yang sama, dan kriteria penilaian yang kaku membuat kreativitas terjebak dalam pola yang membosankan. Tidak ada ruang bagi eksperimen bunyi atau teater jalanan yang lebih bermakna. Festival ini telah menjadi rutinitas administratif yang kehilangan daya kejutnya.
4. Pembatasan yang Membelenggu Jiwa Jalanan
Sifat asli arakan sahur adalah liar dan merdeka. Ia adalah seni jalanan (street art) yang menyatu dengan pemukiman. Namun, atas nama “ketertiban” dan “manajemen acara”, festival membatasi rute, membatasi durasi, dan membatasi jumlah peserta.
Pembatasan ini memang rapi secara organisasi, namun membunuh spirit komunal. Arakan sahur tidak lagi menyapa pintu-pintu rumah warga di lorong gelap, melainkan hanya lewat di jalan protokol demi menyenangkan mata para pejabat di panggung kehormatan.
5. Mewah di Kulit, Miskin di Bunyi
Terjadi pergeseran nilai yang fatal dari auditif ke visual. Arakan sahur yang seharusnya merayakan harmoni bunyi—ketukan perkusi dan vokal yang bertenaga—kini kalah telak oleh kilauan lampu LED dan replika raksasa di atas truk. Kita lebih sibuk menilai siapa yang paling cantik dekorasinya, bukan siapa yang paling syahdu suaranya. Akibatnya, esensi utama membangunkan warga untuk ibadah terkikis menjadi sekadar karnaval estetika yang membosankan dan monoton.
6. Siapa yang Salah?
Berikut adalah analisis tajam mengenai pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pergeseran ini:
1. Pemerintah Daerah: Terjebak Penyakit “Eksistensi Visual”
Pihak pertama yang patut disorot adalah penyelenggara atau Pemerintah Daerah.
- Kesalahan: Mereka seringkali lebih mementingkan foto yang bagus untuk laporan dinas atau media sosial daripada kedalaman makna. Ketika kriteria penilaian lebih berat ke “Mobil Hias Terbaik,” secara tidak langsung pemerintah sedang memaksa rakyatnya untuk menjadi kapitalis kecil.
- Akibatnya: Mereka menciptakan standar yang hanya bisa dicapai dengan uang, bukan dengan bakat. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai inklusivitas tradisi.
2. Dewan Juri: Standar yang Dangkal
Juri seringkali terjebak dalam model penilaian yang malas dan monoton.
- Kesalahan: Lebih mudah menilai “kemewahan lampu” daripada menilai “kerumitan ritme perkusi.” Ketika juri memenangkan kelompok yang dekorasinya paling megah (meskipun musiknya standar), mereka sedang mengirim pesan: “Jangan ikut kalau tidak punya modal.”
- Akibatnya: Peserta yang punya skill musik murni akhirnya mundur karena merasa tidak akan pernah menang melawan “uang”.
3. Masyarakat dan Komunitas: Terjangkit Penyakit Gengsi
Kita juga tidak bisa menutup mata dari kesalahan komunitas peserta itu sendiri.
- Kesalahan: Terjadi kompetisi harga diri antar kampung atau antar masjid. Ada rasa malu jika hanya tampil “seadanya”. Semangat lillahi ta’ala membangunkan sahur bergeser menjadi lillahi lomba.
- Akibatnya: Mereka memaksakan diri mencari donatur atau iuran warga secara besar-besaran hanya untuk sebuah parade satu malam. Ini menciptakan kelelahan finansial yang membuat orang kapok untuk ikut lagi di tahun depan.
4. Pergeseran Budaya Instan: Generasi “Visual”
Kita berada di zaman yang ingin hasil instan.
- Kesalahan: Melatih kelompok perkusi butuh waktu berbulan-bulan untuk kompak. Menghias maket dengan lampu LED hanya butuh waktu beberapa hari jika ada uang. Kita lebih memilih jalur cepat yang visualnya wah, namun miskin jiwa.
- Akibatnya: Hilangnya regenerasi seniman musik tradisional. Anak muda sekarang lebih tahu cara memasang kabel LED daripada cara memukul beduk dengan irama yang benar.
7. Mengembalikan Ruh yang Hilang
Jika tidak segera dibenahi, Festival Arakan Sahur akan mati tertimbun bebannya sendiri. Kita butuh langkah konkret: batasi biaya dekorasi, kembalikan bobot nilai pada kualitas bunyi, keluar dari sekat-sekat administratif yang kaku.
Akibat dari kesalahan kolektif ini, yang menanggung bebannya adalah Tradisi itu sendiri. Ketika biaya dekorasi melangit dan aturan makin mencekik, partisipasi masyarakat justru menurun. Orang merasa arakan sahur bukan lagi milik mereka, tapi milik “orang-orang kaya” atau “proyek pemerintah”.
Kesimpulan
Festival Arakan Sahur sedang mengalami obesitas estetika namun kekurangan gizi makna. Jika pemerintah dan pegiat budaya tidak segera merombak konsep ini—dengan mengembalikan fokus pada kualitas bunyi, menekan biaya dekorasi agar inklusif, dan membebaskan kreativitas dari sekat-sekat administratif—maka festival ini hanya akan menjadi “pesta kembang api”: megah sesaat, mahal harganya, namun setelahnya hanya menyisakan asap dan kesunyian.
Kita harus berhenti membunuh tradisi dengan cara menghiasnya terlalu mewah. Arakan sahur tidak butuh panggung megah yang menjauhkan diri dari rakyat; ia hanya butuh ketulusan suara di tengah sunyinya malam, bukan parade lampu yang menguras kantong dan mengabaikan nilai.
Memperbaiki Festival Arakan Sahur bukan berarti menghapus kemeriahannya, melainkan mengembalikan “ruh” sahur kepada pemilik aslinya: masyarakat. Jika festival tetap memuja kemewahan dekorasi yang mahal, maka bersiaplah melihat tradisi ini mati pelan-pelan karena tak lagi terjangkau oleh hati nurani dan kantong warga biasa.**
Penulis : Tim Redaksi
Sumber Berita: Lintastungkal











