Teror Sembako dan Politik Uang, Harus Kita Dihadapi Dengan Akal Sehat dan Waras

Lintas Tungkal

- Redaksi

Sabtu, 30 Desember 2023 - 12:35 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BANTEN – (Sabtu, 30/12/23), Kendati hujan sudah membasahi bumi Indonesia, toh tidak juga mampu mendinginkan suhu politik yang justru semakin memanas mendekati waktu pelaksanaan Pemilu tahun 2024.

Bahkan di berbagai daerah, gelontoran Sembako dan bagi-bagi uang tunai dilakukan secara terbuka, tanpa Tedeng aling-aling misalnya sekedar untuk menjaga etika politik yang sehat dan elegan. Karena itu, teror sembako dan uang yang dibagikan secara terbuka perlu disikapi oleh rakyat secara lebih bijak. Mungkin ada baiknya semua pemberian dan bingkisan itu diterima saja tanpa harus merasa berkewajiban untuk memilih kandidat yang mengirimkan bingkisan itu, baik dalam bentuk sembako maupun uang tunai. Toh, harga beras dan gula misalnya hari ini harus dibeli dengan harga yang terus naik gila-gilaan.

Boleh jadi, baiknya harga bahan makanan pokok itu, karen selalu membuat stok di pasar terkuras, akibat diborong habis oleh para relawan dari Calon kandidat yang hendak mengikuti kontestasi dalam Pemilu 2024. Harga spanduk dan baliho pun ikut meraup kesempatannya yang langka, karena hanya memiliki masa panen besar saat menjelang Pemilu dan Pileg atau Pilkada.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena itu, rakyat pun bisa bersikap lebih cerdas, tak perlu ngotot menolak pembagian sembako maupun uang tunai yang digelontorkan secara terbuka dan terang-terangan itu. Sebab kalau ditolak, toh tidak mengubah sikap politik yang culas itu. Lagian, sebagai rakyat akan lebih baik tidak mencari masalah, hanya gara-gara tak hendak menerima pemberian sembako dan uang sekedarnya itu, akibatnya dapat dimusuhi atau bahkan mendapat teror yang tidak yang justru membuat suasana kebatinan tidak merasa nyaman atau bahkan jadi terancam.

Karenanya, sikap yang lebih bijak adalah menerima saja pembagian sembako dan uang tunai yang diberikan secara suka rela itu dengan tetap bersikap teguh untuk tidak mengubah pilihan kandidat terbaik seperti yang telah menjadi ketetapan hati bagi kita yang terbaik untuk menyelamatkan masa depan bangsa dan negara kita.

Sebab, jika salah dalam menyikapi semua pemberian yang digelontorkan oleh pihak kandidat tertentu itu, konsekuensinya pun kita akan diposisikan sebagai musuh, padahal hak menentukan pilihan itu adalah satu diantara sedikit dari kedaulatan kita yang tersisa.

Sedangkan dengan menerima semua gelontoran beragam bentuk bingkisan dari para pihak kandidat yang hendak bertarung dalam pemilihan itu, toh tidak seorang pun boleh ikut campur dalam menentukan pilihan yang telah menjadi ketetapan hati kita sejak awal.

Agaknya, sikap bijak untuk menerima semua pemberian yang dilakukan dari pihak manapun — untuk mengoyahkan pilihan yang telah menjadi ketetapan hati kita itu, dapat menjadi pelajaran yang baik bagi mereka yang masih percaya bahwa politik uang atau pemberian dalam bentuk yang lain — termasuk janji-janji yang kesungguhannya kosong itu — akan membuat mereka menjadi kapok dan jera, bahwa kita sebagai rakyat hari ini sudah semakin cerdas. Karena, toh tidak memberikan pilihan yang sesuai dengan harapan mereka itu, tidak akan ada sanksi apa-apa yang dapat mereka lakukan terhadap kita.

Teror sembako dan politik uang yang semakin marak dan fulgar dilakukan ini memang cermin dari etika politik kapitalis yang selalu egoistik, mementingkan dirinya sendiri. Maka dengan cara mengambil bingkisan dan uang yang ditebarkan dengan kepongahan itu, rakyat bisa memberi pelajaran yang baik, hanya dengan cara tetap mengambil apa pun pemberian yang mereka bagikan, tapi rakyat tetap memilih sesuai dengan selera dan keyakinan yang telah ditetapkan di dalam hati.

Agaknya, hanya dengan sikap bijak seperti itu, rakyat pun dapat memberi pembelajaran yang baik, agak dikemudian hari tidak lagi mengulang cara berpolitik yang tidak sehat itu.

Jadi akan lebih baik kita ambil saja apapun yang mereka berikan itu, tapi ketetapan hati kita pada pilihan sosok kandidat yang kita anggap paling ideal untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, menjadi pilihan kita tanpa keraguan maupun kesangsian. Sebab kita tetap memiliki akal yang sehat dan waras guna menyelamatkan anak dan cucu kita juga.

Penulis : Jacob Ereste

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Lintastungkal

Follow WhatsApp Channel lintastungkal.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membangun Masa Depan Organisasi yang Unggul melalui Integrasi Tata Kelola, Kinerja, Digitalisasi, dan Kolaborasi Berkelanjutan
Monitoring Kolaborasi dengan Swasta, dan Akuntabilitas: Tiga Kunci Menjaga Pelayanan Publik Tetap Berpihak pada Masyarakat
Selendang Budaya Banyuwangi “Osing”
Privatisasi, Komersialisasi, dan Efisiensi BUMN PT Pelindo: Antara Tuntutan Pasar dan Kepentingan Publik
Transformasi Digital Korporasi Publik: Antara Inovasi Pelayanan dan Tantangan Tata Kelola di Indonesia
Integrasi Transformasi Digital Untuk Keberlanjutan Organisasi
Transformasi Digital pada Perumda Air Minum (PDAM) di Berbagai Daerah di Indonesia Sebagai Wujud Transformasi Digital Korporasi Publik
BLU Impor Minyak: Ketika Negara Lebih Hobi Bikin “Anak Baru” Daripada Urus “Anak Kandung”
Berita ini 114 kali dibaca
KONTEN PROMOSI pada widget diatas merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan oleh pihak ketiga, bukan dari redaksi Lintastungkal.com. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten promosi ini.

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 18:01 WIB

Membangun Masa Depan Organisasi yang Unggul melalui Integrasi Tata Kelola, Kinerja, Digitalisasi, dan Kolaborasi Berkelanjutan

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:21 WIB

Monitoring Kolaborasi dengan Swasta, dan Akuntabilitas: Tiga Kunci Menjaga Pelayanan Publik Tetap Berpihak pada Masyarakat

Minggu, 19 Juli 2026 - 18:46 WIB

Selendang Budaya Banyuwangi “Osing”

Sabtu, 18 Juli 2026 - 06:11 WIB

Privatisasi, Komersialisasi, dan Efisiensi BUMN PT Pelindo: Antara Tuntutan Pasar dan Kepentingan Publik

Jumat, 17 Juli 2026 - 18:25 WIB

Transformasi Digital Korporasi Publik: Antara Inovasi Pelayanan dan Tantangan Tata Kelola di Indonesia

Berita Terbaru

Prof. Zainal Arifin Mochtar, S.H., LL.M. sedang berbicara sebagai pembicara dalam sebuah forum akademik formal yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM). (FOTO : Dok. Istimewa/hukumonline.com)

Republik

Alarm Darurat Demokrasi: Indonesia di Ambang Otoritarianisme?

Minggu, 23 Agu 2026 - 19:13 WIB